NEWS  

Bekal Seimbang di Ransel Anak, Rahasia di Balik Turunnya Angka Stunting

Bupati Maros, Chaidir Syam menyuapi seorang anak makan telur dan kudapan bergizi lainnya dalam kampanye makan bergizi. (FOTO: ASTY UTAMI/MATAMAROS)

ERNI BUNDU, seorang ibu rumah tangga di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, baru saja menuntaskan buku “Totto-chan; Gadis Cilik di Jendela”. Dia tidak hanya mendapat hiburan, tetapi juga pengingat untuk tak pernah membiarkan anak-anaknya berangkat ke sekolah tanpa bekal yang sehat di dalam ransel mereka.

Dalam buku itu, kepala sekolah tempat Totto-chan menuntut ilmu (sebuah sekolah di dekat stasiun kereta), berpesan kepada para murid untuk membawa bekal yang berisi “sesuatu dari laut, sesuatu dari pegunungan”.

Sejak saat itu, Mama pun lebih memperhatikan kotak makan siang Totto-chan.

“Sesuatu dari laut, sesuatu dari pegunungan” melambangkan keseimbangan. Selain karbo, juga mesti ada sumber protein hewani dan sayur-sayuran.

Sejak membaca buku itu pula, Erni selalu memastikan bekal anak-anaknya tidak cuma lezat, melainkan juga harus bermanfaat.

“Tetapi kendalanya ada di soal waktu penyiapan. Saya tidak punya cukup waktu untuk memasak setiap pagi, karena juga harus mengerjakan yang lain di rumah,” ucap Erni, Selasa, 10 September 2024. Dia bercerita di taman kota, saat membawa anak bungsunya main dan sarapan. Dua anaknya lain sudah diantar ke sekolah.

Dengan alaan itulah Erni merasa sangat terbantu dengan hilirisasi peternakan yang semakin menggaung. Produsen-produsen seperti Japfa bahkan menyediakan berbagai pilihan untuk diolah secara praktis di dapur.

Alumni keperawatan Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar itu pun senang karena di kotanya; nuget, sosis, hingga ayam krispi dan bakso udang dari Japfa bisa ditemui dengan mudah di jaringan Best Meat, toko yang lengkap dan dingin.

“Kadang saya beli nuget yang bentuknya huruf-huruf itu. Enak dan menarik untuk anak-anak,” ucap perempuan 35 tahun itu.

Semangat menyiapkan manakan bergizi bagi Erni itu juga ditunjukkan banyak ibu-ibu di Maros. Apalagi, di kabupaten yang berbatasan dengan Kota Makassar itu, baru saja diluncurkan program Genius (Gerakan Edukasi Pemberian Pangan Bergizi untuk Siswa).

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Sulsel, Andi Muhammad Arsyad menuturkan, sudah ada beberapa sekolah yang telah memenuhi syarat untuk mendapatkan pemberian pangan gratis. Kudapan penambah gizi.

Mantan Penjabat Sekretaris Provinsi Sulsel itu mengatakan, dipilihnya Maros lantaran menduduki peringkat terbaik kedua nasional sebagai percontohan program Genius.

“Maros salah satu kabupaten yang mereplikasi kegiatan ini secara mandiri. Jika biasanya anggaran dari Bappanas, di Maros malah diinisiasi guru dan orang tua, yang menyiapkan kudapan untuk siswa,” ujarnya.

Dengan program ini, orang tua diharapkan bisa memberikan pangan yang bergizi dan berimbang.

“Saat ini angka stunting di Sulsel masih di angka 27,04 persen, masih jauh dari target 14 persen. Namun hebatnya Maros (salah satu kabupaten di Sulsel) saat ini angka stuntingnya 18 persen,” timpal Arsyad. Ia menyebut kudapan ini diberikan pada siswa pada saat jam istirahat.

Pemberian pangan bergizi ini beda dengan program makan siang gratis yang dicanangkan presiden terpilih Indonesia, Prabowo Subianto.

“Ini sifatnya hanya kudapan, kalau makan siang gratis lengkap, ada karbonya,” tutupnya.

Wakil Bupati Maros, Suhartina Bohari mengatakan, pihaknya telah melakukan petisi dengan orang tua siswa agar ketika program ini selesai, para orang tua siap memberikan makanan bergizi.

