Energi Terbarukan yang Menghindarkan Masyarakat dari Sakit di Jantung dan Dompet

Andi Hilmy Mutawakkil di pabrik biodiesel Genoil. (FOTO: IST)

Di tangan anak-anak muda ini, sumber energi tak datang dari perut bumi. Tetapi dari perut wajan penggorengan ibu-ibu di dapur.    

***

Read More

BIODIESEl sesungguhnya bukan hal baru bagi pemenuhan energi di negeri ini. Tetapi apa yang dilakukan Andi Hilmy Mutawakkil dan kawan-kawan di Makassar layak mendapat perhatian dan sorot kamera.

Bukan saja lingkungan yang menjadi lebih terjaga, namun juga dompet banyak orang. Ibu-ibu rumah tangga menjadi punya penghasilan, para nelayan bisa menghemat biaya operasionalnya, puluhan preman dibuat “insaf”.

Hilmy bersama lima teman; Ahmad Samawi, Achmad Fauzy Ashari, Rian Hadyan Hakim, Jonathan Akbar, dan Fauzy Ihza Mahendra mendirikan Genoil. Badan usaha yang fokus memproduksi biodiesel dari minyak bekas atau jelantah.

Sudah lima tahun Genoil berkiprah dan tak ada yang bisa meragukan komitmen mereka dalam berinovasi. Deretan piala dan piagam cukup menjadi bukti.

Tetapi jauh lebih penting dari itu, kehadiran mereka melahirkan ekosistem ekonomi baru. Sebab, energi terbarukan yang mereka hasilkan berbasis masyarakat lokal.

Minyak-minyak jelantah itu didatangkan dari dapur ibu-ibu. Sisa-sisa penggorengan diangkut dengan jeriken oleh para pekerja Genoil. Hal yang sebelumnya tak pernah terbayangkan. Minyak berwarna hitam (mungkin karena ikan, telur, atau apa saja yang digoreng) yang selama ini dibuang ke got dan menjadi limbah merepotkan bagi alam, kini ada yang beli.

Dan tahukah Anda, para pekerja yang mengumpulkan minyak jelantah itu tidak direkrut dengan persyaratan ekstra ala iklan lowongan kerja di media massa atau media sosial.

“Mereka justru para pemuda yang sebelumnya preman dan mangkal di sekitar lingkungan kita,” ujar Hilmy, Minggu, 30 Agustus 2020.

Pemuda-pemuda yang sebelumnya menghabiskan banyak waktu di pos ronda sambil main domino itu pun kini punya kegiatan lain. Saban hari mereka berkeliling, mengambil minyak jelantah untuk kemudian dibawa ke pabrik Genoil.

Muflihuddin, salah satu dari mantan preman itu mengaku sangat bersyukur bisa dilibatkan dalam ekosistem Genoil. Sebab kata dia, di lubuk hati terdalam seorang preman sekalipun, pasti ada keinginan untuk berguna. Minimal bagi keluarga. Dan ini sudah lebih.

“Sebelumnya, mau kerja tak ada ijazah. Tetapi kini bisa,” ucapnya.

Genoil memang membuat 20-an eks preman menjadi punya penghasilan. Rata-rata, kata Hilmy, mereka bisa mendapatkan Rp1,9 juta hingga Rp2,5 juta per bulan.

Ekosistem tak berhenti. Sebab minyak-minyak itu masih butuh diolah di pabrik Genoil. Tahapan yang juga membutuhkan tenaga kerja. Namun itu normal saja. Namanya perusahaan pasti ada karyawan.

Rantai keberuntungan yang juga perlu mendapat perhatian lebih ada di pesisir. Mereka yang setiap saat membutuhkan energi agar perahu bisa mendatangi laut luas, tempat ikan-ikan bisa dijala dengan lebih mudah.

“Rata-rata mereka menghabiskan lebih dari Rp20 juta untuk membeli solar setiap bulan,” kata Hilmy.

Namun sejak Genoil memproduksi biodiesel, angka itu bisa ditekan hingga 15-16 juta rupiah “saja” per bulan. Namun, bukan itu semata yang penting. Nelayan juga sudah terbebas dari antrean panjang di tempat-tempat pembelian solar.

“Bahan bakar solar itu sangat susah didapat. Harus melalui berapa banyak antrean. Itu pun kalau SPBU kasih,” tutur Sharuddin, reseller biodiesel Genoil di pesisir.

