NEWS  

Energi Bersih dari Belakang Rumah; Gratis untuk Semua Warga Desa

Anwar R, salah satu warga Desa Benteng Gajah memperlihatkan instalasi produksi biogas dengan kapasitas reaktor 6 kubik. (FOTO: IMAM DZULKIFLI/MATAMAROS)

Saat gas elpiji hilang di pasaran, masyarakat di desa ini lebih memilih melakukan sesuatu ketimbang meratapi keadaan. Hasilnya, energi baru didapatkan dan kompor kembali menyala, Abangku!

***

HARI Jumat yang sejuk di Benteng Gajah, sebuah desa di Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Nurlela menggendong anaknya dengan tangan kiri dan memutar knop kompor dengan tangan kanan.

Api yang muncul begitu biru, lebih biru dari langit pagi itu. Saya yang telah mendapat izin untuk masuk ke dapur keluarga itu memperhatikan dengan saksama dari mana datangnya gas yang meletupkan api. Sebab, tidak ada tabung elpiji di situ.

“Jangan heran. Rata-rata rumah penduduk di sini punya instalasi gas sendiri dan itu gratis,” tutur Nurlela. Nasi yang dimasaknya sebentar lagi matang.

Namun saya tertarik dengan kata “gratis” itu. Bagaimana bisa masyarakat di desa itu mendapatkan energi tanpa perlu mengeluarkan uang.

Ternyata, ada kaitannya dengan banyaknya populasi sapi di Benteng Gajah dan kejadian tak terduga pada 2016.

Nurlela bercerita, pada tahun itu, elpiji tak tersedia di warung-warung. Sekali ada, harganya melukai hati dan dompet.

“Waktu itu saya merasa marah pada pemerintah. Gara-gara mereka saya harus berurusan dengan kotoran sapi,” kenang Nurlela, sambil tersipu.

Kompor gas benar-benar tak bisa dinyalakan karena kelangkaan elpiji. Kopi panas untuk suami jarang bisa tersaji.

Nurlela memasak nasi di atas kompor yang menyala dengan api dari biogas, Jumat, 25 Agustus 2023. (FOTO: IMAM DZULKIFLI/MATAMAROS)

Dari mulut ke mulut muncul kabar bahwa beberapa orang di desa itu sedang mencoba mengkonversi kotoran sapi menjadi biogas. M Ilyas (43), suami Nurlela, pun pergi belajar di seberang pagar dan ternyata tidaklah rumit.

Bak dari gorong-gorong segera ditancap di dekat kandang sapi. Di situlah tahi sapi dicampur dengan kencing sapi dengan perbandingan 1 banding 1 sebelum dialirkan ke biodigester, alat “ajaib” yang bisa begitu cepat mengalirkan gas ke pipa yang mengarah ke dapur. Rata-rata warga Benteng Gajah memelihara sapi di belakang rumah mereka.

Berhasil! Api biru muncul dari burner head kompor. Nurlela mengenang lagi kopi pertama yang bisa dia sajikan untuk Ilyas dengan gas dari kotoran sapi yang sempat dia remehkan. Rasanya senang sekali. Dia tak marah lagi pada siapa pun.

Saat saya berkunjung itu, terhitung sudah delapan tahun Nurlela menggunakan energi terbarukan berupa biogas dari kotoran sapi. Artinya sudah delapan tahun pula wanita 40 tahun itu tak membeli elpiji kemasan tabung, keculi momen-momen tertentu yang menuntut harus masak banyak, semisal hajatan keluarga dan lebaran.

“Kalau mau dihitung, kami bisa terbebas dari pengeluaran hingga Rp600 ribu per bulan hanya untuk gas,” ucap Ilyas saat posisi bincang kami sudah berpindah ke bawah pohon jambu. Di depan kami 13 ekor sapi memakan rumput. Saat sudah kenyang, beberapa di antara mereka akan buang hajat. Kotorannya akan masuk ke bak penampungan lagi, menuju ke biodigester lagi, biogas terproduksi lagi, Nurlela tersenyum lagi.

