Melihat Produksi Lappo di Pattunuang, “Popcorn” Lokal yang Bangkit Lagi

Lappo keluarga Dewa dikemas sederhana. (FOTO: MM)

Sebenarnya ini bukan popcorn meski ada yang menyebutnya begitu. Ini lappo. Atau benno. 

DI luar hujan, deras. Tetapi Devi tidak merasakan dingin. Posisi duduknya tak lebih 1 meter dari ujung pipa yang memancarkan api. Di atas api itu sebuah tabung baru saja diisi hampir 2 liter jagung.

Read More

“Mungkin 10 menit baru jadi,” kata Nouro, ibu Devi.

Tangan kiri Devi terus memutar lingkaran besi mirip setir mobil. Tujuannya agar biji-biji jagung terkena panas secara merata.

“Biasanya 13 menit.” Devi, anak berusia 11 tahun itu akhirnya bicara. Dia sekaligus meralat penjelasan ibunya. Devi tahu karena hampir setiap hari dia melakukan tugas itu. Dia menghitung waktu lewat ponsel pintarnya.

Tiga belas menit itu adalah waktu yang dibutuhkan biji jagung berubah menjadi jagung bunga. Orang Maros berbahasa Makassar menyebutnya “lappo”. Yang berbahasa Bugis bilang “benno”. Di bioskop, orang-orang mengistilahkan camilan macam itu sebagai popcorn. Tetapi lappo ini tidak asin seperti popcorn.

Devi memanaskan tabung berisi biji jagung. (FOTO: MM)

Prediksi Devi tepat. Setelah 13 menit jagung itu siap dikeluarkan. Namun itu bukan tugasnya. Dewa, ayah Devi, yang dengan sigap melakukannya. Usianya 60 tahun.

Bersamaan dengan dibukanya penutup tabung, timbul suara ledakan. Jika tidak biasa, Anda bisa kaget. Lappo hangat sudah jadi.

Giliran Nouro yang bekerja untuk memasukkan lappo itu ke kantongan plastik. Satu sesi ledakan bisa menghasilkan empat kantong. Setiap kantong lappo dijual Rp5.000.

Satu atau dua menit kemudian, giliran tabung yang “setirnya” dikendalikan Ila (6 tahun), cucu Dewa dengan Nouro, yang selesai pemanasannya. Dewa sekali lagi menjalankan tugasnya. Nouro juga.

Begitulah keluarga di Pattunuang, Desa Samangki, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros itu mencari jalan rezekinya. Membuat dan menjual lappo dari teras rumah. Di belakang rumah mereka mengalir sungai yang airnya juga tiba di Biseang Labboro, salah satu objek wisata terkenal di Maros.

“Kadang kami jualan sampai jam (pukul) 11 malam,” ucap Dewa.

Lappo mereka terbilang laris. Saat kru MataMaros.com mampir sore kemarin, sudah antre juga beberapa orang. Beberapa pengendara lain ikut mampir kemudian. Nouro begitu sibuk melayani.

Lappo produksi keluarga ini memang renyah. Tanpa dicampur apa-apa, sudah bisa menghasilkan camilan yang enak dan manis. Kami membeli empat kantong untuk oleh-oleh.

Dari letupan jagung dalam tabung itulah mereka bergantung untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Penghasilannya relatif lumayan. Dewa tak menyebut omzetnya berapa namun memberi kisi-kisi.

“Untuk beli kantong plastik saja butuh Rp500 ribu per minggu,” ungkapnya.

Dewa mengaku bisa menghabiskan 100 hingga 150 liter biji jagung dalam sehari. Data-data itu memungkinkan kita memperkirakan pendapatan mereka.

Nouro berkisar, dia sudah menjual lappo sejak lama. Devi belum lahir waktu itu. Lappo-nya dibuat di rumah itu juga, namun jualnya di pasar. Kadang di Pasar Pakalu, kadang di Pasar Lembang.

Namun mereka sempat rihat. Tabung lappo disimpan. Dewa fokus bertani.

Kira-kira tahun 2018, Dewa merasa cukup risau dengan penghasilannya. Hingga akhirnya dia terpikir untuk membersihkan tabung pembuat lappo-nya.

Mulailah mereka memproduksi lappo lagi. Tetapi tidak lagi dibawa ke pasar. Mereka berharap ramainya pengendara yang lalu lalang di depan rumah mereka bisa membawa keuntungan.

Harapan mereka terkabul. Semakin hari pembeli lappo semakin banyak. Dewa pun merasa pendapatan dari lappo itu sudah cukup untuk dijadikan sandaran perekonomian keluarga.

Bisnis lappo ini dijalankan Dewa bersama keluarga. (FOTO: MM)

Kami sempat memberi usul kepada mereka agar membuatkan kemasan khusus untuk lappo-nya. Kemasan yang lebih menarik. Dan tentu saja punya merek.

Dewa dan Nouro tersenyum. Entah sepakat atau tidak. Tetapi lappo mereka sepertinya memang sudah layak untuk naik kelas.

Meski jika kemasannya tetap begitu pun, kantong kresek transparan, lappo mereka sudah mendapat tempat di hati banyak orang. Dan itu artinya, keluarga itu juga bisa terus berproduksi. Memutar tabung lappo-nya. Memutar penghidupan mereka. (imam dzulkifli) 

Penulis : | Editor :

Related posts