Kalau pun dapat, solar ditebus nelayan dengan harga yang cukup membuat otot tegang. Paling murah Rp7 ribu per liter. Jika sedang paceklik, bisa tembus Rp10 ribu per liter.

Gerakan Sosial

Keputusan Genoil menjadi produsen biodiesel tak cuma berhasil melahirkan ekosistem ekonomi baru, tetapi juga membuat warga membuat aksi serempak dan terarah. Terutama dalam memperlakukan cairan buangan dari wajan mereka.

Genoil membuat Bank Sampah Minyak RT/RW di Kota Makassar. Bank yang membikin masyarakat dari lorong-lorong kota punya pilihan selain menjual langsung minyak jelantahnya ke Genoil. Mereka tinggal menabung minyak di bank itu dan nilainya dikonversikan uang.

Genoil menyediakan minyak goreng baru kemasan cup isi 200 mililiter sebagai alat penukaran. Harganya Rp3.000 per cup. Misalnya seorang warga memiliki saldo Rp12.000, mereka bisa membawa pulang empat cup minyak goreng yang dijamin sehat dipakai memasak untuk keluarga tercinta,

Terobosan ini membuat RT/RW menjadi lebih semarak. Setiap saat ibu-ibu bertemu di bank dan bercerita seberapa banyak yang ditabung dan ditarik tunai.

“Terpenting, masyarakat semakin sadar bahwa minyak jelantah itu perlu mendapat perlakuan khusus. Jangan dibuang karena akan mencemari lingkungan. Lebih baik dimasukkan ke bank itu untuk diolah jadi bahan bakar,” tutur Hilmy sembari memperlihatkan sebuah hasil riset. Satu liter minyak jelantah bisa mencemari 1.000 liter air permukaan dan bila itu berlangsung terus-menerus, ancamannya tidak main-main.

Kampanye Genoil soal pembuatan dan penggunaan energi terbarukan dan merawat alam juga masuk ke sekolah-sekolah. Mereka membuat Si Tampan; Tabungan Siswa untuk Pendidikan Lingkungan”.

Tim Genoil memberi edukasi kepada siswa sekolah.

Hilmy dan kawan-kawan menemui siswa. Mengajak mereka bermain sembari diberi keterampilan reuse, reduse, dan recylcle. Misalnya membuat sabun dari minyak jelantah, membuat kompos, hingga menghasilkan produk kerajinan dari barang bekas.

Susah Payah

Tetapi Genoil dan pencapaiannya itu tidak datang dari proses instan. Cerita dimulai dari rasa penasaran anak-anak SMA di sebuah kabupaten bernama Pangkep, dua jam perjalanan darat dengan kendaraan bermotor dari Kota Makassar.

Saat itu (tahun 2009), Hilmy dan teman-teman sekolahnya tergabung dalam kelompok penelitian. Mereka rutin bertemu dan berdiskusi. Tak jarang mereka diserang lapar dan sangat membutuhkan camilan.

Sebagai anak sekolah, gorengan menjadi pilihan masuk akal. Tahu, tempe, pisang, atau bakwan. Kadang dicampur.

Saking seringnya membeli gorengan, Hilmy bisa memperhatikan wajan penggorengan penjualnya. “Minyaknya kadang sudah sangat hitam. Rasanya risih juga sebagai pembeli,” tuturnya.

Berbagai hasil riset yang mereka baca kemudian menunjukkan bahwa minyak goreng yang dipakai berulang-ulang adalah alamat buruk bagi kesehatan. Penyakit jantung, diabetes, dan kanker hanya sebagian kecil yang bisa ditimbulkan.

Mulai saat itu, Hilmy terus meneliti minyak bekas. Hingga mendapat kesimpulan bagaimana mengolah jelantah menjadi biodiesel. Dia bersama Sahwawi, seorang sahabatnya pun merakit mesin produksi berkapasitas 30 liter. Waktu itu belum ada Genoil.

Bahkan sampai Hilmy mulai masuk perguruan tinggi di Makassar, perhatiannya kepada minyak jelantah semakin menjadi-jadi. Apalagi setelah bertemu dengan empat anak muda yang mendukung visi misinya.

Genoil pun mereka dirikan dengan susah payah. Para pendiri menggadai dua sepeda motor, satu mobil Pajero, sebidang tanah berserta rumah untuk mendapatkan modal. Hilmy juga harus menunda penyelesaian kuliahnya di Universitas Negeri Makassar (UNM) dan sempat mendapat julukan mahasiswa abadi.

