Santunan Kematian Petugas Pemilu di Maros Menguap Sejak 2019, Sapma PP Surati KPU

Ketua Sapma PP Maros, Ahmad Takbir Abadi (kiri) menyerahkan surat kepada Ketua KPU Maros, Syamsu Rizal, Selasa, 23 Maret 2021. (FOTO: IST)

MAROS, MM – Keluarga Isparianto, petugas KPPS di TPS 3 Lingkungan Kadieng, Kelurahan Hasanuddin, Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros, yang wafat dalam tugas saat Pemilu Legislatif (Pileg) 2019, belum juga menerima santunan.

Pesta demokrasi itu sudah dua tahun berlalu. Namun santunan kematian yang dijanjikan Komisi Pemilihan Umum (KPU) tak jelas pencairannya. Ismail, ayah almarhum Ispar, pun meminta pendampingan ke beberapa lembaga.

Read More

Salah satu yang diminta mempertanyakan itu adalah Sapma Pemuda Pancasila (PP) Kabupaten Maros. Selasa, 23 Maret 2021, Ketua Sapma PP Maros, Ahmad Takbir Abadi menemui Ketua KPU Maros, Samsu Rizal.

Menurut Takbir, Ismail sadar santunan tersebut tak akan mengembalikan nyawa anaknya. Namun karena itu sudah menjadi janji negara dan memang dianggarkan, maka perlu diperjuangkan. Apalagi Ispar meninggalkan keluarga, ada ayah, ibu, serta adik yang kini sedang dilanda kesusahan hidup.

Ayah Ispar tersebut mengaku pernah didatangi petugas dari KPU Maros untuk melengkapi administrasi. Namun sampai saat ini tak ada kabar pencairan.

Sapma PP Maros pun mendatangi KPU untuk melakukan klarifikasi. “Kami datang untuk menyampaikan itikad baik dari surat kami terkait belum adanya santunan ke ahli waris,” ucap Takbir.

Pihaknya berpatokan pada putusan MK No.55/PUU-XVII/2019 yang secara tegas menghitung angka kisaran santunan bagi petugas Pemilu yang meninggal dunia maupun sakit parah.

Ketua KPU Maros, Syamsu Rizal menjelaskan bahwa pihaknya memang sudah melakukan pendataan administrasi kepada keluarga korban. Kemudian diteruskan ke KPU pusat sebagai pihak yang punya domain.

Menanggapai surat dan kedatangan pihak Sapma PP, Rizal berjanji meneruskan surat tersebut ke Ketua KPU Provinsi Sulawesi Selatan untuk kemudian diteruskan ke Ketua KPU di Jakarta.

Isparianto (diberi tanda) pada hari Pemilu 2019, 9 April. (FOTO: DOK)

Pemilu 2019 memang menyisakan duka mendalam. Total ada 894 petugas yang meninggal dunia dan 5.175 petugas mengalami sakit. Sistem pemilu yang penghitungan suaranya saja ada yang sampai dini hari bahkan siang hari dicurigai membuat banyak petugas kelelahan, kemudian sakit, dan banyak yang wafat.

Ispar sendiri wafat di usia 21 tahun setelah 10 hari menjalani perawatan di Puskesmas Mandai dan RSUD Salewangang, Maros. Dia meninggal di RSUD Salewangang, Selasa malam, 14 Mei 2019. (abr) 

Penulis : | Editor :

Related posts