Kepemimpinan Berbasis Otak Sehat, Presiden hingga Ketua RT Harus Baca Ini

Prof Taruna Ikrar. (FOTO: IST)

MAKASSAR, MM – Jangan sampai ada pemimpin yang menolak perubahan dan peluang berkembang. Prof Taruna Ikrar, dokter dan ilmuwan kelahiran Makassar membuat tulisan khusus bertemakan NeuroLeadership. Taruna adalah ahli dalam bidang farmasi, jantung, dan syaraf. Sejak Januari 2017 diangkat sebagai professor dan dekan di Biomedical Science, The National Health University, California, Amerika Serikat.

Berikut tulisannya:

Read More

Kepemimpinan Indonesia Berbasis NeuroLeadership

Indonesia merupakan negara yang sangat besar. Wilayahnya luas, membentang dari antara dua samudera (Pasifik dan Hindia) serta berada di antara dua benua (Asia dan Australia) dan terdiri dari lebih 17 ribu pulau. Didiami oleh ratusan etnis atau suku yang berbicara dalam banyak bahasa; berbeda-beda.

Demokrasi Indonesia saat ini berada dalam tahap perkembangan yang positif dan layak diapresiasi. Pendapat ini merujuk beberapa realitas politik seperti pelaksanaan pemilu yang demikian berkembang. Mulai pada tingkat kabupaten/kota, provinsi, dan akhirnya pada tingkat nasional, yang berlangsung relatif aman dan terkendali, tanpa menimbulkan gejolak atau kekerasan dan tidak membawa kekacauan.

Selanjutnya dari segi ekonomi, juga mengalami kemajuan yang luar biasa.

Bahkan Indonesia akan menjadi perekonomian keempat terbesar dunia pada 2050, melonjak dari posisi kedelapan pada 2016. Sebelum sampai pada posisi itu, Indonesia akan berada pada posisi kelima pada 2030. Prediksi ini ditulis oleh satu perusahaan konsultan terkemuka dunia, Price Waterhouse Coopers (PWC), yang antara lain mengutip data dari Dana Moneter Internasional (IMF).

Menurut PWC, pada 2016 Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tercatat sebesar USD3 triliun, dan akan melonjak menjadi USD5,4 triliun pada 2030 dan USD10,5 triliun pada 2050. Pada 2030 perekonomian Indonesia akan menggeser posisi Rusia dan Brasil, dan pada 2050 akan menggeser posisi Jepang.

Tiga negara yang akan lebih besar dari Indonesia berturut-turut adalah China, India, dan Amerika Serikat.

Baik dari segi demokrasi dan ekonomi, demikian pula dalam semua sektor kemajuan Indonesia, sangat ditentukan oleh kepemimpinan.

Oleh karena itu, untuk menggapai kemajuan pesat tersebut dibutuhkan pemimpin yang hebat, kepemimpinan Indonesia dapat dilihat dalam perspektif neurosains yang disebut Neuroleadership.

Growth Mindset

Fakta ilmiah ini memberi harapan baru di hampir seluruh lini hidup manusia, termasuk dalam dunia kepemimpinan. Jika satu individu bisa belajar dan berkembang tanpa batas, demikian halnya sebuah komunitas, organisasi, atau bahkan sebuah bangsa.

Maka jika pada prolog kami menyebut “alasan untuk optimistis”, di sinilah terletak argumen ilmiahnya yang paling mendasar. Jika satu individu bisa berubah dan berkembang menjadi lebih baik, tak pelak lagi, sebuah komunitas, organisasi, atau bangsa juga bisa berubah ke arah yang lebih baik.

Persoalannya adalah, apakah komunitas atau organisasi menyadari kemungkinan itu, dan apakah mereka tahu ke mana perkembangan akan diarahkan.

Bagi dunia leadership, persis pada yang terakhir ini terletak tantangan sekaligus peluang. Di satu sisi seorang leader (mestinya) menyadari potensi perubahan dan perkembangannya, tetapi di sisi lain dia harus mampu menyadarkan seluruh pihak dalam komunitas atau organisasinya, baik tentang potensi maupun arah perkembangannya.

Dari sinilah kemudian muncul imperatif besar: ayo berkembang, ayo bertumbuh, ayo berjalan menuju sasaran. Banyak leaders yang kemudian semacam mantra baru, yakni bahwa untuk bisa mengakselerasi perubahan dan perkembangan, semua pihak perlu memiliki pola pikir bertumbuh.

