Perjuangan WNI Asal Sulsel yang Covid-19 di Italia; Balitanya Juga Positif

Ini kisah seorang saudara di Italia, negeri yang sebelumnya jadi destinasi impian banyak orang untuk liburan; berburu mode, pertandingan sepak bola, dan spot pariwisata dunia, tetapi kini mencekam karena corona.

Oleh Imam Dzulkifli

Read More

SAAT tulisan ini mulai diketik, pukul 11.01 Wita, Selasa, 28 April 2020, tercatat sudah 199 ribu orang yang positif Covid-19 di negara itu. Banyak yang sembuh; 66.624 orang. Namun yang meninggal juga tidak sedikit; 26.977 orang.

Di antara yang 199 ribu orang itu, termasuklah Kasrina Syamsari, perempuan asal Pinrang, Sulsel. Mantan public relation di Aryaduta Hotel, Makassar, itu baru saja berulang tahun yang ke-32 pada 22 April lalu.

Karin, sapaan karibnya, kini tinggal di Pavia, Italia. Katanya, kalau dari Kota Milan yang terkenal dengan fashion dan klub sepak bolanya itu, kita masih harus naik kereta 30 menit. Tidak begitu jauh. Makanya banyak juga warga Milan yang dibawa ke Pavia untuk pengobatan corona karena di tempat asalnya rumah sakit penuh.

Pasien Covid-19 dari Lombardia juga mesti dilarikan sebagian ke kota tempat Karin tinggal. Lombardia tercatat sebagai wilayah yang paling parah terjangkit virus. Sudah 72.889 orang yang positif dan 13.325 orang di antaranya meninggal. Separuh dari total korban wabah mengerikan ini di Italia.

Makanya, sejak bulan lalu Karin sudah bersiap dengan segala kemungkinan. Dia sudah punya dugaan cepat atau lambat bakal ikut terinfeksi, melihat begitu cepatnya gelombang wabah di sana.

Rumah Karin sebenarnya tidak di Italia. Tetapi di Belgrade, Serbia. Dia ke Pavia karena menemani putra semata wayangnya, Andrej, menjalani pemulihan kanker. Sejak lahir, buah hatinya dengan Branislav, warga negara Serbia, itu divonis menderita leukemia. Cobaan berat pertama wanita Bugis itu di Eropa.

Di Pavia, ada tempat khusus bagi anak-anak penyintas kanker. Mereka dan orang tua mereka tinggal di sebuah rumah. Tempat berbagi cerita dan saling menyemangati. Karin kerap menceritakan sisi lucu dari ibu-ibu yang berasal dari berbagai negara itu lewat Facebook dan Instagram. Mereka sudah seperti keluarga. Bukan gen yang menyatukan, tetapi ujian dan senasib seperjuangan.

Semua berubah ketika pada pekan kedua Maret, salah satu dari anak itu merasa ada yang aneh pada tenggorokan dan hidungnya. Awalnya dicurigai infeksi biasa. Sebab cuaca di Pavia memang cukup ekstrem. Terik dan dingin berlebihan bisa datang dalam jeda yang singkat.

Tetapi prediksi mereka meleset. Anak tersebut dinyatakan terinfeksi Covid-19. Semua orang di rumah pemulihan itu menjadi cemas. Khawatir yang sebenarnya lebih tertuju pada kondisi anak-anak mereka sebab seluruhnya selalu kontak dengan anak yang positif itu.

Andrej (kanan bawah) bersama teman-temannya sesama penyintas kanker. Mereka tinggal seatap di Pavia. (FOTO: DOK KASRINA SYAMSARI)

“Layaknya orang serumah, mereka kadang makan dan main bersama,” kata Karin kepada saya yang mewakili MataMaros.com via pesan Instagram, pagi tadi selepas sahur waktu Indonesia.

Selasa, 31 Maret 2020, lanjut Karin, seluruh penghuni rumah berinisiatif melakukan pembersihan tanpa terkecuali. Sudut ruangan, mainan, meja, kursi, sofa, dan semuanya dicuci dengan sabun dan disemprot disinfektan. Kamar masing-masing juga dibuat sesteril mungkin.

Sesi kumpul-kumpul juga ditiadakan sementara. Semua anak tinggal di kamar. Hanya ibu mereka yang ke dapur untuk memasak.

