Wabup Ajak Penerima Bantuan Sosial Berjuang Jadi Mandiri

Deklarasi "Gerakan Ayo Kuliah" di sela rakor PKH Kabupaten Maros, Rabu, 17 Maret 2021. (FOTO: ASTY UTAMI/MATAMAROS.COM)

MAROS, MM – Wakil Bupati Maros, Suharti Bohari mengaku senang karena pendistribusian bantuan sosial, salah satunya Program Keluarga Harapan (PKH) berjalan baik.

Namun, dia juga meminta peran aktif para pendamping PKH untuk tak henti memotivasi. Sekarang boleh dapat bantuan, seiring waktu harus semakin bangkit agar bisa mandiri.

Read More

Mantan anggota DPRD Maros itu menyebut bahwa sudah saatnya mindset atau pola pikir masyarakat diubah.

“Jangan tiba-tiba ada bantuan, semua berubah menjadi miskin,” sebut wanita berhijab itu saat membuka Rapat Koordinasi Program Keluarga Harapan, di Ruang Pola Kantor Bupati Maros, Rabu, 17 Maret 2021.

Menurut dia, dorongan harus diberikan kepada masyarakat. Misalnya menunjukkan alangkah baiknya menjadi seorang pelaku wirausaha.

Di luar itu, Suhartina mengimbau para pendamping PKH memperhatikan siapa yang betul-betul pantas mendapatkan bantuan

“Perbaiki data, agar tak ada lagi masyarakat yang tidak tertangani,” pintanya.

Suhartina juga mengungkapkan rasa bangga sebab ada 54 pendamping Program Keluarga Harapan dan lebih dominan perempuan.

Kepala Dinas Sosial, Prayitno juga menyampaikan bahwa ada 14.000 masyarakat Maros masuk dalam program tersebut.

Dia menjelaskan, mereka yang jadi keluarga penerima manfaat (KPM) di PKH adalah keluarga miskin yang memiliki komponen. Misalnya di dalam sebuah keluarga ada ibu hamil, penyandang disabilitas, dan lansia. Di dalamnya juga ada anak usia sekolah dari SD sampai SMA

“Jika ada masyarakat miskin yang tidak memiliki komponen, maka dia mendapat bantuan program sembako. Jadi yang mendapat sembako dan masuk PKH itu ada 25.000 orang,” ucapnya.

Acara tersebut juga dihadiri oleh Bupati Maros Chaidir Syam, Korkab PKH Maros, Muhammad Agus, para camat dan kepala desa, serta para pendamping PKH.

Di selama acara juga digelar deklarasi Gerakan Ayo Kuliah (GAK) anak KPM di Kabupaten Maros.

Muhammad Agus menjelaskan, GAK merupakan kegiatan inovasi yang sejalan dengan tujuan PKH, untuk memutus mata rantai kemiskinan antargenerasi

Diharapkan di masa mendatang, dengan kuliahnya anak- anak PKH, ada peluang mereka mendapatkan pekerjaan yang lebih layak. “Dan kita bisa turut berkontribusi memutus warisan kemiskinan antargenerasi,” ujarnya. (ast) 

Penulis : | Editor :

Related posts