Kisah Unik Pengembang Properti dari Maros; Pagi Wisuda Insinyur, Siang Wisuda Magister

Abdu Salam mengikuti wisuda virtual dari ruang tamu vila yang sedang dikembangkannya di Tanralili, Maros. (FOTO: MATAMAROS.COM)

Abdul Salam termasuk yang meyakini bahwa selalu ada hikmah di balik semua peristiwa. Bahkan pada hal-hal yang sebenarnya kurang mengenakkan sekalipun.

SIAPA sangka keterlambatannya menyelesaikan studi strata dua (S2) justru berbuah sejarah. Sabtu, 4 Juli 2020, pria 44 tahun itu menjalani dua kali wisuda dalam satu hari! Pagi hingga siang wisuda program insinyur dari Fakultas Teknik Industri UMI. Siang hingga sore wisuda magister dari Fakultas Hukum UMI.

Read More

Andai owner perusahaan properti PT Sanusi Karsa Tama itu menyelesaikan magisternya tepat waktu, tidak akan ada momen spesial hari ini.

Salam mengambil program S2-nya pada 2010. Tetapi kesibukan sebagai aparatur sipil negara (ASN) membuatnya tak bisa fokus kuliah. Apalagi pada 2013 dia mesti mengikuti Diklat Kepemimpinan (PIM) Tingkat IV, semakin sulitlah dia menjejakkan kaki di kampus.

Salam pun sudah pasrah dan tak lagi berharap bisa menyelesaikan pendidikannya. Apalagi ketika 2015 rutinitasnya bertambah. Salam merintis usaha di bidang properti dengan membangun beberapa perumahan di Maros. Dimulai dari Bumi Salam Sejahtera (BSS) 1 di Moncongloe, BSS 2 di Moncongloe, BSS Land Mandai di Kariango, dan terbaru BSS Bukit Indah Kapuk di Tanralili.

Tetapi suatu hari pada 2019, seorang teman angkatannya menelepon. “Kata dia, masih ada harapan untuk selesai,” kenangnya.

Salam pun kembali menyisihkan waktu untuk kuliah, hingga proses perampungan tesis. Sembari memantau proses perataan tanah di lokasi perumahan misalnya, dia bisa sambil mengetik.

Akhirnya hari ini harapan itu benar-benar terwujud. Dia diwisuda sebagai magister hukum, hanya berselang beberapa jam setelah wisuda insinyurnya. Kini penulisan namanya menjadi Ir H Abdul Salam HS, S.Si.T, MH.

“Inilah hikmahnya. Rasa-rasanya baru kali ini saya mendengar ada orang yang diwisuda dua kali hanya dalam sehari. Dan, alhamdulillah orang itu adalah saya. Padahal sudah sempat pasrah tidak lulus,” ujar Salam, tertawa, usai wisuda virtual yang dia ikuti dari vilanya di Bukit Indah Kapuk, Desa Purna Karya, Kecamatan Tanralili, Kabupaten Maros.

Salam mengenakan pakaian wisudawan lalu duduk di sofa ruang tamu vilanya. Ruangan dengan dua guci besar dan enam pot bunga plastik. Didampingi sang istri, Nuraeni, mereka mengikuti semua prosesi acara dari layar komputer desktop merek Lenovo.

Ini untuk pertama kalinya juga MataMaros.com melihat wisuda yang begitu rileks suasananya. Jika selama ini wisuda di gedung gerak peserta begitu terbatas, kali ini sangatlah leluasa.

Di tengah prosesi itu misalnya, paket puding pesanan Nuraeni tiba dan langsung dicicipi. Salam juga bisa sekaligus menerima tamu, seorang teman lamanya. Nostalgia berlangsung di sela pengumuman nama-nama wisudawan.

Tetapi semua itu berubah haru ketika sudah di agenda puncak. Nuraeni yang “menggantikan” peran rektor, memindahkan tali toga sang suami dari kiri ke kanan. Itu juga momen bersejarah bagi sang istri. Nuraeni tak pernah membayangkan suatu hari akan “mewisuda” kekasih hatinya itu. Dua kali pula dalam sehari.

Di sesi itu, Salam tak menitikkan air mata. Namun cairan bening terlihat membasahi pipinya begitu seorang wisudawati menyanyikan lagu “Bunda” dari audiotorium UMI. Pilihan para kameramen menyorot beberapa wisudawan yang hadir di lokasi dan memeluk orang tua masing-masing kian menyudutkan Salam dalam gejolak perasaan.

“Saya teringat almarhum bapak dan almarhumah ibu,” tutur Salam ketika MataMaros.com menanyakan perubahan mimiknya padahal acara inti sebenarnya sudah selesai. Salam menatap laptop sambil tersedu-sedu.

