Kasus Kekerasan Seksual Hantui Anak di Maros

MAROS, MM – Kekerasan seksual pada anak masih menghantui di Maros. Kasusnya memang mendominasi di dua tahun terakhir. Memasuki 2020 juga demikian.

Pada 2018, tercatat 6 kasus dari di antara 20 kasus anak di Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Maros. Kemudian, 2019 meningkat menjadi 8 kasus dari total 18 kasus. Sementara tahun ini, sudah ada 4 kasus dari 10 kasus anak dalam rentan waktu Januari-April.

Read More

Kepala Dinas PPPA Maros, Idrus, menyebutkan, dari 4 kasus tersebut, 3 di antaranya terjadi di Mandai. Kasus lainnya di Turikale.

“Rata-rata modusnya diancam dibunuh, termasuk yang di Mandai baru-baru ini. Bahkan, ada juga kasus dengan ancaman bapaknya yang akan dibunuh,” ungkap Idrus di ruang kerjanya, Rabu, 6 Mei 2020.

Kebanyakan, kata dia, pelakunya justru merupakan orang-orang terdekat anak. Bahkan, kadang anggota rumah tangganya sendiri. “Kerabat terdekat, kakek, bapak tiri, bahkan bapak kandung,” sebutnya.

Karenanya, kadang kasus kekerasan seksual pada anak kadang juga tak dilaporkan. “Biasa kalau bapak kandung pelakunya, ibunya tidak melaporkan karena dianggap aib,” kata Idrus.

Kasus kekerasan seksual anak yang belum lama ini terjadi di Mandai misalnya, pihak keluarga enggan melaporkan. Justru kasusnya dilaporkan ibu RT setempat.

Lantaran kasus kekerasan seksual anak sudah mendominasi di Maros, menurut Idrus, perlu pendidikan seksual secara dini di sekolah. Apalagi yang rentan terkena memang usia 11-16 tahun.

“Kita edukasi ke anak-anak kalau bagian tubuh tertentu tidak bisa diperlihatkan, disentuh, dan dipegang. Karena menurut anak, memang kalau disentuh dan dibelai artinya disayang. Tetapi ini kan berbahaya,” ujarnya. (mal)

Penulis : | Editor :

Related posts