NEWS  

Bius dari Biola 130 Tahun Tengku Ryo

Penampilan Tengku Ryo di Maros, Senin, 21 Juni 2021. (FOTO: ZUL KACANG/IST)

RUANGAN di lantai dua Warkop Berkah, Maros, itu semi tertutup. Di luar, hujan bulan Juni sedang turun. Cukup deras. Namun bunyi biola Tengku Ryo bisa menembus dua situasi itu. Bisa tiba di telinga para penonton, bahkan mungkin relung hati mereka.

“Merinding mendengarnya. Berkelas dunia,” ucap Syahril Bobi Arif, penonton yang duduk di meja depan, saat kopi pesanannya belum datang.

Nyatanya, ada beberapa orang lain yang merasa alunan dawai Ryo menyentuh perasaan mereka. Mereka mengaku dibuai instrumen klasik hingga kontemporer yang dipadu langgam melayu. Saking menikmatinya, mereka saling mengingatkan untuk tidak berisik, meski kemudian bergantian melanggar peringatan itu.

Lalu soal “berkelas dunia”, juga tidak berlebihan. Penilaian yang bisa diperdebatkan. Namun faktanya, Ryo sudah memainkan biolanya di Bosnia, China, Prancis, Italia, hingga Turki. Dia tiga kali jadi bintang tamu Couture Fashion Week di New York, kepercayaan besar yang membuat VOA Indonesia berani menyematkan gelar maestro biola kepadanya.

Tepuk tangan menambah riuh suasana sore hingga petang di lantai dua warung kopi di samping Pantai Tak Berombak (PTB) itu, Senin sore, 21 Juni 2021. Ryo menyelip biola ke dagu kirinya, agar bisa menggunakan kedua tangannya memberi penghormatan balik kepada penonton. Mungkin seperti itu juga gayanya ketika di New York.

Ryo, seorang bangsawan, menteri luar negeri di Kesultanan Serdang itu sekali lagi membuai dengan biolanya. Ya, sekali lagi. Sebab sudah berkali-kali dia menggunakan biola sebagai alat diplomasi. Ketika pendengarnya telah menikmati keindahan melodinya, di situlah dia bisa segera bicara sebagai saudara.

Di panggung kota mana saja, apalagi di luar negeri, Ryo selalu membanggakan nama negerinya, lewat sebuah identitas, pakaian berbahan songket. Itu hanya salah satu dari banyak kekayaan Indonesia, tetapi karena dia berasal dari wilayah yang khas oleh songket, itu yang jadi energinya.

Menggaungkan kedaulatan Indonesia di mata dunia. Jalan itu sudah ditempuhnya bertahun-tahun. Setelah penyesalan yang begitu telak menghampirinya di sebuah kereta jurusan Bandung-Jakarta, 2002.

Ryo yang begitu menyukai musik rock, menjadi pribadi yang sangat Metallica, menangis tersedu-sedu begitu membaca sebuah buku pemberian seorang pria tua di Taman Ismail Marzuki. Buku berjudul Amir Hamzah 1911-1946; Sebagai Manusia dan Penyair. Berisi memoar tokoh sastra semacam Asrul Sani, Ajip Rosidi, Goenawan Mohammad, serta pengantar HB Jassin. Semua bicara mengenai keteguhan Amir Hamzah berjuang lewat syair.

Amir Hamzah begitu kukuh menolak membuat puisi dalam bahasa Belanda maupun bahasa asing lain. Puisinya harus dalam bahasa Melayu atau bahasa Indonesia. Buat apa menggunakan kata yang bahkan belum resap di hatimu, begitu yang pernah dia ucapkan.

Ryo menangis lantaran baru menyadari betapa cinta leluhurnya pada negeri ini. Amir Hamzah adalah kakek dari ibunya, Tengku Sayafiah binti Tengku Awaluddin bin Tengku Tengku Soran bin Tengku Hamzah.

Sejak saat itu, Ryo bertekad mempelajari mengenai Melayu. Dia mulai mendatangi panggung-panggung seni budaya, tempat dan suasana yang sebelumnya selalu dia hindari.

Namun Ryo tidak anti budaya luar. Dia beranggapan bahwa apapun alat yang dipakai, secanggih apapun kelak, jika kontennya berakarkan budaya lokal, tetap bisa menyentuh hati orang Indonesia.

Maka dia pun menggunakan biola. Dia membuat melodi, cengkok, lengkingan bunyi khas Melayu. Kemarin saat membawakan lagu Simfoni yang Indah, melodi yang begitu Serdang, begitu Deli, begitu Langkat, sangat terasa.

Lebih menyayat lagi waktu Ryo memainkan sebuah lagu yang diciptakan tetua kesultanannya pada 1903. Musik yang menenangkan.

Bagi mereka yang lahir dan tumbuh di kalangan bangsawan Melayu, biola memang sudah menjadi bagian kehidupan. Turun temurun sejak bangsa Eropa membawa alat itu beberapa abad lalu ke tanah Sumatera. Abad ke-18 Sultan Serdang bahkan sudah membeli perangkat orkestra.

Biola yang dipakai Ryo di Maros ini usianya juga sudah cukup tua. Dibeli oleh Sultan V Serdang tahun 1891. Ya, semua yang hadir di ruangan itu dipukau oleh gesekan pada alat musik yang sudah mencapai umur 130 tahun.

Sekali lagi, kata Ryo, dia paham bahwa modernitas adalah keniscayaan. Hal-hal dari luar bisa masuk, tetapi harus ada yang bertahan tak goyah; nilai-nilai budaya di daerah masing-masing. Mencintai Indonesia tidak mesti menyeragamkan semua hal di negeri ini. Kekhasan Melayu, Bugis, Makassar, harus dijaga untuk menjadi benteng.

“Ketika di Amerika, saya mengakui tak akan bisa melawan kecanggihan mereka. Namun saya bisa menaklukkan mereka dengan budaya Melayu, mereka tidak punya hal seindah dan semistis itu,” ucapnya.

Standing applaus dari penonton. (FOTO: ZUL KACANG/IST)

Acara di Warkop Berkah kemarin memang didahului oleh sharing session. Temanya “Human Culture and Modernity”. Budayawan Maros, Wawan Mattaliu, mengedepankan kekhasan Maros. Daerah yang menurutnya bisa mengklaim sebagai Bugis dan sebagai Makassar sekaligus.

Penyair yang juga politikus itu juga mengaku kagum dengan persaudaraan yang dibangun kesultanan dan kerajaan di nusantara itu sejak berlampau silam. “Saya sepakat ketika Tengku Ryo menyebut sekarang sedang pulang ke Maros. Bukan datang ke Maros,” ucapnya.

Diskusi yang dipandu seniman Lory Hendrajaja itu sesungguhnya telah berakhir sejak Tengku Ryo mulai menggesek biolanya. Sang violinis bisa dengan cepat membius seisi ruangan. Begitu satu lagu selesai, permintaan lanjut ke lagu berikutnya terjadi spontan. “Kita tidak bisa membendung animo teman-teman,” ucap Sulaeman Samad, inisiator acara.

Sesi tanya jawab akhirnya disepakati digantikan oleh penampilan demi penampilan dari salah satu maestro biola Indonesia.

Penonton ikut menyanyi mengikuti melodi Tengku Ryo. (FOTO: ZUL KACANG/IST)

Ya, bukan hanya VOA yang menyematkan gelar maestro. Nyaris semua penonton petang kemarin berdiri di ujung lagu Simfoni yang Indah. Standing applaus untuk Tengku Ryo. Respons untuk selayaknya seorang maestro. (imam dzulkifli)