Kisah Pilu Kakek Salam; Sebatang Kara di Tengah Empang

MAROS, MM – Malang betul nasib Kakek Abdul Salam. Di usianya yang sudah renta seperti itu, ia mestinya hidup berkumpul bersama keluarga. Tetapi malah menjauh dan memilih hidup sendiri.

Salam tinggal di tengah-tengah empang yang berada di Dusun Lalang Tedong, Desa Ampekale, Kecamatan Bontoa. Ia mendirikan sebuah gubuk di sana.

Read More

Lokasinya berjarak dua kilometer dari pusat perkampungan. MataMaros.com juga sempat mengunjunginya, Rabu, 28 Mei 2020.

Untuk menjangkaunya, tak ada pilihan lain selain berjalan kaki di pematang empang. Butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai di gubuk berukuran 4×4 meter tersebut.

Lumayan melelahkan. Namun, ternyata jarak sejauh itu hampir tiap hari pula ditempuh oleh Salam.

Ia keluar untuk sekadar mencari makan. Satu-satunya jalan untuk bertahan hidup ialah dengan meminta bantuan ke penduduk lain.

Salam ternyata punya alasan sendiri memilih hidup seperti itu. Ia tak ingin merepotkan keluarganya yang juga dirundung hidup susah.

“Saya tidak mau ikut tinggal sama mereka karena anakku miskin semua juga kasihan,” ungkapnya, Rabu, 27 Mei 2020.

Hingga akhirnya, ia memutuskan untuk membangun gubuknya dua tahun lalu. Sebelumnya, ia sempat mengadu nasib ke Kendari selama 10 tahun. Bahkan, Salam sudah tercatat menjadi penduduk di sana.

“Saya lama di Kendari. Kerja sebagai nelayan,” kata lelaki berumur 77 tahun itu.

Di Lalang Tedong, Salam sebenarnya memiliki seorang istri dan dua orang anak. Namun, sebelum ke Kendari, mereka sudah berpisah. “Anakku ji yang biasa jenguk ke sini,” ujar Salam.

Kepala Dusun Lalang Tedong, Usman Abdi, mengatakan, dirinya tengah mengupayakan agar Salam juga bisa terdaftar menjadi penerima bantuan sosial. Namun, sampai sekarang masih terkendala administrasi kependudukan.

“KTP-nya Kendari. Makanya kita urus di Disdukcapil untuk menarik data kependudukannya dari Kendari ke sini. Supaya bisa dapat bantuan juga kasihan,” katanya. (mal)

Penulis : | Editor :

Related posts