NEWS  

Dokter Apung yang Menjaga Kesehatan Warga Kampung Purba

Dokter Dinda Fuadilla Alhumairah menaiki jolloro untuk menuju rumah-rumah warga tepi sungai di Rammang-rammang. (FOTO: IMAM DZULKIFLI/MATAMAROS)

Rammang-rammang tempat yang memukau dan kian ramai dikunjungi turis. Gugusan karst dengan sungai indah di tengah-tengah membuatnya sampai dijuluki The Hidden of Paradise, surga yang tersembunyi. Namun sebagian warga lokal tak pernah tersentuh dengan stetoskop dokter, tak pernah pula ke puskesmas.

***

MAKANYA, hari itu mungkin tak akan pernah dilupakan oleh Daeng Jasi, nenek berusia lebih dari 100 tahun. Hari ketika dr Dinda Fuadilla Alhumairah mengetuk pintu rumah panggungnya di tepi Sungai Pute.

Dinda dengan telaten memeriksa kondisi kesehatan Daeng Jasi. Tekanan darah hingga kadar gulanya normal dan relatif “ajaib” untuk lansia yang sudah melewati kehidupan lebih dari satu abad. Hanya saja, ada sedikit masalah di matanya. Dokter memberi perawatan yang diperlukan.

Dinda lalu bergerak ke rumah Daeng Juna, juga seorang lansia dengan usia yang masih lebih muda dari Daeng Jasi. Dinda menemukan ada benjolan di tubuh Daeng Juna. Obat-obatan pun diberikan, disertai kartu kontrol agar dalam beberapa waktu ke depan saat dokter datang lagi, ada rekam medis yang bisa memudahkan.

Daeng Juna juga disarankan untuk ke puskesmas terdekat. Paling tidak, benjolannya bisa ditangani lebih lanjut. Jika perlu dirawat untuk sementara waktu.

Dokter Dinda Fuadilla Alhumairah memeriksa kesehatan seorang lansia di Rammang-rammang. (FOTO: IMAM DZULKIFLI/MATAMAROS)

Namun jangan bayangkan Dokter Dinda bergerak ke rumah-rumah penduduk dengan mobil, sepeda motor, atau berjalan kaki. Dia menjadi “dokter apung”, menumpang sebuah jolloro, perahu tradisional suku Bugis-Makassar. Dinda duduk seorang diri sebagai penumpang, dengan kotak obat dan segala perhatian yang bisa dia bawa.

“Saya senang bisa turut membantu masyarakat menjaga kesehatan,” tutur Dinda.

Itulah salah satu konsekuensi dari keunikan dan keindahan Rammang-rammang. Penduduknya tinggal di pinggir sungai dan perahu adalah satu-satunya yang bisa mengantar-jemput mereka.

Saya juga diantar oleh sebuah jolloro untuk bertemu langsung dengan warga Rammang-rammang, Sabtu, 9 November 2024. Hari sudah petang. Umar, sang juru mudi jolloro, membunyikan mesin perahunya pada pukul 17.43.

Ketakutan saya naik jolloro menyusuri Sungai Pute dikalahkan oleh perasaan syukur melihat lanskap alam yang menawan. Perahu melaju di antara pohon-pohon nipah yang akarnya ada di air.

Beberapa menit sebelum Magrib, kami pun tiba di Aula Caradde. Itu aula yang dibangun kelompok Kampung Berseri Astra (KBA) Rammang-rammang sejak awal tahun ini. Di situlah segala kegiatan direncanakan atau juga sekaligus dilaksanakan. Aula bisa menampung hingga 200-an orang.

KBA Rammang-rammang itulah yang membawa perubahan layanan kesehatan di sana. Anak-anak muda bergabung di suatu wadah untuk sama-sama berbuat bagi kampung halaman dan masyarakat.

Abidin Zainal salah satunya. Dia seorang doktor dan mengajar di beberapa perguruan tinggi. Abid, sapaan akrabnya, adalah Ketua KBA Rammang-rammang. Kulitnya putih dengan rambut belah samping yang rebah ke kanan. Jika berbincang dengannya, kita akan mudah merasa akrab. Dia lelaki dengan selera humor yang baik.

Saya pun memutuskan untuk menginap di Aula Caradde itu. Selain untuk melihat langsung bagaimana KBA Rammang-rammang mengabdi, juga sekalian menikmati malam minggu yang lembab. Hujan mengguyur agak lama pada sore hari. Malam menjadi lebih dingin namun kehangatan obrolan dan teh serta Roti Maros, membuat saya betah.

Penulis (kiri) bersama Ketua KBA Rammang-rammang, Zainal Abidin (kanan) dan tamu lain menikmati malam minggu di Aula Caradde, Rammang-rammang, Sabtu, 9 November 2024. (FOTO: IMAM DZULKIFLI/MATAMAROS)

Abid menuturkan, dokter yang mengunjungi rumah-rumah warga Rammang-rammang itu masuk program prioritas KBA-nya. Dinamakan dengan Dokter Jolloro. Artinya jelas, dokter yang menaiki perahu untuk mendatangi pasien.

