NEWS  

Krisis… Warga Bontoa Gunakan Air Sawah untuk Mandi

Seorang warga Desa Suli-suli, Kecamatan Bontoa, mengambil air dari sawah, beberapa waktu lalu. (FOTO: ASTY UTAMI/MATAMAROS)

MATAMAROS.COM — Sudah dua bulan warga di Desa Suli-suli, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros mengalami krisis air bersih. Mereka terpaksa menggunakan air sawah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Darmi adalah salah satu warha yang mengambil air di sawah, setiap pagi dan sore. Sekali mengangkat, dia membawa delapan jeriken berukuran 5 liter.

Total ada empat titik sumber air yang digunakan warga. Airnya tertampung dari sawah. “Kami di sini sudah krisis air sejak bulan Mei,” tutur Darmi, Rabu,24 Juli 2024.

Darmi mengatakan, air sawah digunakan untuk mandi dan mencuci. “Kalau untuk minum kita pakai air galon,” sebutnya. Air galonnya, dibeli.

Warga terpaksa menggunakan air sawah yang sudah keruh dan juga ditempati bebek hingga sapi. Tak jarang, ucap Darmi, ada yang gatal-gatal setelah mandi.

Namun tidak ada pilihan lain, sebab jika harus membeli air, dirasa sangat membebani perekonomian rumah tangga. “Harganya itu Rp55 ribu. Itu pun hanya dipakai paling lama 4 hari,” imbuhnya.

Warga terpaksa mengambil air dari sawah untuk sekadar mandi dan mencuci. (FOTO: ASTY UTAMI/MATAMAROS)

Warga lainnya, Heru menceritakan dirinya harus berjalan kurang lebih 5 km demi mengambil air di lokasi ini. Ia berharap pemerintah segera turun tangan.

“Air yang kami gunakan saat ini sumbernya dari sawah dan keruh, semoga ada penyaluran air bersih dari pemerintah,” ucap Heru.

Tunggu Booster

Sebelumnya, Bupati Maros, Chaidir Syam menuturkan bahwa Pemkab Maros berupaya mengakhiri krisis air bersih di Kecamatan Bontoa dan Kecamatan Lau. Pembangunan booster air bersih hampir rampung.

Chaidir menjelaskan, booster air bersih ditempatkan di Desa Bontomarannu, Kecamatan Lau. Pembangunan bahkan sudah dimulai dua tahun lalu.

“Targetnya bulan Agustus atau September kita akan lakukan uji fungsi,” tutur Chaidir, Rabu, 10 Juli 2024.

Anggaran booster air bersih Rp4 miliar dalam tiga tahap. Chaidir menyebut saat ini sisa pemagaran yang belum dirampungkan.

Chaidir berharap dengan booster ini bisa menjangkau seluruh kebutuhan air warga di Bontoa, wilayah terparah krisis air bersih selama ini.

“Semoga nantinya bisa sampai ke desa terluar, Desa Pajukukang atau Desa Bonto Bahari,” imbuhnya.

Saat ini pun, saat belum masuk kemarau, warga Bontoa sudah krisis air bersih. Di Dusun Panaikang, Desa Pajukukang, misalnya, warga harus mengandalkan sumur tadah hujan.

Salah satu warga, Hasna mengatakan, kekeringan sudah mulai dirasakan selama tiga bulan.

“Untuk mencuci dan lainnya itu di sini. Tapi untuk minumnya kami beli air galon atau air hujan,” ucap Hasna di depan sumur tadah hujan, Jumat, 21 Juni lalu.

Sumur tadah hujan juga mulai mengering. Sebab banyak juga warga yang menggunakan sambungan pipa.

“Paling tidak sampai sebulan lagi airnya akan habis.” Hasna memprediksi.

Parahnya, air sumur tadah hujan mulai tercampur sampah plastik. Warga pun mengaku kerap mengalami gatal-gatal. (ast)