“Kebanyakan orang-orang pahamnya harus makan yang banyak, tapi satu piring pun cukup jika gizinya seimbang,” tuturnya.

Siswa-siswa di SDN 18 Belang-belang, Kecamatan Lau, Kabupaten Maros, mendapat kudapan bergizi gratis. (FOTO: ASTY UTAMI/MATAMAROS)

Di Jakarta, awal Juli lalu, Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, mengundang para pelaku usaha di bidang peternakan dalam rangka percepatan penyediaan daging dan susu.

“Rencana besar kita adalah Makan Bergizi. Saatnya kita bergandengan tangan, bersinergi, berkolaborasi untuk dapat menggunakan momentum emas dengan memenuhi program Presiden terpilih,” kata Amran di Kantor Pusat Kementerian Pertanian.

Tenaga Ahli Menteri (TAM) Bidang Hilirisasi Produk Peternakan, Ali Agus, yang turut hadir menegaskan bahwa peran pemerintah adalah memfasilitasi pelayanan prima kepada para pelaku usaha.

“Mereka adalah pahlawan-pahlawan pangan yang menyediakan sumber-sumber protein hewani seperti susu dan daging. Tugas kita adalah menerjemahkan arahan Menteri Pertanian ke dalam bentuk yang nyata, bagaimana melayani dengan optimal dan prima,” ucap Ali.

Paket Bergizi

Penanganan stunting di Kabupaten Maros memang sedang jadi pembicaraan. Keberhasilan menekan angka stunting ke angka 18 persen membuat BKKBN menunjuk Maros sebagai tuan rumah peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-31, tingkat Sulawesi Selatan, 1-2 September 202.

Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sulsel, Shodiqin pun mengakui, dipilihnya Maros sebagai tuan rumah karena penanganan stunting-nya sangat baik.

Lalu, apa rahasianya?

Sekretaris Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS), Andi Zulkifli Rizwan Akbar membeberkan, program yang komprehensif dan serius dari pemerintah yang juga didukung oleh kalangan usaha menjadi salah satunya.

“Kita memulai semuanya dari data yang valid. Lalu bersama-sama merumuskan langkah dan eksekusinya,” ucap Riris, sapaan akrab Andi Zulkifli Rizwan Akbar.

Dia mengakui peran swasta semisal Japfa cukup signifikan. “Kalau Japfa itu aktif membantu melalui Dinas Kesehatan. Bantuan makanan bergizi disalurkan melalui puskesmas dan kecamatan,” imbuhnya.

Pernyataan itu sudah terkonfirmasi sebelumnya. Masnar Sutri, pimpinan unit pada poultry breeding division PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk di Tanralili, Maros menuturkan, setiap unit di Japfa diwajibkan memperhatikan sekitarnya.

Misalnya unit yang dipimpin Masnar itu, mereka rutin mengunjungi warga. Ada 130-an kepala keluarga yang selalu dikirimi paket protein hewani. Paling sering telur. Kerap juga dipaketkan dengan hasil hilirisasi peternakan sosis, nuget, bahkan susu, karena Japfa memiliki beberapa anak usaha yang menyediakan itu.

Kiriman-kiriman itu, kata Masnar, sangat diharapkan bisa ikut berkontribusi menghasilkan generasi penerus yang penuh gizi. Anak-anak bisa mengonsumsinya dengan bahagia serta menjadi asupan yang berharga bagi masa depan mereka.

“Selain itu, kami rutin melakukan sosialisasi mengenai pemenuhan gizi dan kebersihan lingkungan,” ucap Masnar.

Japfa menyiapkan tim khusus yang punya jadwal kunjungan ke sekolah-sekolah. Tim yang tak cuma membawa paket bahan makanan untuk dibagikan ke para siswa, namun juga berbagai wawasan.

Japfa for Kids, program sosial unggulan perusahaan tersebut, juga dijalankan di Tanralili dan Tompobulu, dua wilayah yang dipilih Japfa untuk melakoni usahanya di Maros, kabupaten yang berbatasan langsung dengan Makasssar, ibu kota Sulawesi Selatan.

