Disbudpar Ajak Warga Desa Ramaikan Museum Daerah

Sosialisasi Museum Daerah, Selasa, 6 April 2021. (FOTO: IST)

MAROS, MM – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Maros ingin Museum Daerah familiar. Dikunjungi banyak orang, dari berbagai kalangan.

Disbudpar kini menyasar warga desa. Serangkaian sosialisasi digelar. Sasarannya ada 14 desa.

Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Maros, Andi Yuliana mengatakan, program ini merupakan lanjutan sosialisasi yang dilakukan di sekolah pada 2020 lalu.

“Sebelumnya ke pelajar. Kali ini kita perluas ke masyarakat desa,” katanya, Selasa, 6 April 2021.

Empat belas desa sasaran tersebar di sembilan kecamatan. Tanralili, Marusu, Lau, Mandai, Bantimurung, Simbang, Moncongloe, Maros Baru, dan Tompobulu.

“Untuk sementara ini kita lakukan di 14 desa yang tercatat memiliki (lembaga) adat tersendiri. Ke depannya akan ditambah,” imbuh Yuli.

Selain sosialisasi, Disbudpar juga tengah mencari benda-benda bersejarah yang ada di tiap desa itu. Tujuannya, warga yang memiliki benda bersejarah bisa menyumbangkannya ke Museum Daerah sebagai bahan pembelajaran.

“Siapa tahu ada yang punya dan tidak tahu harus dibawa ke mana, kita minta agar dibawa ke museum,” ujarnya.

Museum Daerah di Maros memiliki koleksi benda bersejarah sebanyak 146 buah. Nilai sejarah dari setiap benda itu diharapkan bisa menjadi wawasan bagi pengunjung. Sehingga tidak buta mengenai sejarah Butta Salewangang.

Hari ini sosialisasi digelar di Kecamatan Bantimurung, Disbudpar mengundang unsur pemerintah desa, tokoh masyarakat, pemuda, dan pelajar.

Ketua tim cagar budaya Maros, Ramli, memaparkan sejarah mulai dari episode cerita leluhur, periode VOC era 1704-1731, hingga periode kemerdekaan. Juga pemaparan sejumlah benda bersejarah yang telah mengalami proses islamisasi.

“Banyak peninggalan sejarah kolonial di Kabupaten Maros. Mulai dari gajah imut, investasi VOC terkait tambang emas dan sebagainya,” kata pria bergelar akademik doktor itu. (suf) 

Penulis : | Editor :

Related posts