Puncak Mudik Sudah Terjadi, Siapa Lagi yang Hendak Dicegat Tanggal 6?

Begitu banyak yang menilai larangan mudik tidak lebih dari seremoni untuk terlihat melakukan sesuatu. Dan rasanya tudingan itu agak sulit dibantah. 

Oleh Imam Dzulkifli 

Read More

JIKA Anda menemani saya pergi beli sop saudara malam tadi, Anda akan ikut terjebak kemacetan panjang. Poros Makassar-Maros atau bisa pula disebut Maros-Pangkep padat oleh bus yang sesak kursinya, sepeda motor yang sadelnya memuat kardus, hingga mobil pribadi yang penuh orang dan barang.

Larangan mudik justru hanya mempercepat kepulangan orang-orang. Mereka berangkat sebelum tanggal 6. Sebelum pos-pos penyekatan itu berdiri dan banyak yang harus begadang, memeloti siapa saja yang hendak melintas.

Namun saya memprediksi petugas di pos-pos perbatasan itu tidak akan terlalu bekerja. Sebab warga yang hendak dihalangi, sudah selonjoran di kebun orang tuanya. Ngabuburit sambil menertawai berita-berita. Mungkin mereka lebih memilih mandi-mandi di sungai daripada membuka ponsel untuk membaca tulisan semacam ini.

Nyatanya memang semua bebas saja melaju, selama tanggal 6 Mei belum tiba. Toko roti di poros Maros sangat ramai oleh mereka yang mampir mengemas oleh-oleh.

Kita, termasuk bapak-ibu pemerintah, pun tahu itu perjalanan mudik, namun tidak bisa berbuat apa-apa karena baru tanggal 3. Malam nanti baru tanggal 4. Besoknya baru tanggal 5 dan percayalah itu puncak arus mudik tahun ini.

Hari ini di Bandara Sultan Hasanudin, calon penumpang padat bukan main. Kerumunan yang diperkirakan pemerintah akan terjadi di dusun-dusun malah terjadi di loket check in tiket pesawat. Antrean sampai keluar ruangan, sampai ke taman. Dua maskapai harus menambah jadwal penerbangan.

Hari Minggu lalu diperkirakan 13.000 orang yang tiba dan 12.000 orang yang berangkat di dan dari bandara itu. Pelabuhan juga makin padat meski tinggi gelombang laut masih mencemaskan.

Lantas, apa lagi yang mau dijaga mulai tanggal 6? Semua sudah berangkat sebelum berangkat itu dilarang. Semua sudah di kampung sebelum pejabat kita memberi kata sambutan dimulainya penutupan arus mudik.

Dan sejak awal memang tidak jelas apa yang ingin dicapai. Kerumunan yang diperkirakan akan terjadi di sekitar rumpun bambu dusun itu malah diciptakan di ballroom, gedung, pusat perbelanjaan, taman kota, kantor. Hanya turnamen sepak bola memperebutkan Piala Pak Zainuddin 2021 yang tanpa penonton di venue. Acara lain begitu padat.

Kerumunan yang dikhawatirkan terjadi di bawah pohon nangka di pelosok itu malah tak terhindarkan di mal-mal. Orang-orang yang dilarang mudik mengambur ke tempat yang bisa menelan uang tabungan mereka dengan cepat.

Dan tidak banyak yang peduli. Tidak banyak yang merazia. Tidak banyak yang mengingatkan.

Semua fokus ke pelarangan mudik. Berminggu-minggu ada rapat, penyusunan aksi, hingga penerbitan surat edaran agar masyarakat tidak pulang ke rumah tempat ibu atau adik-adiknya mungkin sudah lama menanti.

Pelarangan mudik diyakini bisa menghambat penularan Covid-19. Mudik disimpulkan sama saja dengan berangkat untuk membunuh kerabat di kampung. Pulang berarti meracuni paru-paru warga desa.

Tetapi di sisi lain terjadi tumpang tindih pencegahan. Kerumunan di tempat tertentu dibolehkan asal menghasilkan putaran uang, PAD, atau apalah. Resepsi oleh keluarga tertentu diizinkan asal memasang tulisan “menerapkan protokol kesehatan yang ketat”. Diketik dengan huruf tebal, entah diverifikasi penerapannya oleh siapa.

Mereka yang memerintahkan wajib masker tertawa-tawa lepas dengan mulut terbuka selagi tidak ada kamera selagi tidak sedang di kegiatan resmi. Imbauan jaga jarak redam oleh undangan menghadiri festival.

Larangan mudik dilonggarkan untuk wilayah yang dikategorikan aglomerasi. Mereka yang orang Maros namun bermukim di Takalar dipastikan tidak akan menularkan Covid-19. Mereka yang dari Sungguminasa diyakini tak bakal membawa virus ke Daya.

Karena sudah cukup lama di Indonesia, virus dianggap sudah bisa membeda-bedakan.

Makanya saya tidak jengkel ketika seorang teman terang-terangan ingin mudik. Dia dan banyak orang wajar “melawan”. Sebab di depan mata kekacauan aturan terjadi berulang-ulang.

Apalagi yang dihalau pemerintah kali ini sebenarnya memang bukan mudiknya. Tetapi rindu para perantau. Anda pasti tahu risikonya jika yang terhalang itu adalah perasaan ingin bertemu setelah sekian lama terpisah oleh kerjaan dan keadaan.

Lagipula, saya tidak yakin mereka yang mudik itu datang untuk membunuh. Mereka sudah setahun lebih belajar mengatasi virus. Membaca banyak hasil riset. Menerapkan berbagai simulasi.

Mereka mungkin akan mengganti pelukan erat dengan salaman secepat kilat asal bisa makan kari ayam bersama orang tua. Mereka tentu juga tahu caranya agar tak menularkan pilek kepada saudara-saudaranya.

Ya, saya tidak percaya mereka adalah pembunuh. Yang saya percaya mereka orang-orang realistis. Tahu bahwa larangan mudik seremoni belaka. Tahu bahwa kerumunan di mal atau kantor-kantor pemerintah itu jauh lebih berbahaya dari pertemuan privat seorang anak dengan ayahnya yang baru pulang dari sawah.

Namun sekuat apa mereka melawan, jelas siapa pemenangnya. Larangan mudik tetap akan berlaku. Pos-pos siap didirikan. Jadwal piket sudah dibagi. Meski entah siapa lagi yang hendak dihalau.

Semua sudah di kampung. Semua sudah muak. (*) 

Penulis : | Editor :

Related posts