Pasangan Ini Bagi Takjil Setiap Hari: “Kami Tidak Kaya, Tuhan yang Kasih Jalan”

Saat ekonomi lagi lesu-lesunya, masih ada warga yang sempat berbagi. Secara kelompok atau kelembagaan cukup marak. Nah, yang ini pakai dana pribadi.

LAPORAN:
Fahril Muhammad

Read More

ADALAH pasangan suami istri (pasutri) Ali Ismail-Emi H Dollah yang melakukannya. Setiap sore selama Ramadan ini, mereka duduk di depan kiosnya, Jl Bambu Runcing, Kassi, Turikale, Maros. Menjaga tumpukan-tumpukan takjil untuk dibagikan kepada siapa saja yang butuh.

Paket makanan berbuka puasa disiapkan mulai pukul 16.30 sore. Kebanyakan yang menerima merupakan warga sekitar. Tetapi Emi juga sesekali berdiri menyodorakannya ke pengguna jalan.

Berbagi takjil ini sudah dilaksanakan sejak hari pertama puasa. Awalnya cuma 40-50 bungkus. Namun, lama-kelamaan bertambah terus jumlahnya.

“Alhamdulillah. Hari ini 100 takjil,” kata Emi saat berbincang-bincang bersama MataMaros.com, Sabtu, 2 Mei 2020.

Di hari-hari sebelumnya, sebenarnya takjil dibikin sendiri. Namun, Emi merasa kecapaian kali ini. Karenanya, dia memilih pesan makanan saja.

“Supaya tidak berhenti, saya pesan katering,” kata ibu tujuh anak ini.

Ia pun memperlihatkan isi takjilnya. Nasi dengan lauk-pauk ayam, telur, sayur, dan mi goreng. Emi enggan menyebut harganya. Namun, jika diestimasikan, biaya katering seperti itu berkisar Rp20.000 per porsinya.

Takjil yang lengkap dengan nasi itu kali pertama. Sebelumnya, takjil yang dibagikan berisi lauk saja, seperti ikan bakar, tahu, dan tempe. Lengkap dengan sambal serta acarnya.

“Diganti-ganti. Ini terbagi habis tiap hari. Biasa lagi masih ada yang mau,” ungkapnya lalu tertawa kecil.

Supaya tidak kecewa, bagi warga yang masih mau takjil, biasanya diberi kurma. Tetap ada yang dibawa pulang.

Berbagi takjil seperti ini merupakan tahun pertama. Tahun-tahun sebelumnya, Ismail dan Emi menggelar buka puasa bersama di rumah dengan mengundang warga.

“Cuma, ada imbauan pemerintah dilarang berkumpul banyak. Jadi, kami ganti dengan seperti ini. Tidak bagus terlewatkan. Lain-lain rasanya,” tuturnya.

Ia bercerita, tiap tahun ada ratusan orang yang menghadiri buka puasa tersebut. Makanya, bahan makanan yang disiapkan pun mesti dalam jumlah yang besar.

“Daging 65 kilogram. Biasa juga sekali potong satu ekor sapi, kan 100 kilo lebih. Beras 80 liter. Itu semua habis,” ungkap Emi.

Kalau pun tidak habis, katanya, tetap dibagi-bagi ke warga dalam bentuk bungkusan makanan. “Pokoknya harus habis,” ucapnya.

Ia bersyukur agenda seperti itu bisa digelar tiap tahun. Serta terawat selama puluhan tahun. “Makanya tahun ini terasa lain sekali. Jadi kita ganti dengan bagi-bagi takjil,” katanya.

Ada yang beranggapan kalau aksinya tersebut disponsori partai. “Kami jawab tidak ada partai di sini. Uang sendiri,” ujarnya sambil tertawa lagi.

Kalau dipikir-pikir, menurutnya, memang sebenarnya tidak bisa . Apalagi dalam kondisi di tengah wabah seperti ini. Semua orang merasakan dampaknya.

“Bukan jaki juga orang kaya. Tetapi ada saja jalan yang na kasi ki Tuhan untuk berbagi. Selama masih ada kemauan,” tuturnya. (*)

Penulis : | Editor :

Related posts