Jadi, tidak akan ada pemandangan pasien yang menunggu di tempat duduk seperti yang biasa kita lihat di koridor rumah sakit. Yang ada malah pasien yang menunggu nyaman di rumah masing-masing. Dokterlah yang kemudian datang, membawa obat-obatan dan senyuman terbaik.

Sejauh ini, Dinda melakukannya dengan baik. Dokter yang sehari-hari praktik di RS Primaya, Kota Makassar, itu mau diajak bekerja sama di sela tugas padatnya di tempat kerja. KBA Rammang-rammang juga secara rutin melakukan pemeriksaan kesehatan di Aula Caradde itu.

Beberapa waktu lalu, 100-an warga yang datang. Tentu saja juga dengan menumpang jolloro. Mereka hadir bersama kartu Kamasea, akronim dari kartu Masyarakat Sehat Berseri Astra. Itulah kartu yang tadi Dinda bagikan kepada pasien-pasiennya. Di situ tertera riwayat penyakit dan pemeriksaan bagi para warga pinggiran sungai.

“Itu memang semacam kartu kontrol kesehatan masyarakat. Dengan itu juga mereka mendapatkan pemeriksaan kesehatan dan obat-obatan gratis” jelas Abid. Dia mengenakan kaus lengan panjang warna biru dengan logo Astra di bagian belakang.

Dokter Jolloro ini rutin memeriksa warga. Minimal sebulan sekali dilanjutkan dengan baksos di Aula Caradde. Baksos ini juga jadi magnet bagi warga. Selain bisa datang memeriksakan diri, mereka juga biasanya akan pulang membawa suvenir.

Abid mengakui sejauh ini program Dokter Jolloro belum terlalu maksimal. Setelah berjalan selama dua tahun, masih perlu tambahan jenis obat-obatan. Namun dia dan rekan-rekannya tidak menyerah. Ingin ini membawa dampak jangka panjang dan berkelanjutan.

Abid dan anak-anak muda merasa tak ada gunanya sukses di luar sana, jika membiarkan kampungnya begitu-begitu saja. Warga memang mendapat berkah dari kunjungan wisatawan. Ada yang menyewakan jolloro, menjual pernak-pernik, hingga membuka warung di spot-spot wisata, namun sebagian lagi warga, terutama yang lansia, hidup pasrah tanpa layanan kesehatan.

Makanya, Dokter Jolloro tak akan dihentikan. Dokter akan tetap mendatangi rumah-rumah penduduk. Duduk di atas jolloro, lalu turun ke rumah-rumah. Sebagai catatan, rumah-rumah warga di Rammang-rammang tidak berdempetan. Bahkan berjarak cukup jauh. Kadang hingga 500-an meter lagi baru ada rumah lagi. Mereka bertetangga, dekat di hati, namun jauh di jarak.

Aula Caradde

Program Dokter Jolloro itu juga yang membuat Kampung Berseri Astra (KBA) Rammang-rammang membawa pulang dua piala dari malam Anugerah Festival Astra 2024 di Jakarta, 30 Agustus 2024 lalu.

Kampung Berseri Astra merupakan program kontribusi sosial berkelanjutan PT Astra International Tbk dalam empat pilar; pendidikan, kewirausahaan, lingkungan, dan kesehatan.

KBA Rammang-rammang menjadi juara satu pada kategori inovasi kesehatan dan juara ketiga pada kategori inovasi kampung aman dan teguh.

Pada kategori kampung aman dan tangguh itu, KBA Rammang-rammang berinovasi dengan Aula Caradde (Centre of KBA Rammang-rammang for Art, Disaster, & Digitalpreneur Education). Itu aula serbaguna, yang kadang juga difungsikan sebagai tempat sosialisasi dan pelatihan kebencanaan.

Abid bahkan merancangnya sebagai tempat pengungsian. Sebab sesekali dalam puncak musim hujan, saat debit air Sungai Pute membeludak, warga harus mengungsi. Nah, Aula Caradde itulah yang disiapkan sebagai posko pengungsian.

Itu aula yang sederhana. Ukurannya hanya 7 x 15 meter dengan tiang-tiang kayu. Atapnya dari daun nipah. Nipah yang tumbuh di sepanjang sungai itu. Namun bahan-bahan lain, semisal tanah urukan, semen, dan batu bata, didatangkan dari kota. Perlu kerja keras dan biaya ekstra sebab semua juga mesti diangkut dengan jolloro.

“Namun alhamdulillah sudah selesai dan bahkan akan terus kami kembangkan. Sebagai upaya pencegahan dampak bencana, ini sebagai posko aman tangguh ketika terjadi bencana,” lanjut Abid.

Umar, salah satu pemuda yang membangun Aula Caradde menuturkan, tidak perlu khawatir soal listrik. Di sana sudah dilengkapi dengan PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) yang mampu menghasilkan listrik dalam kondisi cuaca ekstrem untuk keperluan dasar pengungsian.