Semua orang perlu yakin bahwa mereka memiliki peluang tumbuh dan berkembang tanpa batas.

Di sinilah seorang leader berhadapan dengan mentalitas pribadi-pribadi yang dipimpinnya. Mentalitas itu tercipta dari pengalaman, pendidikan, sejarah hidup, dan lingkungan. Dalam realitas memang ada orang-orang yang memiliki mentalitas dan pola pikir bertumbuh (growth mindset).

Mereka adalah orang-orang yang optimis melihat masa depan, karena yakin bahwa masa depan yang lebih baik bisa diperjuangkan bersama. Tetapi sebaliknya ada juga orang-orang yang “merasa sudah jadi”.

Mereka selalu mengklaim “saya ya seperti ini.” Mereka tidak mau berubah dan selalu berkilah “saya punya prinsip.” Orang seperti ini cenderung tertutup terhadap aneka kemungkinan baru (fixed mindset).

Kalau di sini dipakai istilah “cenderung”, karena pada dasarnya tidak ada orang yang 100 persen berpola pikir bertumbuh atau 100 persen berpola pikir tetap. Catatan ini perlu dikemukakan karena banyak leaders yang berpikir begitu.

Bahkan banyak yang berpikir bahwa pembagian itu sedemikian mekanistis sehingga bisa dilakukan proses switch. Dari fixed mindset ke growth mindset. “Kalau bisa begitu memang semuanya jadi mudah,” kata David Rock, pendiri NeuroLeadership Institute. “Tapi kenyataannya tidak sesederhana itu.”

Dalam diri seseorang ada baik fixed-mindset maupun growth-mindset. Bahwa Anda begitu yakin bisa belajar menyetir mobil tetapi pada saat yang sama yakin tidak akan bisa bermain biola membuktikan bahwa kedua mindset itu ada dalam diri Anda.

Memimpin Transformasi

Tampaknya David Rock benar. Dalam diri setiap manusia terdapat baik kecenderungan untuk tak mau berubah maupun kecenderungan untuk berubah. Ini menyangkut baik sikap mental maupun cara berpikir (mindset).

Tetapi pada saat yang sama kita menyadari bahwa mentalitas dan pola pikir bertumbuhlah yang akan membawa kita pada realitas baru yang kita impikan, yakni realitas baru Indonesia maju. Di sanalah terletak tugas seorang pemimpin.

Seorang pemimpin harus mampu (1) menyadarkan orang tentang perlunya hijrah dari fixed mindset menuju growth mindset, dan (2) harus mampu memimpin hijrah itu sendiri.

Menggunakan terminologi hijrah, dalam neuroleadership ada satu “situasi jahiliah” yang perlu disadari dan dipikirkan. By default manusia akan bekerja dengan otak emosinya; dengan reptilian-brain-nya. Ketika mengambil keputusan atau merespons sesuatu, pertama-tama yang akan muncul adalah logika emosinya. Ketika harus memilih makanan, minuman, teman, pasangan hidup, bahkan pilihan politik, pertimbangan yang pertama muncul adalah manakah yang menyenangkan hati; mana yang lebih memuaskan.

Proses pemilihan lebih didasarkan pada faktor suka atau tidak suka. Alasan rasional biasanya baru menyusul kemudian, lebih sebagai alat pembenar.

Yang terakhir ini bukan penemuan yang terlalu baru. Sudah lama para pembuat iklan, perancang kampanye politik, dan para negosiator bisnis memanfaatkan fakta itu. Dengan pengetahuan yang mereka miliki, mereka memengaruhi kelompok sasaran untuk menyukai atau tidak menyukai sesuatu, sehingga kemudian mudah diarahkan pada keputusan tertentu.

Lihat saja iklan-iklan rokok yang justru menertawakan bahaya merokok. Justru lelucon itu yang kemudian menyebar dan menciptakan deep connection antara masyarakat dengan produsen rokok.

Atau contoh yang lebih mendunia, bagaimana Cambridge Analytica, yang mampu “menaklukkan” masyarakat yang berpikir maju seperti Inggris dan Amerika, hingga Brexit dan Trump menang atas lawannya.

