PANGGUNGNYA kecil. Bahkan jika ada yang menggugat bahwa itu bukan panggung, benar juga. Boleh dikata hanya kayu persegi yang diselimuti karpet warna abu-abu. Namun di atasnya, Jumat malam, 5 Februari 2022, menjejak kaki para penyair (pensyair, KBBI).
Acaranya dinamai Kopi dan Puisi. Dan memang digelar di sebuah warung kopi. Atau mungkin kafe. Tetapi namanya Ale Coffee.
Penggagas acara, Lory Hendrajaya menyebut hajatan itu tak lebih dari pelepas rasa kangen. Diinisiasi oleh beberapa sastrawan maupun penikmat sastra di Maros. “Siapa tahu setelah ini kita bisa lebih banyak berkumpul dan baca puisi lagi,” katanya.

Pelepas rindu yang tak sempurna betul. Belum semua penyair yang selama ini kita dengar namanya di Maros hadir. Tetapi, seperti kata Lory, setidaknya ada yang telah dimulai.
Nyatanya panggung kecil itu mampu menghadirkan beberapa nama besar di jagat puisi. M Aan Mansyur ada juga di situ. Aan, salah satu sastrawan paling berpengaruh di kepenyairan Indonesia beberapa tahun belakangan datang dengan kemeja, celana chino, sepatu kets putih, dan dua buah buku puisinya (keduanya dia pergunakan, diambilnya masing-masing satu puisi).
“Makassar adalah Jawaban, tetapi Apa Pertanyaannya?” dan “Sudahkah Kau Memeluk Dirimu Hari Ini?” dibacakan Aan sambil menghadap ke timur. Sebagian orang akhirnya juga berhasil tahu, Aan, setidaknya dalam empat tahun terakhir, adalah warga Maros.
“Rumah saya di Jalan Garuda,” ucapnya di hadapan yang hadir dan kamera Maros TV.
Lory menyebut itu anugerah. Aan, salah satu penyair paling berbakat yang pernah ada, yang menulis puisi untuk Rangga kepada Cinta di film Ada Apa dengan Cinta (AADC) 2 itu kini menjadi orang Maros.
“Dan terima kasih karena mau hadir malam ini. Baca puisi sama-sama,” ucapnya kepada penulis berita ini. Aan mungkin akan membacanya.
Lory juga berterima kasih kepada semua yang telah mengisi panggung maupun yang datang untuk menikmati.
Kopi dan Puisi di Ale memang mempersatukan. Dari nama-nama yang biasa kita dengar membaca puisi seperti Daeng Jarre, Tunggal Hayaskoro, Sarnawiah Saing, Misbahuddin, Ima Fatimah, Sulaeman Samad, Mardianto, hingga penyair legendaris Ras A Gaffar. Belum lagi penyair-penyair dan penulis senior dari kabupaten atau kota lain yang mewarnai dunia sastra tanah air semisal Badaruddin Amir, Tri Astoto Kodarie, sampai Idwar Anwar. Beberapa mahasiswa juga mendapat kesempatan menunjukkan kebolehannya. Keluh Kesah dan Pararang, dua nama band, memainkan musikalisasi puisi dan lagu-lagu.

Wawan Mattaliu juga membaca puisi. Dia penampil pertama. Sebuah puisi pendek dipilih Wawan dari buku antologi “Mozaik Kalubampa”. Dia pakai topi, didaulat membuka pesta, membaca puisi, lalu turun untuk bertepuk tangan berkali-kali.
Anggota DPRD Sulsel, Andi Muhammad Irfan AB, pun sudah siap dengan sebuah puisi tentang anak karya Kahlil Gibran. “Undangannya memang untuk menghadiri acara baca puisi. Namun saya tahu itu jebakan. Saya pasti akan disuruh naik juga baca puisi,” tuturnya, tertawa, sembari membuka ponsel.
Acara baru selesai jelang pukul duabelas malam. Fadillah Idris yang memandu hajatan berkali-kali mengucap terima kasih, mewakili panitia kegiatan bertema “Di Sini Kata-kata Masih Terawat” itu.
Lory bilang ini sungguh baru awal. Katanya akan ada lagi yang begini. (imam dzulkifli)







