MAROS, MM – Dari jauh seperti tumpeng. Lauknya melimpah. Hanya saja nasinya tidak kuning. Dan memang sebenarnya bukan nasi. Tetapi bubur. Itu adalah jepe’ sura (bubur asyura) buatan Majelis Taklim Al-Fitrah, Desa Samangki.
Bubur tersebut adalah salah satu yang diikutkan lomba jepe’ sura di Masjid Almarkaz Al Islami, Maros, Kamis, 19 Agustus 2021. Hajatan itu digelar Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Maros bekerja sama Asosiasi Majelis Taklim Indonesia (AMTI) Maros.
Sumarni, perwakilan Majelis Taklim Al-Fitrah menuturkan, konsep jepe’ suranya adalah suasana pedesaan. Lauk dan sayurnya ada yang dimodel mirip pohon, tumbuhan.
“Jadi ada pohonnya, ayam, terus ada tumbuh-tumbuhan, ada tomatnya, dan itu semua kan dari desa,” katanya.

Sumarni mengaku pembuatannya dimulai sejak malam kemarin. “Kita sudah kerja sedikit demi sedikit. Mulai dari bahan yang bisa tahan lama kemudian kita lanjut tadi pagi. Peca itu bahan utamanya beras dan juga santan,” katanya.
Majelis Taklim Baitul Mu’minin Manggemba lain lagi. Temanya hari kemerdekaan. Makanya di atas peca’ ada bendera. Peca’ yang dibuat juga tidak terlalu dominan. Lebih banyak buah-buahannya.
“Sekalian kita merayakan 17 Agustus,” tutur Marni, perwakilan Majelis Taklim Baitul Mu’minin Manggemba.
Lomba peca’ sura tersebut dalam memperingati 10 Muharram 1443 Hijriah. Wakil ketua panitia,
Ansar Taufiq, smenuturkan kegiatan semacam ini bukan pertama kalinya.
“Sebelum ada Covid-19 sudah dilakukan. Nahkan terselenggara luar biasa banyaknya. Tahun ini kita kurangi jumlah pesertanya,” jelasnya
Ia menjelaskan bahwa peserta kali ini adalah majelis taklim perwakilan seluruh kecamatan di Maros. Ada beberapa unsur pada peca’ sura yang dinilai. Mulai dari tampilan, kerapian, keunikan, dan rasa.

Dalam rangkaian acara yang sama juga digelar doa dan zikir untuk keselamatan bangsa. Terutama dalam menghadapi pandemi Covid-19. (ast)