Agil adalah salah satu pendamping Japfa for Kids di Maros. Hari itu, dia baru saja selesai melakukan sosialisasi di SDN 4 Ammarang. Besoknya dia ke sekolah dasar lainnya untuk kegiatan serupa.

Agil menjelaskan pentingnya keseimbangan gizi dan kebersihan untuk anak-anak di pedesaan. Anak-anak dilatih untuk lebih higien dalam kehidupannya. Bahan makanan yang dibagikan bisa habis dalam waktu sekejap. Namun perilaku sehat yang ditanamkan akan terus tumbuh, menemani anak-anak itu hingga dewasa.

Sebuah riset yang dirilis manajemen Japfa menunjukkan masyarakat desa, terutama yang berada di wilayah terpencil, menghadapi keterbatasan sarana dan pengetahuan akan kebutuhan gizi serta kebersihan lingkungan.

Atas dasar itu jugalah Japfa for Kids dirilis sejak 2008. Tujuannya adalah menghasilkan bahwa perubahan yang berkelanjutan melalui pemberdayaan guru di desa dan anak-anak untuk menciptakan kemandirian kesehatan dengan memanfaatkan sumber daya lokal. Peternakan telur dan ayam ada di sekitar anak-anak itu. Tinggal bagaimana memanfaatkannya untuk pemenuhan gizi. Makanya program itu juga menyasar warga sekitar unit Japfa, yang merupakan orang tua para siswa.

Program tersebut fokus pada edukasi gizi seimbang untuk meningkatkan prestasi dan menjaga kebersihan untuk mencegah timbulnya penyakit, terutama di masyarakat dengan keterbatasan akses kesehatan.

Di luar program itu, grup Japfa juga sering mengirimkan bahan makanan berprotein hewani ke panti-panti asuhan. Adriansyah, manajer HRD di PT So Good Food, jaringan Japfa di Maros, menuturkan bahwa setiap saat ada nuget atau sosis yang pihaknya antarkan ke warga, termasuk untuk anak-anak di panti.

“Kadang dikirim lewat program Japfa for Kids. Kadang juga kami bawa langsung. Semua anak berhak mendapatkan gizi yang baik untuk menghindarkan mereka dari stunting,” ucapnya.

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada balita akibat tidak terpenuhinya gizi seimbang. Japfa sebagai perusahaan yang memproduksi protein hewani tak ingin kondisi itu terjadi. Apalagi di sekitar tempat mereka beraktivitas, merawat telur, anak ayam, hingga membuat produk makanan olahan.

Harus Higienis

Program penanganan stunting lain di Maros saat ini adalah “One Day, One Egg”. Sebutir telur setiap hari untuk setiap anak.

Riris menuturkan, awalnya bantuan telur untuk anak-anak diberikan satu rak per pekan. Namun setelah dievaluasi, ternyata kurang efektif.

“Anak-anak paling hanya makan tujuh biji per pekan. Nah, sisanya jadi kue,” ucap Riris, terkekeh.

Bantuan telur pun diberikan secukupnya. Sedikit, namun pas jumlahnya dan rutin.

Nah, Japfa juga terlibat dalam pemberian telur untuk anak-anak di Maros. Istimewanya, telur-telur itu dijamin penuh kualitas dan higienitasnya.

Penulis sampai datang langsung ke poultry breeding division PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk di Tanralili itu. Namun, jangan kira bisa seenaknya masuk ke ruang produksi, apalagi sampai menyentuh telur-telur dan anak ayam yang ada di dalam.

Masnar Sutri yang pimpinan saja diperlakukan sama dengan para pekerja di situ. Dia harus mengikuti prosedur sanitasi sebelum masuk ke tempat kerja. Seperti pada hari itu, saat penulis datang, Masnar yang sudah mandi dan memakai parfum sejak dari rumah, masih harus mandi di kantor.

Dia mengganti baju, celana, dan semua yang dipakainya dari rumah, kemudian menggunakan pakaian khusus.

Sudah boleh masuk? Belum. Masnar mesti melepas lagi pakaian khususnya, lalu mandi keramas. Itu pun masih mesti ditambah dengan menyelam di kolam yang airnya bisa membuat siapa saja menjadi lebih layak untuk bertemu telur-telur dan anak ayam di dalam. Pakaian juga sudah ganti lagi.