Otak emosi adalah bagian otak yang paling purba. Dia ada pada binatang yang paling primitif, yakni kelompok reptil. Itu sebabnya otak emosi disebut dengan reptilian brain. Secara umum dia bekerja untuk tujuan survival. Karena itu dia hanya melihat segala sesuatu dari dua sisi: ancaman atau kesempatan. Kalau dalam dunia motivasi kita mengenal istilah reward dan punishment, sesungguhnya yang sedang dieksploitasi dalam proses motivasi itu adalah otak reptil seseorang. Dan fakta brutal yang kita hadapi adalah bahwa sebagian besar manusia mendasarkan keputusannya pada otak emosi ini. Orang mengambil keputusan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu karena takut terjadi sesuatu yang buruk atau membahayakan, atau demi mendapatkan sesuatu.

Padahal manusia, atau kelompok homo sapiens, memiliki otak modern, yakni otak sadar atau otak berpikir. Betapapun secara volume bagian ini kecil, otak sadar inilah yang membedakan manusia dari makhluk hidup yang lain. Otak inilah yang membuat orang memiliki kesadaran diri; membuat orang bisa memiliki sistem nilai; bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik; bahkan bisa membuat orang berpikir transenden, memikirkan hal-hal yang melampaui apa yang tertangkap oleh indra.

Otak modern membawa orang ke tahap waskita dan bijaksana.

Modernitas Berpikir sebagai Budaya

Karena itu kata kunci dalam neuroleadership adalah: hijrah. Pada kesempatan pertama neuroleadership bukan soal bagaimana seorang leader mengubah mereka yang dipimpin, melainkan mengubah dirinya sendiri. Neuroleadership harus berangkat dari kesadaran bahwa dia sendirilah yang harus lebih dulu melakukan hijrah atau transformasi.

Dia harus terlebih dulu bersikap kritis terhadap mentalitas dan pola pikirnya. Dia harus menyadari sejauh mana dia masih berpola pikir fixed, dan sejauh mana sudah berpola pikir growth. Dia juga harus mulai mengenali diri sendiri, sejauh mana reptilian brain masih membelenggunya, dan sejauh mana hidupnya sudah dipimpin oleh kesadaran dan sistem nilai.

Hanya ketika sudah mampu mentransformasi diri, seorang leader berpeluang untuk membantu tribe-nya untuk juga bertransformasi; untuk meninggalkan pola pikir fixed dan mengadopsi pola pikir growth; untuk hijrah dari reptilian brain ke human brain, dari otak emosi ke otak sadar, dari kecenderungan impulsif ke kerelaan berkontemplasi.

Namun perlu segera disampaikan satu catatan di sini, transformasi di ini bukan berarti meninggalkan dan mengabaikan yang lama. Bagaimanapun otak emosi tetap ada dalam diri kita, dan ada di sana untuk sebuah tujuan. Manusia tetap membutuhkan rasa takut, rasa cemas, stres, sedih, haru, gembira, bahagia, sukacita dan sebagainya.

Transformasi atau hijrah di sini lebih dalam arti kita harus lebih mampu mengontrol; kita harus mampu menggunakan seluruh bagian otak dengan bijaksana, dengan cerdas.

Dalam alur berpikir itulah visi Indonesia Maju bisa ditempatkan dan didiskusikan. Visi Indonesia maju adalah soal membangun dan membawa bangsa Indonesia lebih “cerdas otak”. Ini adalah soal bagaimana kita membangun bangsa yang cerdas emosi; bangsa yang mampu mengolah emosinya, sehingga menjadi bangsa yang hangat, yang ramah, bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain. Kita harus membawa bangsa ini sebagai bangsa yang cerdas emosi, cerdas sosial. Pada saat yang sama kita sebagai bangsa juga harus semakin “cerdas prefrontal cortex”.

Pada tingkat kesadaran kita harus menjadi bangsa yang semakin bijaksana dan waskita, dan pada sisi pemikiran kita harus menjadi dan semakin unggul dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Aplikasi Neuroleadership

Leadership diibaratkan seperti sebuah kelompok dalam perjalanan yang membutuhkan komando. Kemudian muncul salah seorang yang berinisiatif melakukan rekayasa dan diikuti oleh yang lain. Banyak orang beranggapan bahwa kepemimpinan adalah sebuah seni yang membutuhkan keterampilan khusus. Keterampilan tersebut dapat berupa kemampuan untuk mengelola sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Dengan demikian seorang pemimpin akan dapat menentukan arah yang tepat dan bertanggung jawab atas apa yang ia putuskan.

NeuroLeadership merupakan ilmu yang menggabungkan kepemimpinan dan fungsi otak. Seperti halnya otak yang tercipta sebagai penentu kebijakan, seperti itu pula otak akan dimintai pertanggungjawaban. Leadership membentuk tanggung jawab dari proses pengambilan keputusan.

