Dokter Koboi yang Jalani Ujian Tesis dari Kamar Perawatan Covid-19, Selang Oksigen Masih Terpasang

Wachyudi Muchsin saat menjalani ujian tesis. (FOTO: IST)

MAKASSAR, MM – Foto itu berseliweran di linimasa. Seseorang di kamar perawatan rumah sakit dengan selang oksigen hinggap di hidung, namun begitu serius menatap tayangan di ponsel yang ditancap di tripod.

Wachyudi Muchsin namanya. Sosok yang relatif terkenal di Makassar. Seorang dokter yang juga sarjana hukum. Sepekan yang lalu dia menjalani fase krisis akibat terinfeksi Covid-19. Ada masalah cukup berat di paru-paru.

Read More

Makanya begitu ketahuan Yudi sudah lepas dari masa sulit, sahabat-sahabatnya langsung menyerbu media sosial. Menuliskan kalimat syukur, juga rasa bangga.

Rasa bangga? Iya, tidak salah ketik. Kebanggaan karena Yudi malah sudah bisa menjalani ujian magister sekaligus menyelesaikan yudisium Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia (UMI) dan lulus dengan predikat sangat memuaskan.

“Koboi yang satu ini memang tak pernah bisa ditebak.

Baru beberapa hari lalu kami semua panik saat ia kritis di ICU, hari ini haru melihatnya bisa melalui ujian tutup dengan lancar,” tulis Sunarti Sain, seorang wartawan, sahabat Yudi. Kata koboi merujuk julukan Yudi; Dokter Koboi.

Kamis, 4 Februari 2021, dari kamar rumah sakit, Yudi mempertahankan tesisnya di hadapan dewan penguji. Judulnya juga terkait covid; Faktor yang Berpengaruh Terhadap Kepatuhan Masyarakat Melaksanakan Protokol Kesehatan.

“Alhamdulillah, saya bisa melalui semua ini dengan baik. Tidak lain karena doa dan semangat dari keluarga dan sahabat semua,” kata Yudi melalui video call usai menjalani ujian tutup.

Dia mengaku masih merasakan sesak. Tetapi sudah lebih baik. “Hasil swab juga sudah kali dua negatif, makanya dokter yang merawat memindahkan ke ruang perawatan,” ucapnya.
Dia mengaku nyaris menyerah dalam upaya mengejar gelar magister kesehatan-nya. Kesibukan sebagai relawan Covid-19 sekaligus Humas IDI Makassar menjadi penyebabnya.

“Ujian terberat saat saya saat terpapar Covid-19 untuk kedua kalinya. Padahal, saat itu saya sudah lolos screening untuk vaksinasi,” ungkapnya.

Yudi menceritakan, ia dilarikan ke RS Awal Bros, Makassar karena sesak yang tak kunjung reda dengan proses sangat cepat.

Dua hari di RS Awal Bros ia dirujuk ke RSUP Dr Wahidin Sudirohusodo Makassar, sebab hasil foto kedua parunya makin meluas dan langsung masuk ke ICU. Saturasinya terus menurun. Sesak semakin berat. Ia juga kehilangan nafsu makan dan minum dengan instensitas demam sangat tinggi.

“Rupanya saat itu virus Covid-19 sudah menyerang sampai ke paru-paru,” akunya.
Di saat kritis itulah, kata Yudi, ia mengingat semua kebaikan yang sudah Allah Swt berikan. “Di tengah kesulitan pasti ada kemudahan. Saya percaya itu.”

Spirit pantang menyerah inilah yang ia coba bangun setiap hari. Semangat untuk sembuh dan berjuang melawan Covid-19 dari ruang Infection Center Covid-19.
Di saat yang sama, ia juga memikirkan jadwal ujian yang sudah disusun sebelum terpapar Covid-19.

“Alhamdulillah, Pascasarjana UMI memberi waktu sampai saya sembuh baru melaksanakan ujian minimal sudah pindah dari Infection Center Covid-19 ke ruang perawatan,” ucapnya.

Dia pun berpesan, jangan anggap enteng doa-doa.

“Saya pun percaya bisa seperti sekarang karena ada banyak doa dan cinta dari keluarga dan sahabat. Tentunya dengan bantuan pengobatan medis dengan full support dokter serta tenaga kesehatan dalam penanganan sangat besar selain juga obat-obatan. Namun itu semua hanyalah media untuk proses kesembuhan. Paling utama adalah doa serta berserah kepada Allah SWT, yakin bisa sembuh,” kuncinya. (mal) 

Penulis : | Editor :

Related posts