Wahidin Arfah, Satpol-PP Teladan Itu Pergi Begitu Cepat

MAROS, MM – Sosok yang ramah dan penolong itu telah tiada. Wahidin Arfah pergi menyisakan duka mendalam. Tak hanya bagi keluarga, kerabat dan pimpinannya pun merasa sangat kehilangan.

Iddink, sapaan karibnya, meninggal dunia pada usia 32 tahun, Minggu malam, 10 Mei 2020. Sehari-hari ia bertugas sebagai anggota Dalmas Satpol-PP Pemkab Maros.

Read More

Namun, ia bukan abdi biasa. Iddink dikenal sebagai sosok yang sering membantu, baik di lingkungan rumahnya di Bambu Runcing Kassi, maupun di tempat ia bekerja.

Kepergiannya pun membuat banyak yang merasa sangat kehilangan. Sejak malam tadi, dinding Facebook-nya tak henti dibanjiri ucapan duka.

Fatimah, tante Iddink, mengungkapkan, keponakannya itu merupakan sosok yang terbaik di dalam keluarga. Selalu ramah dan mau membantu siapa saja.

“Dia justru selalu menyodorkan bantuan lebih dulu, sebelum orang memintanya,” ungkapnya di rumah duka, Senin, 15 Mei.

Menurut Fatimah, Iddink juga selalu ikhlas mengerjakan sesuatu. Tak mengharap imbalan apapun usai menolong.

“Tidak pernah mengeluh anaknya. Makanya, kami sangat kehilangan,” tuturnya sesengguk-sengguk.

Kepergiaan Iddink terbilang mendadak. Sore harinya, ia masih sempat mengerjakan salah satu bagian rumah, lalu membeli menu buka puasa untuk keluarganya.

Kemudian, setelah buka puasa bersama di rumah, ia masih sempat ke masjid mengikuti salat berjemaah.

Sepulang dari masjid, Iddink lalu menyantap makan malam. Tak lama kemudian, setelah itulah ajal menjemputnya.

“Dia cuma sempat bilang kekenyangan. Setelah itu baring-baring di bawah (kolong) rumah. Medisnya, mungkin pembuluh darahnya pecah karena tubuhnya membiru,” ungkap Fatimah.

Lurah Pettuadae, A Iskandar Zulkarnain Assagaf juga mengaku terkejut. Sebab beberapa jam sebelum meninggal, Iddink masih berkomentar di salah satu status Facebook-nya dengan penuh canda.

“Tetapi beberapa hari sebelumnya, adinda Iddink sempat mengatakan sesuatu. Dia bilang ‘Pak Lurah, pastikan mamaku didata di’. Ternyata itu salah satu tanda dia sudah akan pergi,” bebernya.

Di mata pimpinannya, Iddink juga merupakan andalan. Ia selalu turun di setiap kegiatan.

“Hampir tiap malam di kantor. Paling rajin turun kalau ada operasi,” ungkap Erhan Haris, Sekretaris Sapol PP Maros.

Bahkan, ia menyebut Iddink bisa menjadi panutan di kantor. “Anaknya rajin. Cepat bergerak. Tidak pernah membantah. Makanya kami juga merasa sangat kehilangan,” tuturnya.

Erhan pun mengungkapkan, Iddink merupakan tulang punggung di keluarganya. “Makanya kita mau cari cara supaya keluarganya juga kita bisa bantu ke depan,” katanya. (fik)

Penulis : | Editor :

Related posts