Jam Malam di Maros Tidak Diperpanjang

Pedagang di PTB, Maros, tetap memulai aktivitasnya lebih awal, Kamis, 4 Februari 2021. Mereka khawatir aturan jam malam masih berlaku. (FOTO: ASTY UTAMI/MATAMAROS.COM)

MAROS, MM – Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM)di Kabupaten Maros berakhir, Selasa, 2 Februari 2021. Hingga hari ini, tidak ada surat edaran perpanjangan maupun revisi.

Jubir Satgas Penanganan Covid-19 Maros, Syarifuddin mengakui bahwa untuk saat ini kebijakan yang salah satu poinnya adalah “jam malam” itu dihentikan.

Read More

“Belum ada edaran kembali,” ujarnya, Kamis, 4 Februari 2021.

Meski begitu, Plh Kadis Kesehatan Kabupaten Maros itu mengimbau warga tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan.

Syarifuddin mengklaim selama PPKM, angka Covid-19 di Maros mengalami penurunan.

“Ada beberapa indikator yang kita nilai dan itu menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Misalnya tingkat kesembuhan meningkat, yang terpapar covid menurun, hunian di ICU juga menurun, dan untuk isolasi di hotel juga tidak perlu lagi antre,” imbuh pria bergelar dokter itu.

Berdasarkan data Satgas, Covid-19 di Kabupaten Maros sejak awal PPKM 20 Januari hingga berakhir 2 Februari memang terjadi penurunan. Saat itu mengalami jumlah orang yang terkonfirmasi aktif 268. Di kini di kisaran 234 orang.

Makanya jika kembali terjadi peningkatan kasus, tambah dia, kemungkinan besar PPKM akan diberlakukan lagi.

Sebelumnya, sejak 20 Januari hingga 2 Februari 2021,

Bpati Maros, Hatta Rahman memberlakukan “jam malam”. Pusat perbelanjaan, warung kopi, warung makan, kafe, dan semacamnya dibatasi waktu operasionalnya. Hanya boleh sampai pukul 20.00 Wita.

Menurut Hatta, angka Covid-19 di Maros cenderung meningkat. Makanya dipandang perlu menerapkan pembatasan.

Maros bukan yang pertama menerapkan jam malam di Sulsel. Kota Makassar sudah terlebih dahulu, namun belakangan direvisi karena dianggap mematikan usaha mikro kecil menengah (UMKM).

Dalam surat edaran bupati, tidak ada pengecualian. Mal hingga objek wisata juga masuk pembatasan.

Bahkan tempat ibadah seperti masjid dan gereja juga diminta lebih disiplin terapkan protokol kesehatan. Kapasitas tidak boleh lebih dari 50 persen. Khatib atau pendeta pun diminta menggunakan pelindung wajah (face shield) saat berceramah.

Regulasi tersebut sempat menuai polemik. Terutama dari kelompok pedagang di kawasan kuliner malam PTB. Sebab mereka memang baru mulai berjualan menjelang malam, namun sudah harus tutup pukul 20.00 Wita. (ast) 

Penulis : | Editor :

Related posts