Nyaris Menyerah

Andai bukan karena dorongan ibunya, Hajja Halija, tidak akan ada dua kali wisuda untuk Salam hari ini. Termasuk tidak akan ada wisuda D4 (setara S1) untuk ilmu pelayaran pada tahun 2000.

Waktu itu Salam sudah hampir menyerah. Dia tidak kuat dengan tempaan di Politeknik Ilmu Pelayaran Makassar yang dianggapnya begitu keras.

“Saya bilang sudah tidak sanggup,” kisahnya.

Bapaknya, Haji Sanusi setuju. Baginya, jika si anak memang tak bisa melanjutkan, tidak boleh dipaksakan. Namun ibunya tak sependapat.

“Kata ibu, kamu satu-satunya laki-laki di keluarga yang duduk di bangku kuliah. Pokoknya harus selesai,” ucap Salam, mengingat-ingat. Dia punya delapan saudara.

Maka dengan dukungan dan doa ibunya, Salam akhirnya bisa saji sarjana pada 2000.

Bahkan kini saat ibunya sudah tiada pun, Salam berjanji akan terus kuliah. Salam tak bisa lupa ketika sang ibu menangis memeluknya, memberi energi agar kembali bersemangat menempuh pendidikan.

Setelah S2 ini, dia akan mengambil lagi program doktor. Apalagi, teman kecilnya di Lappariaja, Bone, Zakir Sabara Haji Wata, Dekan FTI UMI Makassar terus mengingatkan agar Salam tak berhenti sampai magister saja.

Momen Unik

Salam merasa selalu dinaungi keberuntungan dalam menyelesaikan pendidikan. Dia menyebutnya sebagai kasih sayang Tuhan. Selalu saja ada kemudahan yang dia dapat di tengah situasi genting. Dan, selalu ada momentum unik.

Pada 1992, saat ujian akhir SMP, untuk pertama kalinya waktu itu lembar jawaban ujian menggunakan kertas komputer. Hasilnya, ada banyak siswa yang tak lulus. Di SMPN Ujung Lamuru (kini SMPN 1 Lappariaja) tempatnya bersekolah, ada 180-an siswa yang gagal. Lebih banyak daripada yang lulus, 160-an. Salam satu di antaranya.

Tiga tahun kemudian, saat hendak daftar kuliah di Badan Pendidikan dan Latihan Pelayaran (BPLP), Salam juga beruntung karena menjadi angkatan pertama perubahan lembaga pendidikan tersebut menjadi Politeknik Ilmu Pelayaran Makassar. Ijazahnya kelak pun sudah D4, setara S1. Padahal sebelumnya hanya D3.

Momentum juga terjadi saat sudah tiba waktunya wisuda. Salam selesai tepat tahun 2000. Dia dan rekan-rekannya pun dijuluki angkatan milenium.

Dan tak kalah spesialnya tahun ini, selain dua kali wisuda dalam sehari, Salam juga mencatatkan diri dalam sejarah sebagai salah satu wisudawan di masa pandemi Covid-19. Wisuda dia ikuti dari dalam rumah, bukan di gedung. Prosesi memindahkan tali toga tak dilakukan rektor, melainkan sang istri.

Namun bagi Salam, sekali lagi, itu semua ada hikmahnya. “Saya wisuda dari vila pertama perumahan Bukit Indah Kapuk yang sedang saya perjuangkan. Itu peristiwa yang sangat layak dikenang,” tuturnya.

Saat acara wisuda selesai, Salam duduk lega di teras vilanya. Memandangi alam, mengucap syukur atas segala karunia yang Tuhan berikan. Dia bahkan baru sempat melakukan makan siangnya jelang petang. Saking asyiknya dalam kejadian penting yang sebelumnya pun dia tak pernah bayangkan;

Diwisuda dua kali dalam sehari di tengah pandemi, di samping istri tercinta.

Satu lagi, hari wisudanya bersamaan dengan hari jadi ke-61 Kabupaten Maros, daerah tempatnya kini mengabdi. Menyediakan rumah-rumah subsidi untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Dalam lima tahun dia sudah membangun lebih dari 2.000 hunian. Kini Salam sedang menyiapkan destinasi wisata baru di Tanralili. Targetnya sebelum kalender berganti, minimal sudah ada beberapa spot yang rampung; salah satunya tempat pemancingan.

“Mudah-mudahan pandemi cepat berlalu dan kita semua bisa menikmatinya,” harap Salam. (imam dzulkifli)

Penulis : | Editor :

Related posts