HPPMI Tompobulu Kecewa Bupati Marahi Petugas Portal Pencegahan Covid-19

MAROS, MM – Aksi Bupati Maros, Hatta Rahman, mendebat penjaga portal pencegahan penularan virus corona di Tompobulu, menuai reaksi. Protes datang dari Himpunan Pemuda Pelajar Mahasiswa Indonesia (HPPMI) Maros Komisariat Tompobulu.

Ketua HPPMI Tompobulu, Yogi Pratama menilai, Hatta saat itu sedang tidak menunjukkan sikap semestinya sebagai seorang pemimpin.

Read More

“Seharusnya tidak memaki. Bagi kami, itu sikap arogan. Tidak menghargai upaya pemerintah setempat termasuk warga serta pemuda untuk pencegahan Covid-19,” ujar Yogi, Rabu, 13 Mei 2020.

Jika memang bilik disinfektan yang disediakan pemerintah setempat belakangan tidak direkomendasikan otoritas kesehatan, imbuhnya, harusnya Hatta bisa menyampaikan dengan lembut.

“Upaya pemerintah desa dan warga alhamdulillah terbukti efektif. Termasuk dengan penempatan portal di akses masuk. Hingga hari ini belum ada pasien positif dari Tompobulu,” sergahnya.

Sebelumnya beredar video amatir Bupati Maros, Hatta Rahman, menegur warga penjaga portal di Desa Tompobulu, Kecamatan Tompobulu. Ia melarang penggunaan bilik disinfektan dan penutupan jalan tanpa izin. Kejadiannya pada Sabtu, 9 Mei 2020.

Video berdurasi 2 menit 50 detik itu memperlihatkan Hatta turun dari mobilnya. Lalu menegur warga yang menjaga portal. Ia terdengar menantang warga menjelaskan mengapa cairan disinfektan masih dipakai untuk menyemprot orang. Padahal, itu sudah dilarang.

“Ini untuk benda mati. Tidak boleh lagi ada seperti ini,” kata Hatta dalam potongan video tersebut.

Saat dikonfirmasi, Hatta menjelaskan, dirinya sedang menuju Desa Bonto Manai, Kecamatan Tompobulu waktu itu. Dia ingin menyerahkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Desa.

“Mereka wajibkan tiap orang yang lewat, masuk bilik disinfektan. Tapi kita kan sudah sampaikan kalau menurut WHO disinfektan itu untuk benda mati,” katanya.

Kemudian, kata dia, warga juga menutup jalan. Padahal, jalan tersebut merupakan akses ke empat desa.

“Saya suruh buka semua. Kalau cuma satu desa bolehlah. Tapi kalau ada desa lagi setelah itu? Kan tidak semua orang mau lewat situ, mau ke desanya itu, Tompobulu,” jelas Hatta. (kar)

Penulis : | Editor :

Related posts