“Nah yang kasihan itu Baby A karena harus saya tinggal di kamar sendirian. Alhasil nangis ngarru, Gaes. Tak seorang pun yang datang membantu untuk menenangkan Baby A. Wajarlah karena mana tahu Baby A juga positif,” ucap Karin.

Baby A adalah inisial lain yang dipakai Karin untuk menyebut Andrej, anak berumur 21 bulan yang selalu membuat dia menitikkan air mata jika mengingat perjuangannya melawan kanker darah. Meski Andrej sendiri tampak biasa saja karena memang belum paham apa yang menimpa dirinya.

Beberapa hari lalu, Karin mengunggah video Andrej begitu doyan makan keripik tempe, makanan paling merakyat di negeri asal ibunya. Kiriman petugas Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Pihak yang akhirnya tahu ada WNI yang butuh diperhatikan juga di Pavia.

Rabu, 1 April 2020, hasil tes swab semua penghuni rumah keluar. Sangat menggembirakan karena 99 persen negatif. Satu persen sisanya adalah seorang ibu di sana, yang anaknya negatif. Namun sang anak harus tetap ikut ibunya ke rumah sakit.

Di rumah, tim dokter memberi tahu bahwa akan dilakukan tes swab kedua, Jumat, 3 April 2020. Para penghuni pun melalui dua hari itu dalam keheningan. Mereka diisolasi total.

Hari Sabtu, hasil lab tuntas. Karin dan Andrej termasuk dari 99 persen penghuni yang dinyatakan positif terinfeksi corona. “Kami diberi waktu satu jam untuk packing segala kebutuhan kami di RS nanti,” tuturnya.

Itu cobaan berat kedua Karin di benua biru. Kita yang jauh ini pasti membayangkan Karin sudah sangat tertekan. Dia dan bayinya Covid-19. Padahal, mereka berada di Italia juga bukan hendak pelesiran, melainkan untuk pengobatan penyakit yang tak kalah mengkhawatirkan; kanker. Si balita blasteran Belgrade-Pinrang itu berjuang keras untuk sembuh.

Tetapi Karin meyakinkan kita semua lewat MataMaros.com, bahwa dia tenang menghadapi semua ini. Saat menulis kabar di Facebook siang ini atau dini hari waktu Italia, dia baru saja selesai sahur.

Karin kuat. Karin sangat kuat. Dia juga yang bahkan menguatkan bapak, ibu, kakak, nenek, dan semua keluarganya di Pinrang. Karin rutin mengabari mereka. Mereka bertemu di ruang panggilan video.

“Mamaku nangis. Bapak tidak tetapi matanya berkaca-kaca, laki-laki kan kuat tidak boleh nangis,” katanya.

Saya yang menulis dialog ini juga berkaca-kaca. Saya membayangkan kondisi Karin di negeri orang. Jauh dari Pinrang, tempat keluarga besarnya menanti perkembangannya dengan cemas. Jauh dari Branislav, suami tercinta yang menetap di Belgrade. Mereka sempat bertemu Januari lalu, sebelum Italia memberlakukan lockdown. Lelaki tinggi besar itu menginap sepekan. Melepas rindu yang meluap-luap kepada istri dan anaknya yang sedang dalam perjuangan besar. Dan kini, perjuangan bertambah.

Karin dan Andrej saat dikunjungi Branislav, Januari lalu. Mereka keluarga kecil yang tangguh. (FOTO: DOK/KASRINA SYAMSARI)

Karin hanya memohon doa kita semua. Besok, waktunya kontrol dan tes swab lanjutan. “Semoga sudah negatif,” harapnya. Hanya hasil itu yang bisa membuatnya pulang ke rumah pemulihan, melanjutkan perjuangan menemani sang buah hati sembuh dari leukemia.

Doa Karin sebaiknya menjadi bagian dari teks doa kita semua juga, mulai sekarang. Itu hal terbaik dan terpenting yang bisa kita kirimkan untuk seorang saudara, juga balita lucunya; Andrej si anak tangguh. “Alhamdulillah kuat ini anak. Berkat darah Bugis,” kata ibunya. (*/Bersambung)

Penulis : | Editor :

Related posts