Impian Warga Pulau Terluar Pangkep Terwujud, Ada Pengusaha Asal Maros di Baliknya

Bupati Pangkep, Syamsuddin Hamid, mengisikan BBM perdana di SPBU 76.90603 Pulau Kalukalukuang, beberapa waktu lalu. (FOTO: IST)

PANGKEP, MM – Warga Pulau Kalukalukuang dan wilayah lain di Kecamatan Kalmas, Kabupaten Pangkep, tak perlu lagi membeli bahan bakar minyak dengan harga lebih mahal. Mereka juga tidak mesti antre lagi.

Sebab sejak Rabu, 21 Oktober 2020 lalu, SPBU di pulau tersebut diresmikan. Bupati Syamsuddin Hamid datang untuk menandai operasional fasilitas tersebut.

Read More

“Ini sudah lama didambakan warga. Puluhan tahun persoalan BBM menjadi hal yang rumit di wilayah terluar. Karena selain stoknya terbatas, harganya juga tinggi. Padahal setiap harinya mereka menjadikan BBM merupakan kebutuhan pokok untuk mencari nafkah di laut,” ujar Syamsuddin.

Mahmud, salah seorang warga membenarkan bahwa sudah puluhan tahun BBM dengan harga terjangkau dan lokasi yang mudah dijangkau, diidamkan.

Dia menceritakan, warga Kepulauan Liukang Kalmas, khususnya Pulau Kalukalukuang sebagian besar bermata pencarian sebagai nelayan. Setiap hendak melaut, mereka membeli di kios-kios pengecer dengan harga yang relatif tinggi. Sebab Kecamatan Liukang Kalmas adalah kecamatan terjauh. Wilayahnya berbatasan dengan perairan Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.

Nah, ternyata, yang mewujudkan impian masyarakat itu adalah pengusaha asal Maros. Abdul Malik atau populer dengan sebutan Haji Malik.

Haji Malik banyak berkiprah di luar Maros. (FOTO: MATAMAROS.COM)

Nama pengusaha tersebut begitu mendengung di Maros saat Pemilu Legislatif 2019 lalu. Dua anak sang pengusaha, Nurwahyuni Malik dan Taufik Malik (keduanya mengendarai Partai Golkar) jadi caleg kabupaten dan menang dengan perolehan suara tertinggi di dapil masing-masing.

Menjelang Pilkada Maros 2020, giliran menantunya, Sahiruddin yang berniat maju. Sayang terkendala partai politik pengusung.

Malik memang baru saja merampungkan dua SPBU miliknya di Kabupaten Pangkep. Selain di Kalmas, ada juga satu di Pulau Kapoposang. Keseluruhan sudah ada tiga SPBU milik Malik di Pangkep. Satu lagi ada di Liukang Tangaya. Semuanya di wilayah kepulauan.

Malik menceritakan, dia terinspirasi membuat SPBU di Pangkep setelah menonton acara televisi beberapa tahun lalu. Ada nelayan asal Pangkep ditangkap karena kedapatan membeli bahan bakar di wilayah Lombok Timur, Nusa Tenggara Timur.

“Dan memang itu melanggar karena masing-masing wilayah sudah ada kuota dari pemerintah. KTP Pangkep ya beli bahan bakar di Pangkep juga,” ucapnya, Senin, 26 Oktober 2020.

Malik pun mulai menjajaki kemungkinan membuat SPBU di beberapa pulau di Pangkep. Mengagumkan, kata dia, segala urusan perizinan begitu mudah.

“Pak Bupatinya sangat terbuka,” nilainya.

Hari ini pun dia sudah memiliki tiga SPBU di kabupaten tetangga. Dan belum ada di Maros, kabupaten tempatnya lahir dan tinggal.

“Semoga suatu saat,” ucapnya.

Malik memang lebih banyak berkiprah di luar. Dia memiliki tujuh SPBU di Papua. Tersebar di beberapa daerah. Antara lain Yahukimo, Mimika, Asmat, Supiori, Memberamo Raya.

Di Maros hanya ada usaha air gelas dengan merek Kuala Mas. “Usaha iseng-iseng. Karena untuk urus izin kemasan botolnya saja teramat rumit,” tutupnya. (mal)

Penulis : | Editor :

Related posts