Harga Cabai “Gila-gilaan”, Begini Respons Pemuda Tani HKTI Maros

Ketua Pemuda Tani HKTI Maros, Rahmat Hidayat. (FOTO: IST)

MAROS, MM – Kenaikan harga cabai dan kedelai yang terjadi di banyak daerah, termasuk Kabupaten Maros, memantik kekhawatiran Dewan Pimpinan Kabupaten (DPK) Pemuda Tani HKTI Maros.

Ketua DPK Pemuda Tani Maros, Rahmat Hidayat menuturkan, pantauan lapangan menunjukkan dampak yang signifikan. Masyarakat mengeluh dan daya beli menurun.

Read More

“Bisa-bisa para pelaku usaha, khususnya UMKM, yang bahan bakunya cabai dan kedelai gulung tikar,” ujar Rahmat, Jumat, 8 Januari 2021.

Kenaikan harga berlebihan juga dinilai tidak menguntungkan petani. Sebab, daya beli masyarakat melemah. Lagipula, masyarakat bisa menunda membeli cabai dan kedelai maupun produk turunannya.

Anggota DPRD Maros itu mendesak pemerintah untuk segera menstabilkan harga komoditas tersebut. “Saat ini memang pandemi. Namun tetap perlu langkah solutif,” imbuh Rahmat.

Pria 26 tahun itu membeberkan bahwa Pemuda Tani satu suara dalam merespons persoalan ini. Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Pemuda Tani HKTI sudah meminta jajaran di tingkat kabupaten mengawal dan mengontrol harga dua komoditas tersebut di pasaran.

Harga cabai di Maros memang naik cukup fantastis. Di Pasar Tramo, cabai per hari ini rata-rata dijual Rp50 ribu per kilogram. Kemarin bahkan mencapai Rp60 ribu. Padahal hingga akhir 2020, harganya di kisaran Rp15 ribu.

Harga kedelai pun naik signifikan sehingga harga produk turunannya semisal tahu dan tempe ikut meroket. (fik) 

Penulis : | Editor :

Related posts