BTN, Alasan Pengembang Rumah Pantang Menyerah

Pengusaha properti, Abdul Salam memandangi rumah-rumah yang sudah dibangunnya. (FOTO: IMAM DZULKIFLI/MATAMAROS.COM)

LIMA atau enam bulan sebelum virus itu sampai ke Indonesia, sektor properti sebenarnya sudah didera hambatan. Terutama bagi pengembang yang membangun rumah untuk proyeksi pembiayaan bersubsidi. Terbatasnya kuota Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) yang hanya sampai Juli 2019 kala itu menjadi semacam onak. Walau tampak kecil, tetap bisa melukai.

Kemal, kepala tukang pada proyek pembangunan hunian di Perumahan Bukit Indah Kapuk, Desa Purnakarya, Kecamatan Tanralili, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, mulai mendapat lebih sedikit perintah dari pengembang yang menjadi bosnya. Sebab sudah cukup banyak rumah yang berdiri, namun sulit menemukan calon pembeli.

Read More

Sekop lebih banyak disandarkan di bebatuan, helm safety digantung di pohon, dan para tukang menghabiskan waktu dengan bermain kartu. Mau tidur siang tak terbiasa.

Beruntung mereka bekerja pada developer yang cenderung dianugerahi stok semangat berlebih. Tak ada FLPP, SSB pun jadi. SSB adalah akronim dari Subsidi Selisih Bunga (SSB), stimulus lain yang diberikan pemerintah untuk mendorong pembiayaan perumahan bagi masyarakat menengah ke bawah.

“Dan hanya BTN (Bank Tabungan Negara) yang menjalankan program itu. Kami benar-benar terbantu karena masyarakat bisa tetap membeli rumah bersubsidi di tempat kami dengan pembiayaan yang juga disubsidi pemerintah,” tutur Abdul Salam, pemilik Perumahan Bukit Indah Kapuk, Kamis, 18 Februari 2021.

Salam menyebut bahwa perumahannya dekat dengan kantor cabang BTN serta dua kantor cabang pembantu BTN di Kota Makassar dan satu kantor cabang pembantu BTN di Kabupaten Maros. Semuanya memberi jatah rata-rata peluang pembiayaan tiga atau empat unit per bulan bagi calon user PT Sanusi Karsa Tama, nama perusahaan properti Salam.

“Ya bisalah untuk jualan 15 unit rumah setiap bulannya. Itu patut disyukuri,” tambah pria 45 tahun itu.

Plang nomor rumah bersubsidi di Bukit Indah Kapuk, Maros, Sulawesi Selatan. (FOTO: IMAM DZULKIFLI/MATAMAROS.COM)

Tahun 2019 pun bisa dilalui dengan senyum merekah oleh Salam, Kemal, serta puluhan tukang (ratusan jika ditotal dengan tukang pada proyek lain milik Salam) yang kembali harus sering-sering mengarahkan sekopnya ke campuran semen, tak lagi bercanda atau bahkan bengong di bawah pohon.

Pandemi Datang

Tetapi perasaan lega yang berlanjut dengan pesta tahun baru 2020 itu tak begitu lama efeknya. Corona yang sebelumnya menjadi istilah yang terdengar asing, mulai sering pula disebut-sebut di Indonesia. Virus itu ditengarai semakin mendekat. Orang-orang diminta tak keluar rumah. Bahkan untuk sekadar pergi membeli mi instan di warung pun warga kemudian menjadi sangat takut, apalagi jika tujuan keluar rumahnya untuk mendatangi kantor pemasaran perumahan.

Prospek yang mulai tampak mendung, ditambah anjloknya penjualan rumah sejak setengah tahun sebelumnya membuat “laci” kas perusahaan Salam tak berisi banyak uang. Padahal, di Bukit Indah Kapuk, juga di dua perumahan lain yang dia bangun di wilayah lain, tidak kurang dari 400 orang tukang bangunan yang berharap tak gantung sekop. Ada istri dan anak-anak mereka yang menanti kiriman setiap bulan.

Namun Salam kembali menolak menyerah. Salam tak tega menyuruh Kemal dan ratusan tukang lainnya pulang kampung.

Dengan masker yang tak lepas, ditambah hand sanitizer di saku celana, Salam mendatangi kantor BTN di Kota Makassar. Kali ini bukan untuk melobi agar calon pembeli rumah mendapat kemudahan pembiayaan. Tetapi untuk pengajuan kredit konstruksi.

Salam meyakinkan bahwa justru di tengah pandemi, pengembang harus tetap membangun rumah. Siapa tahu virus itu pergi cepat, atau paling tidak kondisi sudah mulai teratasi, pengembang bisa menyambut hari-hari menggembirakan tersebut dengan unit-unit rumah yang ready stock. Bukan sekadar gambar sketsa di brosur.

Alasan yang logis, plus persahabatan bertahun-tahun dengan BTN membuat pembiayaan yang diinginkan Salam itu bisa cair. Tak tanggung-tanggung, miliaran rupiah yang kucur.