“Bahkan bupati, gubernur, hingga menteri sekalipun kalau berkunjung, harus mandi berkali-kali di sini,” ucap Masnar, tertawa, tetapi serius.

Dia menjelaskan betapa telur-telur dan anak ayam di situ begitu dimanja. Dijaga kesehatannya. Dihindarkan sebisa mungkin dari sesuatu yang bisa membuat mereka rusak atau sakit. Dicek setiap saat oleh dokter hewan dan sarjana peternakan.

Setiap tamu yang datang, termasuk penulis berita ini, wajib memasukkan nomor induk kependudukan di aplikasi yang dipegang satpam. Itu untuk keperluan tracking atau pelacakan jejak. Jika seseorang ditengarai pernah ke wilayah yang sedang ada virus penyakit ternak, dijamin tidak bisa masuk. Paling tidak harus menginap dulu di tempat yang “netral”. Keesokan harinya mungkin sudah bisa datang lagi, namun tetap harus mandi berkali-kali.

Masnar menyebut, salah satu komitmen yang dibangun Japfa sejak 1975 adalah kemauan untuk saling menguntungkan. Perseroan tidak didirikan untuk mengejar profit semata. Perseroan selalu memastikan pelanggan, termasuk para mitra peternak, mendapatkan produk yang terjamin kualitas dan higienitasnya.

Semua produk yang dihasilkan Japfa sudah dijaga kualitas dan higienitasnya sejak awal. Sejak nuget, sosis, hingga daging ayam, dan semua produk itu masih berupa sebutir telur.

“Japfa tak hanya menghasilkan produk dengan protein hewani. Namun produk dengan protein hewani yang aman dan sehat untuk dikonsumsi,” imbuh Zakaria, staf Masnar, seorang pria berkacamata.

Unit yang dipimpin Masnar terletak di kecamatan bernama Tanralili. Berbatasan dengan kecamatan bernama Tompobulu. Nah, peternakan Japfa ada di Tompobulu itu. Ayam-ayam juga bertelur di situ.

Agil, pendamping Japfa for Kids mengajarkan cara mencuci tangan yang benar kepada siswa SDN 4 Ammarang, Maros. (FOTO: ILO AMIEN/MATAMAROS)

Prosedur di sana lebih ketat. Masnar jika hendak ke sana tidak bisa dadakan. Dia mesti menginformasikan terlebih dahulu untuk di-tracking rutenya. Mandinya juga lebih banyak, sampai tiga kali!

Untuk bertemu kekasih di malam minggu saja hanya perlu satu kali mandi agar lebih menawan. Sedangkan untuk bertemu induk-induk ayam di Tompobulu itu, kita mesti membilas diri sampai berkali-kali.

Dari peternakan di Tompobulu, telur-telur dibawa ke unit di Tanralili dengan mobil boks berkualifikasi khusus. Terjaga suhu dan temperaturnya.

Di Tanralili itulah telur-telur dimanja lagi hingga menjadi anak ayam yang siap lepas. Ada yang dilepas ke peternakan internal milik Japfa, ada yang ke peternakan mitra punya warga. Namun, kata Masnar, berbeda dengan perusahaan pada umumnya, Japfa memilih mengantarkan langsung telur-telur ke peternakan. Itu untuk menjaga kualitasnya. Jika di jalan sedang macet, sopir harus mengambil tindakan khusus, misalnya mengatur temperatur atau membuka pintu sejenak agar ruangan dalam boks tidak pengap. Anak-anak ayam itu diperlakukan sedemikian spesial.

Anak-anak ayam itu kemudian tiba di peternakan, dibesarkan seperti anak sendiri, hingga menjadi ayam dewasa. Jenis broiler maupun ayam petelur selanjutnya ada yang dijual langsung ke pasaran. Ada juga yang masuk pabrik Japfa untuk diolah menjadi berbagai jenis bahan makanan.

Nuget, sosis, hingga daging ayam segar itu hanya beberapa dari sekian produk Japfa. Semuanya dipastikan telah menjalani proses perlakuan yang benar dan bersih untuk kemudian dinyatakan siap disantap, memberi asupan protein hewani untuk siapa saja yang mengonsumsinya. (imam dzulkifli)