Kisah Perawat Pasien Covid-19 di Maros; Pisah Kamar dengan Suami, Peluk Anak pun Tidak

MAROS, MM – Kesabaran tenaga medis betul-betul diuji selama pandemi. Sampai-sampai pelukan anak pun mesti dihindari.

Inilah cerita Sardiana, salah seorang perawat yang bertugas di Puskesmas Lau. Sejauh ini, ia telah menangani 3 pasien positif, 1 PDP, dan 15 ODP.

Read More

Sehari-hari usai bertugas, Sardiana, tak ingin langsung masuk ke rumah. Dia memilih bersih-bersih dahulu di teras. Bahkan, sampai mengganti pakaiannya.

“Saya biasa tinggal-tinggal dulu di luar sekitar 15-30 menit. Sambil bersih-bersih dan ganti pakaian dengan memakai sarung,” ungkapnya, Senin, 27 April 2020.

Itu dilakukannya demi menjaga keluarganya terpapar virus. Ia merasa khawatir kalau saja orang-orang di sekitarnya justru terpapar virus lewat dirinya.

“Saya kan juga tidak tahu. Termasuk dengan teman. Makanya saya yang biasa minta jaga jarak. Jangan terlalu dekat,” imbuhnya.

Namun, menurutnya, memang seperti itulah risiko menjadi garda terdepan menangani Covid-19. Interaksi dengan keluarga pun mesti dibatasi.

“Biasa kan kalau saya pulang, anak saya yang empat tahun itu langsung mau memeluk. Saya bilang jangan dulu. Sekarang kondisinya beda,” ujar Sardiana.

Bahkan, sejak Maret, ia mengaku sudah pisah kamar dengan suaminya. Ana, sapaan karib, Sardiana memilih tidur di dekat dapur. Ada ruangan yang tidak terpakai.

“Nanti, setelah rapid test awal April lalu, hasilnya negatif, baru suami mau dekat-dekat lagi,” ujarnya sambil tertawa.

Selama pandemi, ia pun menahan diri untuk tak bersua dengan orang tuanya di Bantimurung. Ana khawatir melihat usia orang tuanya yang lebih rentan terkena virus.

“Ibu itu menangis pas saya mau rapid test. Pas tahu hasilnya negatif, dia bilang mau puasa satu hari besoknya,” ujar warga Maros Regency ini.

Selain bercerita soal keluarganya, Ana juga berbagi pengalaman soal kendalanya selama bertugas di lapangan. Ketua Tim Gerak Cepat Tanggap Covid-19 Lau ini mengaku telah menghadapi warga yang menentang hasil pemeriksaannya.

“Ada pasien yang tidak menerima kalau dirinya positif. Dia bilang hoaks itu. Makanya, kita edukasi. Saya bilang ke masyarakat, ini bukan penyakit seumur hidup. Bisa sembuh asal mengikuti anjuran pemerintah,” tuturnya.

Karenanya, Ana meminta keluarga dan masyarakat sekitar ikut mendukung kesembuhan pasien. Jangan malah dikucilkan.

“Yah, kita berharaplah semoga wabah ini cepat selesai. Sehingga kita bisa kembali beraktivitas seperti sebelumnya,” tuturnya. (mal)

Penulis : | Editor :

Related posts