Nama Warga Hilang dari Daftar BST di Maros; Dinsos Bingung, Warga Linglung

Warga mengadu ke posko Dinas Sosial, Maros. (FOTO: MATAMAROS.COM)

MAROS, MM – Irawati, Suriani, Rina, dan Baya memasuki halaman posko pengaduan bantuan penanganan Covid-19 Dinas Sosial Maros, Senin, 21 September 2020, dengan penuh rasa tanya. Empat warga Desa Labuaja, Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros itu di ujung kesabaran. Nama mereka terhapus dari daftar penerima Bantuan Sosial Tunai (BST).

“Sudah berbulan-bulan kami diminta bersabar oleh petugas di desa dan kecamatan. Tetapi ini sudah tak tertahan. Kami butuh kepastian,” ucap Irawati.

Read More

Empat orang itu hanyalah beberapa dari warga Labuaja yang namanya terhapus dari daftar penerima BST. Mereka cuma sempat menerima satu kali, yakni pada tahap I. Diterima via kantor pos. Lalu pada pada tahap II, III, IV, dan V, mereka tak lagi mendapat panggilan.

“Sementara banyak warga di desa yang sama tetap menerima secara teratur,” aku Baya.

Anehnya, saat mereka perjalanan dari Labuaja ke Turikale, ibu kota Kabupaten Maros, masuk pemberitahuan. Undangan menerima BST untuk tahap VI.

Keanehan yang langsung mereka pertanyakan ke pihak Pengelola Data Dinsos Maros, Darwis. “Kalau ada pencairan tahap IV, ke mana bantuan untuk tahap II sampai V, Pak?” kejar Rina.

Darwis menyebut bahwa memang ada pengurangan. Tetapi, klaimnya, bukan dari pemerintah kabupaten. Melainkan dari pusat.

“Di Kabupaten Maros ada 661 orang yang namanya terhapus. Kami juga tidak tahu kenapa,” jawab Darwis.

Pria berkacamata itu hanya bisa menduga-duga. Adanya juga BST yang diprogramkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggerus jumlah penerima BST dari Kementerian Sosial via Dinas Sosial.

Soal mengapa tiba-tiba masuk lagi undangan pencairan tahap VI, Darwis menuturkan bahwa itu karena Dinsos memasukkan lagi di antara 661 nama yang sebelumnya terhapus itu. Tetapi hanya 200-an penerima yang tembus.

Kepala Dinas Sosial Maros, Prayitno membenarkan kabar adanya 661 nama penerima BST di Maros yang lenyap dari daftar. Tetapi, kata dia, pihaknya juga bingung. Sebab terhapus begitu saja tanpa penjelasan dari pemerintah pusat.

“Kadang muncul anggapan pusat bahwa penghapusan terjadi di daerah. Tetapi kami jamin tidak ada begitu-begitu,” ucapnya.

Prayitno mengaku sempat stres karena dalam setiap tahap pencairan, jumlah penerima BST selalu berkurang.

Hanya saja, mantan Kepala Bagian Sosial dan Keagamaan Pemkab Maros itu punya penjelasan berbeda soal mengapa tiba-tiba nama yang terhapus pada tahap II sampai tahap V tiba-tiba masuk lagi tahap VI.

“Itu karena sudah banyak protes dari daerah. Makanya mungkin diakomodasi lagi,” tuturnya.

Empat warga yang mengadu ke Dinsos hari ini pun akan menerima BST tahap VI, Rabu, 23 September 2020 lusa dengan rasa penasaran yang masih menggantung. Meski Darwis sudah mengatakan bahwa tahap II sampai tahap V sudah pasti tak akan ada lagi.

Tetapi kebutuhan mendesak di masa sulit membuat para warga itu tetap berharap siapapun yang membuat nama terhapus, segera membuat revisi.

Bukti bahwa beberapa warga hanya satu kali menerima BST. Tahap II hingga V hilang, kemudian namanya muncul lagi di tahap VI.

“Jumlahnya mungkin tidak banyak bagi beberapa orang. Tetapi bagi kami, itu akan sangat berharga untuk keluarga di rumah. Mudah-mudahan pemerintah bersikap adil,” imbuh Baya.

Penyaluran BST untuk Kabupaten Maros dimulai 13 Mei lalu. Total penerimanya 13.746 Kepala Keluarga (KK) yang kemudian bertambah menjadi 14.292 KK.

Penerima merupakan kategori warga yang rentan miskin. Nominal yang diterima Rp600.000 per bulan pada tiga bulan pertama. Lalu Rp300 ribu untuk tiga bulan kedua. (mal)

Penulis : | Editor :

Related posts