Akhirnya pada 2015, mereka bisa mendirikan pabrik biodiesel pertama di kawasan timur Indonesia. Kapasitasnya mencapai 4.000 liter per hari.

Pabrik itulah yang terus berkembang hingga kini dan berkontribusi pada tingkat kebahagiaan ibu-ibu rumah tangga, nelayan, hingga mantan preman.

Solusi Kaum Muda

Genoil baru berpoduksi pada 2015. Namun empat tahun sebelumnya, anak-anak muda di dalamnya sudah mulai merintis. Mereka menjadi lebih bersemangat karena saat itu Indonesia dan sebagian dunia dilanda krisis energi.

“Saya masih ingat, orang-orang berdesakan di SPBU,” kenang Hilmy.

Sejumlah mahasiswa juga turun ke jalan. Membentangkan spanduk dan berteriak lewat pengeras suara bahwa pemerintah harus bertindak. Hilmy yang juga mahasiswa tidak ikutan. Dia memprotes dengan caranya.

Nyaris setiap hari dia melakukan pengembangan pada rintisan usaha biodiesel-nya. Harapannya, kalau bisa memproduksi biodiesel dalam jumlah besar, minimal bisa membantu mengatasi kelangkaan di Makassar. Terutama di pesisir. Jika nelayan tak melaut, ada satu komoditas penting yang juga tidak akan ditemui; ikan.

Namun ternyata tak mudah. Tetapi Hilmy dan tim juga tak menyerah. Hingga pada 2014 mereka berhasil membuat prototipe. Tinggal dicarikan modal dan menggadaikan beberapa barang pun mereka pilih untuk mewujudkan mimpinya.

Kehadiran Genoil juga jadi solusi bagi satu permasalahan kesehatan yang mengintai masyarakat. Sebab hasil penelusuran Hilmy dan tim, minyak goreng bekas yang peredarannya mencapai 17.600 liter per hari itu ada juga yang kembali dikonsumsi warga.

Ternyata, minyak jelantah itu ada yang dikumpulkan oknum tertentu, diolah, kemudian dijual lagi di pasar tradisional dalam bentuk minyak curah. Ada juga yang langsung didrop ke penjual gorengan. Atau yang tidak bernilai bisnis; dibuang ke got, namun berdampak buruk bagi lingkungan.

Industri semisal industri kerupuk dan lainnya paling banyak memproduksi minyak jelantah. Kemudian restoran dan hotel atau kafe. Nah, Genoil juga menyasar tempat-tempat itu untuk menjemput mintak jelantah, selain langsung ke warga yang menggunakan untuk kebutuhan di dapur.

Kontribusi Genoil dalam menghindarkan kita dari minyak bekas cukup lumayan. Kini sudah mencapai 36.000 liter per bulan.

Jadi lengkap sudah. Adanya kreativitas, inovasi, dan produktivitas dari anak-anak muda di Genoil bisa memunculkan mata rantai ekonomi baru, menjaga lingkungan, hingga mengurangi peredaran minyak jelantah untuk konsumsi yang ujung-ujungnya membuat warga sakit.

Tak heran jika Genoil berhasil memikat juri ajang penghargaan. Hilmy sebagai CEO Genoil menjadi juara Wirausaha Muda Mandiri tahun 2017, mengalahkan 3.000 peserta dari seluruh Indonesia. Pernah juga jadi juara National Global Student Enterpreneur Awards 2018 di Kanada. Hilmy pernah pula ke London, Inggris, menjadi delegasi Indonesia di ajang Global Social Enterprise Network.

Satu lagi, Hilmy menjadi idola baru karena sering tampil di televisi. Mata Najwa dan Kick Andy ada di antara deretan acara yang pernah menjadikannya bintang tamu.

Sampel produksi Genoil.

Meski dalam kemampuan produksi yang belum terlalu besar, setidaknya Hilmy dan anak-anak muda di Genoil sudah mampu berbuat; memberi energi untuk Indonesia. Bayangkan jika kisah ini diketahui anak-anak muda di seluruh negeri dan memacu mereka untuk juga berkreasi, berinovasi, dan memproduksi energi terbarukan. Akan banyak sektor yang bergerak dan terbantu.

Nah, setelah Hilmy dan Genoil, siapa lagi? Kamu? Iya, kamu. Siapapun kamu. (imam dzulkifli)

Penulis : | Editor :

Related posts