SEBAGAI pengemudi mobil taksi bandara, Irwan Kusumayadi tak bisa memilih penumpang tujuan mana yang mesti diantar. Jika nomor antreannya di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulsel, sudah tiba, pemuda 25 tahun itu harus merapat ke terminal kedatangan dengan segala kemungkinan destinasi.
Tak jarang ia mendapat penumpang dengan tujuan cukup jauh. Seperti pekan lalu, dia mesti mengantar seseorang ke Pinrang, kabupaten yang berjarak 180-an kilometer dari Makassar. Kalau lancar, bisa ditempuh dalam empat atau lima jam menggunakan mobil dengan kecepatan sedang. Belum termasuk potensi macet panjang di Jembatan Pute, Maros, yang sudah berbulan-bulan direnovasi namun tak kelar-kelar.
Irwan sempat cemas. Sebab dia tak pernah tahu kartu internet IM3 yang diselip di simcard ponselnya bisa diakses sejauh apa dari ibu kota provinsi. Tanpa layanan digital, perjalanannya otomatis akan muram tanpa hiburan. Tak bisa memantau story WhatsApp kekasih hatinya. Tak bisa memutar lagu dari Youtube. Tak bisa menonton video-video cuplikan pertandingan piala dunia saat menunggu penumpang yang minta mampir.
Tetapi kecemasannya hanya soal waktu. Hilang “dilindas” roda perjalanan. Mobil semakin jauh ke utara provinsi, bandara semakin tertinggal di belakang, namun kualitas suara dan gambar lagu-lagu yang disetelnya dari Youtube, tetap stabil.
Bahkan hingga tiba di Pinrang pun, Youtube-nya tak berhenti memberi kesenangan. Setelah mengantar penumpangnya ke tujuan, Irwan memutar arah, menuju bandara, dan siap untuk perjalanan ratusan kilometer yang ditemani layanan IM3.
Pria lajang yang menyukai sepak bola dan menggemari Real Madrid itu pun semakin mantap dengan pilihannya memakai IM3. Selain bisa diandalkan untuk perjalanan ke daerah nun jauh, paket-paket data IM3 juga yang paling ramah dengan kantongnya.
Dengan pendapatan tak menentu setiap hari dan tak ada gaji tetap, Irwan tak mungkin harus mengeluarkan ratusan ribu rupiah per bulan hanya untuk paket data. Biar bagaimana membeli beras dan lauk tetap lebih prioritas.
“IM3 ini paling terjangkau harganya. Bayangkan, kalau saya beli paket Rp45 ribu, sudah bisa dapat kuota 18 Gb per bulan. Kadang jika sedang ada uang lebih, saya pakai yang Rp100 ribu. Itu sudah mendapat 50 Gb. Amanlah Youtube sepanjang waktu,” katanya, lalu tertawa, Senin, 19 Desember 2022.
Bila menggunakan operator lain, dengan jumlah uang yang sama, Irwan hanya akan mendapat kuota paling banter 5 Gb per bulan. Itu tak akan cukup untuk membuatnya selalu punya hiburan di jalan. Bisa-bisa pas asyik dengar lagu, terhenti pas di bagian reff.
Muhammad Ihsan, seorang mahasiswa arsitektur Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin, Makassar, juga sempat dilanda bimbang. Sebab dia harus pulang kampung sambil menunggu jadwal wisudanya. Kampungnya juga berjarak empat atau lima jam perjalanan. Tepatnya di Tabbinjai, perbatasan Kabupaten Gowa dan Kabupaten Sinjai. Terletak di “kaki” Gunung Bawakaraeng. Dikelili pepohonan dan sungai.
“Saya nyaris mengganti kartu IM3-ku karena mengira tak ada jaringan internet di sana,” tuturnya.
Ihsan ternyata terlalu lama di kota. Sampai ia tak tahu bahwa IM3 adalah satu dari sedikit provider yang bisa diandalkan untuk membuka internet di Tabbinjai.
Tiba di rumah orang tuanya, sembari disambut sayur rebung dan ikan goreng serta sambal terasi, Ihsan ternyata masih terhubung dengan teman-temannya di media sosial.
Dia juga masih bisa tetap mengerjakan orderan tanpa khawatir jaringan putus. Sebagai mahasiswa tahap akhir, Ihsan memang sudah mulai mendapat job. Paling banyak permintaan gambar desain rumah.
IM3 juga yang membantu Ihsan tetap bisa membuka laptop yang terkoneksi internet. Dia menggambar desain di antara sejuk alam desanya, ditemani ibunya.
Sama seperti Irwan, Ihsan merasa IM3-lah yang paling mengerti dengan isi dompet anak muda yang baru hendak memulai pencarian jati diri dan pekerjaannya.