Butuh Proses

Saat Nurlela menggerutu karena elpiji langka dan mahal, beberapa tahun lalu itu, sebenarnya sudah ada warga di desanya yang coba memulai. Seorang aktivis bernama Muhammad Anshar T memperkenalkan biogas di sekretariat koperasinya.

Anshar tidak langsung mengajak. Dia hanya membangun reaktor biogas di kantornya dan ketika kompor akhirnya berhasil menyala dengan api yang sangat biru, beberapa warga pun tertarik.

Pada tahun-tahun pertama, kisaran 2012-2013 itu, ada 16 warga yang memutuskan migrasi ke biogas. Para kepala rumah tangga itu umumnya merasa tak tega melihat istri kesulitan mendapatkan elpiji. Mau pakai minyak tanah juga semakin langka dan harganya melambung.

Anwar R (43) termasuk “angkatan” pertama yang menggunakan biogas. Sudah 10 tahun. Kapasitas reaktornya 6 kubik. Sederhananya, butuh dua ember besar kotoran sapi setiap hari. Jumlah yang sangat bisa dipenuhi sebab sapi-sapinya memproduksi kotoran lebih dari itu.

“Akhirnya kotoran yang selama puluhan tahun ini cuma jadi limbah, mulai saat itu jadi berkah,” ucap Anwar yang menemani penulis ke rumah Ilyas dan Nurlela. Sebelumnya, Anwar mengajak kami singgah ke reaktor biogas pertama di kantor koperasi milik Anshar.

Anwar memperlihatkan kepada saya betapa sederhananya instalasi biogas bekerja. Dari mulai wadah pengumpulan kotoran sapi hingga ke alat yang memisahkan gas dengan kotoran sapi padat dan kemudian tiba di atas kompor sebagai nyala api.

“Di beberapa rumah warga produksi gasnya mencukupi untuk penerangan. Paling tidak lampu teras mereka bisa menyala tanpa diikuti dengan tagihan akhir bulan,” cetus Anwar usai memetik buah jambu setelah mendapat izin dari tuan rumah. Diberikannya juga dua biji kepada saya. Baik untuk imun, katanya.

“Jambu itu saya besarkan dengan pupuk alami dari ampas kotoran sapi yang jadi biogas itu,” ungkap Ilyas.

Ya, keputusan menggunakan biogas memang mengantar warga Benteng Gajah ke kebiasaan bertani organik. Saat biodigester memisahkan gas dari kotoran sapi, ada wadah lain yang menampung ampasnya. Itu yang kemudian diolah lagi menjadi pupuk cair dan pupuk padat.

“Sayur-sayuran itu tidak pakai pupuk kimia,” tutur Ilyas, menunjuk lahan yang ditanami kangkung dan bayam.

Beberapa reaktor biogas, termasuk yang dibangun di kantor koperasi Anshar itu, bahkan bisa memproduksi pupuk yang bisa dijual keluar kampung. Warga jadi mendapat sumber pendapatan lain di luar hasil sawah atau kebun mereka. Untuk yang cair dikemas dalam botol-botol mirip jeriken kecil, berwarna putih.

Kini, sudah ada sekitar 54 warga yang menggunakan biogas. Memang tidak semuanya memakai itu untuk seluruh kebutuhan energi di rumahnya. Apalagi ada juga yang tidak memiliki jumlah sapi yang cukup. Belum lagi yang sibuk bekerja kantoran atau berdagang. Namun sebagian besar masih konsisten dengan bahan bakar yang akan terus terbarukan itu, selama sapi di desa mereka masih buang hajat.

“Biogas ini juga tidak membuat cemas. Kalau ada kebocoran pipa misalnya, tidak ada potensi meledak seperti jika pakai elpiji,” imbuh Nurlela.

Di tempat berbeda, mungkin berjarak 1 kilometer dari rumah Ilyas, Anshar yang penulis temui di kediaman salah seorang warganya tersenyum saat mengingat pertama kali biogas dihadirkan di desa itu.

“Ya butuh proseslah. Tetapi alhamdulillah masyarakat bisa merasakan betapa efisiennya menggunakan biogas, gratis malah,” katanya.