Dalam proses pengambilan keputusan, terjadi berbagai gejolak emosi merupakan proses interaksi yang amat menarik di otak. Tentu ada risiko baik dan buruk, namun yang lebih penting dari itu adalah ke mana kepemimpinan itu bermuara. Pada akhirnya kepemimpinan adalah bentuk pertanggungjawaban dunia dan akhirat.

Proses pengambilan keputusan itu secara sistematis bermula dari otak tengah yang terstimulasi ke otak depan, kemudian dari otak depan muncul kebijakan yang diteruskan menuju otak belakang.

Yang diharapkan dari proses ini adalah munculnya kesepakatan bersama yang saling menguntungkan. Pertanyaannya, bagaimana caranya agar win-win solution itu tercapai?

Dibutuhkan kepekaan pemimpin dalam melakukan analisis sebelum mengambil keputusan.

Kepekaan itu didasarkan atas berbagai variabel: apakah ini yang dibutuhkan, apakah ini yang diharapkan banyak orang, apakah ini baik untuk organisasi, apakah ini bermanfaat, serta apa risiko dari keputusan ini?

Untuk itu seorang pemimpin memerlukan pengalaman yang panjang dan pengetahuan yang luas. Semakin panjang pengalamannya dan semakin luas pengetahuannya, maka semakin mampu ia mengaitkan dan menghubungkan saraf-saraf otak dan batinnya untuk menyatu dalam mengambil keputusan. Sehingga keputusannya pun menjadi akurat.

Ada banyak faktor yang menjadi pertimbangan seorang pemimpin dalam memutuskan sesuatu baik itu faktor akademik, kultural, maupun teologi keagamaan. Hal ini berkaitan erat dengan kearifan lokal yang ada di Indonesia, di mana setiap pemimpin diharapkan mampu membaca kebutuhan alam dan menyatu dengan alam. Itulah hal yang tak dimiliki makhluk lain di muka bumi, mengubah lingkungan.

Hanya manusia yang mampu memperbaiki atau merusak lingkungannya, kemudian mengembangkan, atau justru memusnahkannya.

Seorang pemimpin berbasis NeuroLeadership diharapkan mampu menemukan harapan rakyat, bukan yang menakut-nakuti rakyat dengan berbagai ancaman. Semakin besar harapan yang ditumbuhkan akan membuat kepemimpinannya berlaku efektif. Walau memang terkadang banyak sekali godaan untuk menebar ancaman yang secara neurosains sangat kuat di otak.

NeuroLeadership adalah paradigma baru. Dari situ muncul pendekatan baru yang dapat melihat perilaku manusia berdasarkan struktur otaknya, bahkan untuk melihat kecenderungan politik seseorang berdasarkan karakter dasar partai atau calon yang dipilih.

Bicara otak tak akan lepas dari dua hal: yakni bentuk fisik dan non fisik. Bentuk fisik dapat disebut sebagai struktur otak, sedangkan bentuk non fisik disebut juga jiwa yang tak terlihat. Semua saling berkaitan dan saling melengkapi. Seorang dengan gejala kejiwaan bisa jadi dikarenakan ada struktur otak yang bermasalah entah karena faktor fisik ataupun zat yang dapat membuat otak cedera.

Dari situ muncul kepribadian yang memiliki pengaruh terhadap performa. Sebagaimana diketahui bersama bahwa di dalam otak ada 187 miliar sel saraf yang tiap satu sel kemampuannya sama dengan satu komputer tercanggih saat ini. Koneksi itu yang menentukan prototipe atau karakter seseorang. Apakah dia seorang yang tenang atau emosional, pemikir ekstrim, lateral atau moderat.

Semua itu tak lepas dari tiga proses yang terjadi di dalam otak: neuroplastisitas, neurogenesis, dan neurokompensasi. Uniknya, sinyalemen dan karakter itu dapat dipetakan dan tergambar di dalam otak.

Yang perlu ditekankan dalam proses di atas adalah neurokompensasi. Bisa dibilang neurokompensasi adalah kemampuan orang untuk bangkit setelah terjatuh. Contoh konkretnya adalah ketika kita belajar naik sepeda, dibutuhkan keseimbangan sehingga kita fokus dan juga harapan agar bisa naik sepeda. Tanpa lelah kita terjatuh, bangun, mengayuh, lalu terjatuh lagi. Namun dari situ muncul semacam keahlian yang membuat kita dari tak mampu menjadi mampu mengendarai sepeda, sehingga kita pun memiliki refleks saat menaikinya dan pada akhirnya kita merasa rileks tanpa beban.