Salam mengaku seperti mimpi karena sepanjang 2020, tahun yang bagi sangat banyak orang disebut sebagai yang terberat seumur hidup, malah bisa dilewati dengan membangun hampir 500 unit rumah tipe 36.

“Lagi-lagi saya harus berterima kasih kepada BTN,” ucap pria bergelar insinyur itu.

Kini, di awal 2021, saat virus belum juga pergi, Salam bisa lebih tenang dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Ketika sebagian orang masih bimbang untuk mengembangkan usahanya, dia malah sudah mencanangkan pengembangan di Bukit Salam Sejahtera (BSS) I miliknya di Desa Moncongloe Bulu, Kecamatan Moncongloe, Maros. Beberapa kilometer dari Bukit Indah Kapuk tempat Kemal dan para tukang sampai hari ini masih tetap memasang helm safety-nya senantiasa.

“Saya meyakini sektor properti mampu bertahan di tengah pandemi. Lagipula dengan terus membangun dan memasarkan rumah, kami yang walau mungkin dalam skala kecil, bisa ikut mendorong pemulihan ekonomi nasional,” tambahnya.

Bangkit Lagi

Bukan hanya Salam. Rekan-rekannya di DPD Real Estat Indonesia (Sulsel) tak kalah bergairahnya. Upaya menjaga imun dibarengi dengan ikhtiar menjaga optimisme.

Ketua REI Sulsel, M Sadiq menyambut gembira kepercayaan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) yang menyalurkan dana FLPP senilai Rp8,73 triliun pada 2021. “Alhamdulillah, ini tidak hanya menjadi kabar baik bagi BTN, namun juga pengembang. Khususnya di REI Sulsel yang selama ini membangun rumah bersubsidi,” tutur Sadiq.

Dari 81 ribu unit rumah yang ditargetkan Plt Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu untuk menyerap bantuan subsidi itu, Sadiq yakin Sulsel bisa mendapatkan 10 persennya.

“REI Sulsel optimistis dengan angka 8 ribu unit melalui BTN,” ucap bos perusahaan pengembang Zarindah Group itu.

Anggota-anggota REI memang terbilang siap. Ya contohnya Salam di Maros yang memiliki ready stock ratusan unit. Soal potensi user pun diyakini besar. Vaksin Covid-19 mulai didistribusi dan disuntikkan. Orang-orang bisa kembali bekerja meski dengan protokol kesehatan yang ketat dan itu artinya ada gaji yang sebagian bisa disisihkan untuk membeli rumah.

Penerimaan anggota TNI-Polri yang tetap berlangsung menambah keyakinan para developer. Pengalaman selama ini, setelah seseorang lolos jadi tentara atau polisi, hal lain yang mereka inginkan selain menikah adalah memiliki rumah sendiri.

Kepala Kantor Wilayah V BTN Pamasuka, Edward Alimin juga meyakinkan bahwa tahun ini sektor property akan bangkit. FLPP bakal kucur, targetnya Rp252,22 miliar.

Dia menuturkan bahwa BTN adalah bank yang selalu berupaya menjaga citra sebagai andalan pembiayaan di sektor perumahan. Makanya pelayanan terus ditingkatkan, bahkan saat pembatasan-pembatasan bertemunya orang masih berlaku.

Sebab untuk mengakses pembiayaan perumahan misalnya, seseorang tidak mesti datang langsung ke kantor BTN. Dengan kuota data di ponsel, atau barangkali hanya dengan menumpang sinyal hotspot dari teman, layanan itu bisa didapatkan melalui website.

Lanjut Bekerja

Saat tulisan ini dibuat, Kemal di Bukit Indah Kapuk sudah kembali ke base camp. Malam sudah larut dan besok tegel-tegel itu, atap-atap itu, harus sudah dipasang. “Capek tetapi senang karena bisa terus bekerja,” ucapnya.

Hari-hari mereka kembali sibuk. Persis seperti dahulu. Bedanya paling pada masker di wajah mereka atau jarak antartukang yang dibuat lebih lebar. Tetapi lainnya sama. Sekop tak digantung, mereka tidak dipulangkampungkan, dan uang bulanan keluarga terpenuhi.

Kalau bukan karena semangat pantang menyerah bosnya, Kemal tidak yakin masih ada di proyek itu hari ini. Boleh jadi dia sudah di tempat yang lain, namun belum tentu masih dalam situasi bekerja, melainkan rebahan karena tak ada pekerjaan.

Tetapi itu bukan karena semangat para pengembang saja. Seperti diakui Salam, peran perbankan, terutama BTN sebagai bank spesialis perumahan, memberi andil sangat besar. Satu unit rumah saja yang bisa terbangun lalu terjual, kata Salam, adalah alamat baik bagi 170-an usaha terkait.

Toko bangunan tetap ada pembeli, pabrik semen tak tutup, pabrik baja ringan tidak mematikan mesin, jasa mobil angkutan tak memarkir truknya, kantor pajak tetap didatangi karyawan perusahaan properti, bahkan daeng penjual kopi hitam di samping proyek perumahan itu tak jadi pengangguran karena para tukang tetap bekerja dan tak boleh mengantuk. (imam dzulkifli)

Penulis : | Editor :

Related posts