Paket Murah
Kenyamanan yang dirasakan Irwan dan Ihsan sangat mungkin bisa semakin bertambah. Merger PT Indosat Tbk (ISAT) dengan PT Hutchison 3 Indonesia menjadi Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) membuat perusahaan semakin leluasa melakukan ekspansi. Termasuk peningkatan kualitas jaringan.
Penerapa tarif lebih murah kian terbuka. Integrasi yang dilakukan antara si kuning IM3 dan si ungu Tri membuat IOH bisa melakukan efisiensi sehingga menekan biaya produksi. Muaranya adalah termasuk paket-paket data yang murah untuk pelanggan.
Jumat, 16 Desember 2022 lalu di Jakarta, IOH memulai kampanye program Era Baru Hidup Simpel. Perusahaan mengajak generasi muda merayakan era baru dalam hidupnya. Era baru yang membawa kita kembali pada titik di mana semua yang dilakukan terasa seperti baru pertama kali dan lebih simpel. Dimulai dengan mudahnya kembali berkumpul bersama teman dan kerabat, menonton langsung konser offline, dan berbagai kegiatan temu fisik lainnya.
Dua belas musisi tanah air terlibat dalam video kampanye IM3 itu. Nama-nama yang mungkin sudah akrab di telinga dan wajahnya familiar di mata. Kunto Aji, Sal Priadi, Nadin Amizah, Rendy Pandugo, Fiersa Besari, Bilal Indrajaya, Idgitaf, Kelompok Penerbang Roket, Iwa K, Kill The DJ, Tuan Tigabelas, dan Asteriska.

Hidup Simpel bersama IM3 menghadirkan paket Freedom Internet 100 Gb dengan harga promo Rp 37.500. Penawaran ini diberikan untuk membawa pengguna memasuki era baru hidup yang lebih simpel dan transparan melalui akses luas ke internet.
“Menyambut tahun baru menandakan bahwa kita akan memulai era baru hidup kita, di mana tentunya kita ingin memiliki kehidupan yang lebih simpel,” ucap Ritesh Kumar Singh, Chief Commercial Officer Indosat Ooredoo Hutchison.
Irwan dan Ihsan di Makassar pun ternyata sudah tahu. Mereka tertarik menggunakan paket Freedom Internet. Kuota 100 Gb membuat mereka tak akan mungkin lagi mati gaya di jalan. Menunggu penumpang dan menggambar desain tidak bakal membosankan.
Merger Lancar
President Director dan CEO Indosat Ooredoo Hutchison, Vikram Sinha menyebut, integrasi yang dilakukan IM3 dan Tri Indonesia berjalan dengan baik.
Pihaknya telah mengaktifkan lebih dari 20.000 sites lebih banyak serta telah menetapkan 8.000 sites duplikat.
Itu membuat jaringan provider IOH, baik IM3 dan Tri bisa semakin meluas. Bahkan sebelum merger itu pun orang-orang seperti Irwan sudah bisa merasakan andalnya jaringan di daerah kabupaten. Apalagi kini dan nanti, saat dua kekuatan besar, yang dikenal dekat dengan dunia anak muda, menyatu.
Indosat Ooredoo Hutchison optimistis mencapai nilai sinergi sebesar USD400 juta pada tahun keempat. Padahal saat merger direncanakan, dua aset IM3 dan Tri hanya diprediksi menghasilkan nilai sinergi sekitar USD300 juta. Itu pun dalam jangka waktu lima tahun.
Menurut Vikram, dengan penggabungan dua perusahaan, Indosat Ooredoo Hutchison menjadi perusahaan dengan skala yang lebih ditingkatkan. Kekuatan finansial lebih baik, serta kepemilikan jaringan, talenta, dan kemitraan strategis yang lebih unggul.
Beberapa hari lalu, Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) merayakan satu tahun mergernya dengan pencapaian pelanggan sudah mencapai 100 juta.
“Ini pesan kepada tim kami bahwa harapan dan kepercayaan sangat tinggi,” kata Vikram di kantor Indosat, Jakarta.
IOH punya misi menjadi merek yang paling sederhana, transparan, namun dipercaya. IOH ingin menjadi partner digital bagi setiap penduduk Indonesia bahkan ketika orang itu merupakan pelanggan produk lain.
Sejak merger, IOH telah mengintergrasikan 43 ribu pemancar jaringan di seluruh Indonesia menggunakan teknologi Multi Operator Core Network (MOCN).
“Integrasi 43.000 sites sebagian besar ditargetkan akan selesai di akhir tahun 2022 untuk memberikan pengalaman digital pelanggan yang mengesankan,” kata Vikram lagi.
Orang-orang pelosok yang sudah di kota namun masih sering melakukan perjalanan jauh seperti Irwan dan Ihsan tak perlu mengganti IM3-nya. Mereka cukup setia menjadi pelanggan IOH dan menikmati setiap inovasi dan kemudahan digital yang akan lahir. (imam dzulkifli)