Tak dapat dipungkiri bahwa neurokompensasi sangat ditentukan oleh dua faktor utama: genetik dan lingkungan. Bagaimana pun faktor genetik memberi andil terhadap karakter seseorang, dan lingkungan memperkaya karakter tersebut. Orang yang dibesarkan di lingkungan kepemimpinan yang baik oleh seorang presiden misalnya, akan membentuk karakter memimpin pada dirinya.

Termasuk juga karakter kurang baik seperti anak mafia yang pada akhirnya “ikut” menjadi mafia.

Di Amerika pernah dibuat sebuah penelitian yang melihat kecenderungan pemilih berdasarkan struktur otaknya. Ternyata ada perbedaan struktur otak antara mereka yang memilih Partai Demokrat yang notabene masyarakat kelas bawah, dan Partai Republik yang notabene kalangan menengah ke atas. Bahkan kecenderungan pilihan itu dapat menetap hingga tujuh turunan kecuali faktor lingkungan “berhasil” mengubahnya.

Untuk kasus Indonesia, NeuroLeadership dapat dipergunakan untuk melihat kecenderungan politiknya berdasarkan kebiasaan otaknya. Tentu yang diharapkan di sini adalah terjadinya neuroplastisitas yang membuat otak jadi semakin sehat dan bertumbuh.

NeuroLeadership merupakan istilah pembaruan dari bagaimana pemimpin menggunakan akal dan pikirannya, yaitu tentang cara seorang pemimpin mengutamakan akalnya dari semua bentuk emosi, egoisme, keberpihakan sempit, ekstremisme, dan lain-lain.

Disiplin keilmuan ini hendaknya dilihat dari empat sudut kebenaran. Mulai dari kebenaran filosofis, kebenaran sosiologis, kebenaran yuridis, dan kebenaran kultural. NeuroLeadership membahasakan kebenaran dengan bahasa akademik dan dapat dipertanggungjawabkan.

Dengan NeuroLeadership, seorang pemimpin dituntut untuk terus bergerak, tumbuh, dan berkembang menjadi lebih baik dari hari ke hari. Dalam psikologi dikenal istilah positive psychology, itu pula yang diperjuangkan oleh NeuroLeadership, yakni melihat segala sesuatu dari sudut pandang kekuatan.

Neuroleadership menjadi pencerahan baru yang tidak meninggal unsur manusia insani, karena ujung dari kepemimpinan adalah rahmat atau kasih sayang. Tidak boleh ada kepemimpinan yang menjerumuskan. Untuk itu kepemimpinan berbasis otak sehat merupakan suatu kebutuhan dan harapan baru.

Ke depan, dunia dihadapkan pada sesuatu yang tidak pasti, berubah-ubah, kompleks, dan ambigu. Di situlah peran NeuroLeadership menjaga kewarasan dan ketenangan kondisi Indonesia. Tentu semua bermula dari individu yang telah dicerdaskan otak (emosi)-nya.

Pemimpin Indonesia adalah pemimpin yang memiliki kapasitas yang komprehensif, sehingga berani mengambil risiko serta bertanggung jawab. Untuk itu perlu kiranya kita memilih pemimpin yang tepat. Tepat di sini artinya pemimpin tersebut adalah seorang yang berpola pikir bertumbuh (growth) dan transformasional.

Jangan sampai memilih pemimpin yang berpola pikir tetap (fix) dan tidak terbuka terhadap perubahan. Lebih bahaya lagi pemimpin dengan otak destruktif yang tidak mengenal kultur, sejarah, filosofi dan kondisi sosial bangsa Indonesia, yang ujungnya membentuk gaya memimpin otoriter.

Terakhir, NeuroLeadership adalah keteladanan di mana fenomena sudah tidak lagi mampu menjelaskan kompleksitas. Dibutuhkan model pemimpin yang tenang, yang mampu memecahkan berbagai persoalan, pemimpin yang memiliki kapasitas melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Dengan demikian, seluruh rakyat Indonesia dapat berbangga karena telah memiliki model pemimpin ideal, itulah kepemimpinan NeuroLeadership yang terpatri di dalam diri sendiri. (*)

 

Penulis : | Editor :

Related posts