SPBU 76.90603, Tempat Warga Pulau Mengisi BBM dan Harapan

Bupati Pangkep, Syamsuddin Hamid, mengisikan BBM perdana di SPBU 76.90603 Pulau Kalukalukuang, beberapa waktu lalu. (FOTO: IST)

Warga di sana tak pernah kekurangan ikan. Tetapi mereka susah payah mendapatkan bahan bakar minyak. Hingga hari yang dinanti itu tiba jua.

 

Read More

BUKANNYA bensin dan solar tidak ada di Pulau Kalukalukuang, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Beberapa pengecer menyediakannya. Namun memang tak banyak. Pulau itu terlalu jauh dari ibu kota kabupaten, 208 kilometer. Butuh perjalanan sekurang-kurangnya 16 jam dengan perahu bermotor.

Mau ke Kota Makassar pun tak kalah jauhnya. Waktu tempuhnya nyaris sama. Tentu saja estimasi itu dengan menepikan potensi di laut yang bisa mengulur jam ketibaan. Ini lautan, bukan kolam susu.

Satu lagi, harga BBM pada pengecer di pulau itu pun cukup berpotensi menipiskan dompet para warga dengan segera. Bensin rata-rata dijual Rp10.000 per liter, solar Rp12.000 per liter.

Magmud, warga Pulau Kalukalukuang mengenang, seumur hidupnya akrab dengan kesulitan mendapatkan bensin maupun solar. Tetapi begitulah adanya. Dia dan 13 ribuan warga Kecamatan Liukang Kalmas tinggal di pulau-pulau terluar. Secara keseluruhan ada 18 pulau di wilayah itu. Saking jauhnya dari ibu kota kabupaten maupun ibu kota provinsi, mereka sudah berbatasan dengan Kalimantan Selatan di sebelah utara dan Jawa Timur di sebelah barat.

Bayangkan betapa lelahnya mereka menggapai kantor bupatinya jika perlu mengurus sesuatu di pemda. Tak kalah lelahnya jika mesti ke Makassar untuk membeli beras, mi instan, atau apa saja yang mereka butuhkan selama berbulan-bulan ke depan di pulau. Itu pun kalau sedang punya cukup uang untuk menyetok barang.

Bayangkan betapa sulitnya mendapatkan bensin bagi yang punya sepeda motor dan solar bagi yang hendak melaut untuk mencari ikan. Frasa mencari ikan bisa diganti dengan mencari nafkah. Mereka bukan pehobi mancing.

***

Abdul Malik lupa waktu persisnya. Tetapi sudah tahunan. Hari itu dia menonton acara televisi, sebuah liputan khusus. Ada nelayan asal Pangkep ditangkap karena kedapatan membeli BBM di wilayah Lombok, Nusa Tenggara Timur.

Dia merasa iba namun dalam hati (seperti penuturannya kepada MataMaros.com) justru menegaskan bahwa itu memang pelanggaran. Setiap daerah punya kuota BBM sendiri dan warga Pangkep nun jauh di Sulsel jelas tak boleh mengambil kuota masyarakat di NTT.

Malik, warga asal Kabupaten Maros (tetangga Kabupaten Pangkep) namun memiliki beberapa usaha SPBU di Papua pun tergerak. Dia menghubungi siapa saja yang dikenalnya di Pangkep, agar dibantu menyatakan niatannya membangun SPBU di pulau-pulau terluar Pangkep kepada bupati.

Tidak sesulit yang dia kira, Bupati Pangkep, Syamsuddin Hamid, menyambut dengan penuh semangat. Perizinan dibuat mudah sebab Syamsuddin merasa bahwa inilah jalan keluar bagi permasalahan warganya di pulau selama ini.

Malik pun berterima kasih kepada PT Pertamina yang juga memberi kesempatan untuknya membangun SPBU di Pangkep. Bahkan di tiga wilayah sekaligus. Satu di Pulau Kalukalukuang, satu di Pulau Kapoposang, satu di Kalmas. Semuanya di kepulauan.

