Efek Corona, Pertumbuhan Ekonomi Maros Bisa Tambah Drop, kecuali…

Memaknai Data Ekonomi Maros yang Tumbuh Melambat

 Oleh: M Aliem*

Read More

 

BADAN Pusat Statistik (BPS) secara resmi telah merilis angka pertumbuhan ekonomi Kabupaten/Kota se-Sulawesi Selatan, 28 Februari 2020. Dari beberapa kabupaten, ada satu daerah yang cukup menarik perhatian. Yakni angka pertumbuhan ekonomi Kabupaten Maros yang mengalami perlambatan dari 6,19 persen pada 2018 menjadi 1, 24 persen pada 2019.

Secara kasat mata, perlambatan ini akan melahirkan banyak opini di publik. Dan mungkin akan menimbulkan kesan negatif terhadap kinerja pemerintah daerah. Sekilas, data pertumbuhan ekonomi itu menjadi penghakiman buruk bagi jajaran pemerintah daerah.

Namun, sebelum lebih jauh berasumsi, ada baiknya kita melihat lebih dalam tentang makna data tersebut. Apa yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi melambat hingga hanya menyisakan angka 1, 24 persen?

Jika melihat kontribusi dari 17 kategori lapangan usaha dalam perhitungan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), terdapat satu kategori yang cukup dominan. Yakni kategori lapangan usaha Transportasi dan Pergudangan dengan kontribusi sebesar 40,06 persen. Dengan besaran kontribusi tersebut, pergerakan laju pertumbuhan ekonomi sangat terpengaruh akan naik-turunnya penciptaan ekonomi di sektor ini. Naik atau turun sedikit saja bisa menggerakkan laju pertumbuhan ekonomi. Tumbuh lebih cepat, melambat, atau bahkan tumbuh negatif (kontraksi).

Dengan memeriksa satu persatu laju pertumbuhan setiap kategori diperoleh bahwa kategori Transportasi mengalami kontraksi yang cukup dalam. Bahkan kontraksi di kisaran negatif 11, 02 persen. Salah satu penyebabnya dapat ditelusuri dari jumlah penumpang pesawat udara domestik yang mengalami penurunan tajam selama tahun 2019.

Berdasarkan data BPS, jumlah keberangkatan penumpang dari bandara Sultan Hasanuddin sepanjang 2019 turun 20,23 persen dibandingkan tahun 2018.  Jumlah kumulatif keberangkatan (domestik dan internasional) pada tahun 2018 sebanyak 4,39 juta, sementara pada 2019 hanya sebanyak 3,5 juta penumpang. Khusus pada keberangkatan domestik turun hingga 21, 68 persen.  Ini yang menjadi faktor utama terjadinya perlambatan ekonomi di Kabupaten Maros.

Penurunan jumlah penumpang tidak terlepas dari kenaikan harga tiket pesawat yang diberlakukan sepanjang tahun 2019. Tidak hanya sampai di situ, efeknya juga merambat hingga penerapan biaya tambahan untuk bagasi penumpang. Harga tiket pesawat naik, biaya bagasi barang penumpang juga cukup tinggi.  Efek dominonya pun membuat bisnis jasa pengiriman barang terkena imbas. Ongkos pengiriman barang juga mengalami lonjakan.

Dari data-data di atas dapat diketahui jika perlambatan ekonomi Kabupaten Maros tidak lepas dari adanya penurunan jumlah penumpang yang berangkat dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Di mana kategori lapangan usaha transportasi dan pergudangan, khususnya angkutan udara sangat dominan terhadap Angka PDRB yang selanjutnya diturunkan menjadi pertumbuhan ekonomi.

Lalu bagaimana dengan laju pertumbuhan 16 kategori lainnya?

Setelah kategori transportasi dan pergudangan dengan peranan sebesar 40,06 persen terhadap PDRB, kategori lapangan usaha industri pengolahan berada pada posisi kedua dengan kontribusi sebesar 16,40 persen. Sementara kategori lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan memberikan kontribusi sebesar 15, 16 persen, konstruksi memiliki kontribusi 8,28 persen, dan kategori lapangan usaha pertambangan dan penggalian pada posisi kelima dengan kontribusi sebesar 6,82 persen terhadap PDRB Maros.

Laju pertumbuhan tertinggi terjadi pada kategori lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 14,33 persen. Sementara industri pengolahan hanya tumbuh 1,48 persen padahal kontribusinya cukup besar dan menempati urutan kedua. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh di kisaran 5,29 persen. Konstruksi tumbuh 17,74 persen, dan pertambangan  dan penggalian tumbuh 13,27 persen.

Dua kategori lapangan usaha atau produksi memang mengalami pertumbuhan yang cukup rendah. Bahkan terjadi kontraksi pada sektor transportasi yang cukup dalam dan menekan laju pertumbuhan ekonomi. Untuk sektor transportasi angkutan udara memang pemerintah daerah tidak bisa berbuat banyak. Kebijakan harga tiket pesawat berada pada pihak lain, khususnya pemerintah pusat dan pihak maskapai.

Diperkirakan sektor tranportasi khususnya angkutan udara masih akan mengalami goncangan pada semester awal tahun ini. penyebabnya adalah merebaknya ancaman virus corona yang melanda dunia. Imbasnya hingga dunia pariwisata. Beberapa penerbangan ditutup. Tak terkecuali penerbangan primadona ke tanah suci yakni perjalanan umrah.

Untuk itu, pemerintah daerah dapat memaksimalkan sumber pertumbuhan pada sektor lainnya, seperti industri pengolahan, dan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan. Sektor pariwisata pun perlu ditingkatkan lagi. Beberapa destinasi wisata di Kabupaten Maros dapat dikembangkan lebih baik lagi dengan penyelenggaraan event wisata nasional maupun internasional. Tentu saja sembari menunggu redanya dampak virus corona yang membuat perekonomian babak belur. Khususnya di sektor pariwisata. (*)

*ASN di Badan Pusat Statistik

Penulis : | Editor :

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.