MATAMAROS.COM – Kasus sunting atau gagal tumbuh pada anak karena kekurangan gizi di Kabupaten Maros cukup memprihatinkan. Berada di angka 14 persen. Menempati peringkat kedua tertinggi di Sulsel.
Wakil Bupati Maros, Suhartina Bohari, merespons dengan pembentukan tim percepatan.
Dua kecamatan akan jadi percontohan. Masing-masing kecamatan dengan angka kasus tertinggi, Turikale, dan kecamatan dengan kasus terendah, Mallawa.
Suhartina berkunjung ke Posyandu Mekar I, Desa Uludaya, Kecamatan Mallawa, Kamis, 8 Juli 2022. Dia mengaku ingin menggali dan menemukan persoalan, merumuskan kasusnya, lalu langsung menindaklanjuti.
Ada dua kasus atau diduga stunting di Posyandu Mekar I itu. Mereka bersaudara.
“Setelah kita lihat, si adik ini sudah positif stunting. Sedangkan si kakak berdasarkan pengamatan, kelihatannya bukan stunting,” bebernya.
Suhartina pun meminta orang tua kedua anak itu memperlihatkan BPJS untuk dilanjutkan ke Dinas Sosial.
“Kami juga mengarahkan Pak Camat dan Pak Desa mengantar si kakak langsung konsultasi ke dokter anak di RS La Palaloi,” sebut mantan anggota DPRD Maros itu.
Suhra, ibu dari Asriana dan Aldi, dua bocah itu, mengaku putri dan putranya Suhra sama sekali belum pernah dibawa ke rumah sakit.
“Selama ini hanya diperiksa di puskesmas dan posyandu. Kalau kakaknya sudah sejak lahir ada kelainan. Tetapi Aldi baru tahu setelah dijelaskan ciri-ciri stunting,” sebutnya.
Suhartina mengakui langkah yang harus dilakukan tahun ini sedikit lebih berat. Sebab, selain menangani kasus stunting tahun lalu, juga mesti mencegah potensi kasus stunting tahun depan.
Beberapa penyebab sunting, kata Suhartina di antaranya menikah di usia muda dan tidak terpenuhinya gizi ibu saat hamil.
“Salah satu inovasi yang kita temukan dan mulai kita kembangkan adalah selai kelor dan beras yang mengandung zat besi tinggi,” tuturnya. (ast)