SPBU itulah yang disebut Lembaga Penyalur Program BBM Satu Harga. Memang menjadi program Pertamina juga. Agar sejauh apapun warga bermukim, di pulau terluar sekalipun, mereka punya hak merasakan BBM dengan harga yang sama jika membeli di kota metropolitan.

Informasi yang dihimpun, sudah tiga lembaga penyalur BBM satu harga yang diizinkan beroperasi oleh Pertamina di Sulawesi tahun 2020. Satu unit sebelumnya berlokasi di Sulawesi Tengah.

Unit Manager Comm, Rel, & CSR Pertamina MOR VII, Laode Syarifuddin Mursali berharap berdirinya lembaga penyalur di dua lokasi ini bisa mempermudah masyarakat. Nyatanya, seperti yang dituturkan Magmud, warga di Kalukalukuang, itu memang membantu. Harga BBM di tempatnya tinggal, sudah sama dengan BBM di SPBU yang mesti ditempuh dengan 16 jam perjalanan laut.

Peresmian SPBU di Kalukalukuang dilakukan Syamsuddin, Rabu pekan lalu. Sang bupati memboyong puluhan pejabatnya. Mereka datang dengan kapal KLM Tiara Mandiri. Hampir seharian penuh di lautan untuk tiba. Melewati beberapa kali sesi makan, ngopi, dan rapat di geladak.

Mengenakan baju terusan dengan luaran kemeja hitam lengan panjang yang ujungnya digulung, Syamsuddin menggantikan peran petugas SPBU selama beberapa menit. Dia mengisikan BBM ke kendaraan dan jeriken nelayan. Lehernya dikalungi bunga, pemberian warga pulau.

“Kami mengapresiasi Pertamina dan BPH Migas karena telah mengawal proses pendirian SPBU ini hingga terealisasi. Kami berharap ini bisa membantu menggerakkan perekonomian masyarakat, lebih maju lagi,” ucapnya.

***

“Ini berkat doa masyarakat selama ini,” kata Syamsuddin di pertengahan sambutannya pada acara peresmian. Doa yang diyakini Syamsuddin, menjadi penggerak bagi semua pihak untuk menyelesaikan problem itu.

Doa yang membuat warga punya tenaga untuk terus menyampaikan aspirasi. Pengusaha tiba-tiba mendapat ilham untuk menonton acara televisi dan terinspirasi. Bupati merespons dengan gembira dan mempermudah perizinan. Pertamina memberi izin pula sebab memang punya program BBM satu harga.

Kebetulan? Syamsuddin yakin bukan kebetulan, melainkan kekuatan impian.

“Ini sudah lama didambakan warga yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan. Puluhan tahun persoalan BBM menjadi hal yang rumit di wilayah pulau terluar. Selain stoknya terbatas, harganya juga yang melambung tinggi. Padahal setiap hari ¬†mereka menjadikan BBM sebagai kebutuhan pokok untuk mencari nafkah di laut,” ucap Syamsuddin.

Kebutuhan yang akhirnya bisa terpenuhi. SPBU dengan nomor 76.90603 mendapat pasokan 60 kiloliter bensin per bulan dan 120 kiloliter solar per bulan.

Penuturan Magmud, perwakilan warga Kalukalukuang, yang dikutip sejak awal reportase ini disampaikan pada hari SPBU diresmikan. Penuturan yang sesungguhnya lebih mirip mengenang. Sebab kesulitan mendapatkan BBM (dengan harga yang lebih mahal) sudah menjadi masa lalu. Dia terus menyungging senyum.

Di SPBU itulah dia dan warga nelayan akan selalu mengisi solar untuk perahu-perahu mereka. Dalam kalimat lain, di SPBU itulah dia dan warga nelayan akan selalu mengisi harapan untuk kesejahteraan hidup yang lebih baik.

Setidaknya sejak hari itu, satu masalah hidupnya dan seluruh warga yang mendiami kecamatan seluas 91,5 kilometer persegi yang dikepung air asin tersebut, terurai. (imam dzulkifli) 

Penulis : | Editor :

Related posts