“Kalau ada acara, kadang kita begadang dengan lampu yang tetap menyala,” ucap Umar.

Saya membuktikannya. Semalam di sana, tidur bisa nyenyak karena sebagian lampu bisa digunakan. Termasuk lampu-lampu hias yang Instagramable. Ponsel saya juga aman karena bisa dicas sepanjang waktu.

Pada 11 September 2024 lalu, KBA Rammang-rammang menggelar pelatihan desain kemasan. Menghadirkan pemateri Ms Mika Tokamaru, arsitek dan konsultan JICA (Japan International Cooperation Agency). Di hadapan para pelaku UMKM, Mika San, sapaan akrab Mika Tokamaru memaparkan bagaimana kemasan produk yang dapat diterima dengan baik oleh konsumen, plus tentang budaya Jepang tentang kemasan.

Kegiatan ini dihadiri puluhan pelaku UMKM di Desa Wisata Rammang-rammang dan sekitaran Kabupaten Maros, mahasiswa dari UMKM Kewirausahaan dari berbagai kampus, penggiat KBA Rammang-rammang, perwakilan Astra Group Makassar, dan Rumah Kemasan Sulawesi Selatan.

Pelatihan di Aula Serbaguna Caradde’ (Centre of KBA Rammang-Rammang for Art, Disaster, & Digitalpreneur Education), Maros. (FOTO: IMAM DZULKIFLI/MATAMAROS)

Abid dan kawan-kawan juga sudah menyiapkan spot untuk panggung. Di situlah nanti akan rutin digelar pertunjukan gambusu, kecapi khas Bugis-Makassar. KBA Rammang-rammang sebenarnya sudah menggunakannya untuk Festival Gambusu memperingati hari kemerdekaan RI, 17 Agustus lalu, namun panggungnya masih perlu dibuat lebih layak.

KBA Rammang-rammang juga bertekad menyelamatkan regenerasi gambusu. Saat ini, pemain gambusu rata-rata sudah dimakan usia. Mereka yang tampil sudah pada sepuh. Makanya, KBA melatih anak-anak usia sekolah dasar untuk bermain gambusu. Gambusu adalah kekayaan lain dari Rammang-rammang yang harus terus lestari dan berkelanjutan. Sayang sekali kalau hilang.

Di bidang kewirausahaannya, KBA Rammang-rammang ingin memastikan generasi muda juga akan bisa membuat gambusu. Selain bisa diproduksi untuk dipakai di kampung, juga bisa dipasarkan di luar.

Festival Gambusu di Aula Caradde, diikuti para tetua kampung. (FOTO: IMAM DZULKIFLI/MATAMAROS)

Masih di bidang kewirausahaan, KBA Rammang-rammang sudah membeli sebuah mesin pengolah pupuk guano, pupuk dari kotoran kelelawar. Jutaan ekor kelelawar bermukim di Rammang-rammang, membuat sarang di atas bukit-bukit batu. Keluar mencari makan setiap Magrib dan pulang kembali sebelum Subuh.

Alat pengolahan pupuk guano di Aula Caradde. (FOTO: IMAM DZULKIFLI/MATAMAROS)

Di bidang pendidikan, KBA Rammang-rammang sudah meloloskan 10 anak SD. Biaya pendidikannya akan ditanggung oleh Astra, bahkan sampai mereka selesai kuliah strata satu.

Anak-anak sekolah dari Kampung Massaloeng, Rammang-rammang, menyusuri Sungai Pute dengan perahu listrik, Senin, 28 Oktober 2024. (FOTO: IMAM DZULKIFLI/MATAMAROS)

Rammang-rammang adalah kampung purba. Ribuan tahun lalu, kampung ini adalah sebuah danau besar di tengah perbukitan karst. Karena proses yang berlangsung berabad-abad itu, Rammang-rammang memiliki magnet tersendiri. Gugusan perbukitan kapur dan Sungai Pute adalah berkah bagi mereka. Kehidupan sudah ada sejak lampau. Namun harus diakui masih banyak yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

KBA Rammang-rammang bertekad akan terus berbuat untuk itu. Kampung mereka, Rammang-rammang, hanya sebuah dusun. Terletak di Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Namun gaungnya sudah mengglobal.

Rammang-rammang mungkin salah satu dusun paling terkenal di dunia saat ini. Ya, semacam “surga”. Tempat yang kian ramai dikunjungi orang-orang dari banyak negara. Apalagi setelah Rammang-rammang dan 30 geosite lain di Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkep, dinobatkan sebagai geopark atau taman bumi yang diakui UNESCO.

Rammang-rammang dengan luas 46.200 hektare juga ditempatkan sebagai gugusan pegunungan terbesar dan terindah kedua di dunia setelah kawasan karst di Tiongkok bagian selatan.

Lanskap alam kampung karst Rammang-rammang. (FOTO: IST)

Indah, sangat indah. Makanya, warganya juga harus sehat dan terjaga, serta sejahtera. Karena Rammang-rammang itu (sekali lagi) adalah semacam surga yang tersembunyi. (imam dzulkifli)