Anshar sejak 2019 lalu menjabat sebagai kepala desa Benteng Gajah. Dia bisa semakin berperan mengajak warga untuk melakukan konversi energi.

Merdeka Energi

“Lihat rumput gajah itu. Subur sekali sejak saya pakaikan pupuk alami ampas biogas. Jadi makanan yang lezat untuk sapi-sapi saya,” kata Ilyas lagi yang hari itu mengenakan kemeja kotak-kotak. Lengkap dengan topi untuk menghadapi terik matahari.

“Jadi mata rantainya jelas. Dari sapi kembali ke sapi,” tambahnya sembari tertawa.

Dikutip dari laman resmi Kementerian ESDM, program pengembangan biogas menjadi salah satu strategi pemerintah dalam upaya pengembangan energi baru terbarukan (EBT), khususnya sektor bioenergi. Program pengembangan biogas cukup beragam, mulai dari biogas rumah tangga, biogas komunal, biogas industri, Biomethane dan Compressed Biomethane Gas (CBG).

Target kontribusi biogas pada bauran energi nasional pada 2025, kata Direktur Bioenergi, Edi Wibowo, sebesar 489,8 juta meter kubik.

Edi menjelaskan, biogas adalah gas yang dihasilkan dari proses fermentasi oleh mikroorganisme dalam kondisi anaerob. Biogas merupakan salah satu sumber EBT yang potensial untuk dikembangkan. Pemanfaatan biogas ini juga diyakini dapat mengurangi dampak permasalahan lingkungan, seperti penurunan emisi gas rumah kaca, pencegahan pencemaran air, tanah, serta udara.

Dalam skala yang lebih besar, pemerintah tengah mengupayakan pengembangan program biogas ditingkatkan menjadi biometana, yang dapat dimanfaatkan untuk pembangkit listrik, subsitusi bahan bakar diesel di PLTD, bahan bakar gas untuk transportasi, serta substitusi elpiji untuk pelaku usaha kecil hingga industri.

Sebagai negara agraris, Indonesia memiliki potensi biometana yang menjanjikan. Agroindustri tersebar di beberapa wilayah negeri, sehingga limbah organik yang dihasilkan pun dapat diolah menjadi sumber energi alternatif.

Biogas, siapa sangka, sejak pertama kali ditemukan di Eropa pada 1770 ilmuwan bernama Alessandro Volta yang melakukan penelitian terhadap gas yang dikeluarkan rawa-rawa, akhirnya semakin populer saat ini.

Penggunaan biogas di Tiongkok cukup bisa menjadi inspirasi. Jika era tahun 1950-an Eropa mulai meninggalkan biogas dan beralih ke bahan bakar minya, Tiongkok justru sebaliknya. Pada 1992 saja sudah ada sekitar lima juta rumah tangga menggunakan instalasi biogas sehingga biogas menjadi bahan bakar utama sebagian penduduk di sana.

Prof Li Kangmin dan Dr Mae-Wan Ho dari The Institute of Science in Society bahkan berpendapat bahwa biogas merupakan jantung dari tumbuhnya eco-economi di Tiongkok.

Indonesia juga optimistis bisa makin memasyarakatkan biogas. Apalagi jika orang-orang di negeri ini sudah seperti 54 rumah tangga di Desa Benteng Gajah itu, yang telah merasakan betapa mudah dan murahnya biogas itu. Semakin banyak pula desa yang bisa mandiri energi bersih.

“Tunggu, sebentar lagi matang, Nak,” tutur Nurlela kepada Fauzan, anak keduanya yang baru pulang sekolah. Tak lama kemudian, nasi yang ditanak di atas api biru itu akhirnya benar-benar matang. Bertahun-tahun keluarga itu merdeka dari sulitnya mendapatkan elpiji. Mereka membuktikan bahwa energi punya semua, hak segala bangsa.

“Kalau saya lihat ibu-ibu ramai mengeluh di medsos karena harga elpiji melambung, saya kadang senyum-senyum sendiri,” ucap Nurlela sebelum menyiapkan sajian untuk anak-anak dan suaminya. Makanan yang semuanya dimasak dengan biogas dan rasa cinta. (imam dzulkifli)