OPINI; Bencana, Kerusakan Ekologi, dan Cita-cita SDGs

Ahmad Takbir Abadi. (FOTO: DOK)

Nanti di 2030, impian beberapa pemimpin negara yang menyetujui 17 dan 169 target itu diharap tercapai. Namun, semakin buram rasanya.

Oleh: Ahmad Takbir Abadi*

TUJUAN tersebut mulai dibangun menjelang Konferensi Rio+20 tahun 2012 lalu, dan akhirnya mencapai bentuk matangnya seperti sekarang.

Sustainable Development Goals (SDGs) merupakan suatu rencana aksi global yang disepakati oleh para pemimpin dunia, termasuk Indonesia, guna mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan, dan melindungi lingkungan.

Perkembangan dunia yang semakin kompleks harus dibarengi dengan kebijakan yang memiliki landasan kuat. Tulisan ini akan mengukur kebijakan pemerintahan dengan cita-cita SDGs yang menjadi impian di beberapa negara itu.

Salah satu tujuan SDGs adalah infrastruktur dan industri. Kabar disahkannya Undang-Undang Cipta lapangan Kerja (Ciptaker) menjadi angin sejuk bagi para konglomerat industri. Tahun 2020 RUU Ciptaker berubah namanya menjadi UU No.11 Tahun 2020.

Keleluasaan industri dari sisi kebijakan akhirnya memiliki jalan yang mulus. Industri akhirnya memiliki imunitas dalam menjalankan aktivitasnya. Hal ini kemudian bertolak belakang dari unsur petani dan buruh yang justru sangat merugikan.

Kebijakan yang memberikan ruang yang luas bagi industri akan berdampak besar pada kerusakan ekologi.

Awal 2021 di beberapa titik tanah air bencana akibat kerusakan ekologi akhirnya terjadi. Bahwa ini bukan sekedar bencana biasa, ini adalah bencana krisis iklim, bencana akibat cuaca ekstrem yang menurut para ahli akan semakin meningkat di masa depan di berbagai belahan dunia.

Ini adalah bencana akibat suhu bumi kita semakin panas. Ini adalah bencana akibat hutan-hutan yang menyimpan air telah diizinkan untuk dihancurkan dan diganti tanaman monokultur dan lubang lubang tambang.

Greenpeace mengatakan bahwa ini adalah bencana akibat pembangkit batubara kita yang terus menerus memuntahkan polusi dan gas rumah kaca ke atmosfer bumi. Ini adalah bencana akibat keserakahan yang menempatkan pembangunan yang tidak berkelanjutan dan pertumbuhan ekonomi diatas segalanya.

Ini adalah bencana buatan sekelompok orang dan industri yang menutup mata akan dampak yang mereka ciptakan demi keuntungan mereka sendiri. Ini adalah bencana buatan kita.

Bencana akibat krisis iklim akan menjadi normal baru di masa depan, jika kita terus memperlakukan lingkungan planet bumi kita seolah-olah ada planet baru lain lagi yang bisa kita beli dan tinggali.

Sesuai informasi yang dikeluarkan oleh Jaringan Advokasi Tambang Nasional (Jatam) bahwa antara titik-titik banjir dari hulu ke hilir tampak terdapat konsesi tambang perusahaan di sana. Berdasarkan data Jatam, terdapat 177 konsesi di sejumlah kabupaten yang terdampak banjir.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebanyak tujuh kabupaten/kota terdampak banjir Kalsel. Daerah itu ialah Kabupaten Tapin, Kabupaten Banjar, Kota Banjar Baru, Kota Tanah Laut, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kabupaten Balangan, dan Kabupaten Tabalong.

Sementara menurut Walhi Kalimantan Selatan, Kalimatan Selatan dengan luas 3,7 juta hektare, ada 13 kabupaten kota, 50 persen sudah dibebani izin tambang 33 persen dan perkebunan kelapa sawit 17 persen belum Hutan Tanaman Industri  HTI dan Hak Penguasaan Hutan (HPH).

Peristiwa yang terjadi di Kalimantan Selatan adalah buktinya nyata bahwa terget dari SDGs ini kemudian akan sulit tercapai karena banyaknya kebijakan yang tidak pro kepada lingkungan.

Kerusakan ekologi akan berujung pada kemiskinan, kelaparan. sulitnya air bersih, dan tak tercapainya pendidikan yang bermutu. Efek perputaran dari bencana ini tentu tak datang dari satu sumber saja tapi bisa datang dari kerusakan ekosistem lautan, bahkan pemborosan energi karena kebijakan ekstraksi yang tidak terbatas.

Pada akhirnya tujuan dari SDGs sulit tercapai di tahun 2030, jika pemerintah tak menyadari berbagai kebijakan yang memberikan dampak besar kepada kerusakan ekologi. (*)

*Pemerhati kebijakan lingkungan. Tinggal di Maros. 

Penulis : | Editor :

Related posts