NEWS  

Merawat Air, Jurus PT Vale Wujudkan Hilirisasi dan Dekarbonisasi

Lamella Gravity Settler mengolah air limpasan tambang sampai jernih sebelum dilepas ke danau dan sungai. (FOTO: IMAM DZULKIFLI/MATAMAROS)

Air adalah kehidupan. Masa depan yang didambakan hanya akan ada jika semua ikut menjaganya. Semua; termasuk para perusahaan tambang di negeri ini.

***

INI bermula pada suatu siang tahun 1901. Ketika bijih nikel itu ditemukan di sekitaran Pegunungan Verbeek, Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, yang di bawahnya membentang danau-danau indah dan purba.

Butuh setidaknya 67 tahun, tepatnya pada 1968, saat Vale (saat itu masih bernama PT Inco) mulai datang dan menjanjikan masa depan. Janji yang kemudian terbukti, Sebab bijih nikel yang ternyata adalah sumber kemakmuran itu ditambang dengan cara-cara penuh dedikasi, demi merangkai hari-hari mendatang yang diharapkan.

Tetapi bagaimana lingkungannya? Bagaimana nasib lima danau serta 14 sungai di Luwu Timur? Di antara danau itu ada Danau Matano di Sorowako. Danau tektonik dengan kedalaman 590 meter. Matano menjadi danau terdalam di Asia Tenggara dan peringkat ke-8 di dunia.

Matano tersambung dengan Danau Towuti di bagian selatan. Danau Towuti adalah salah satu danau purba di dunia dengan usia jutaan tahun. Danau Towuti memiliki luas 561 kilometer persegi dan merupakan danau terluas kedua di Indonesia. Hanya kalah luas dari Danau Toba di Sumatera.

Sebelum menemukan jawabannya, mari mengikuti perjalanan saya, melihat dari dekat bagaimana air limpasan tambang dikelola PT Vale Indonesia Tbk. Kunci dari suksesnya hilirisasi dan dekarbonisasi dari pertambangan yang berkelanjutan.

***

Posisi matahari sudah agak meninggi hari itu. Masih pagi tetapi sudah mendekati siang. Hasliana Alimuddin mengantar kami mengelilingi Lamella Gravity Settler (LGS) di Sorowako.

Hasliana mengenakan rompi oranye dan helm. Sepasang kakinya dibalut sepatu boot yang menutup sampai betis, persis yang saya dan teman-teman hari itu pakai. Standar keselamatan yang diberlakukan di seluruh area PT Vale Indonesia Tbk kepada setiap orang yang berkunjung, tak peduli siapapun Anda. Presiden sekalipun menggunakan setelan yang sama selama di Sorowako.

LGS adalah tempat dan teknologi yang dihadirkan Vale untuk memastikan air limpasan, yang mengucur dari bukit-bukit yang sedang ditambang, bisa mengalir sampai jauh, termasuk ke Danau Matano, setelah kembali jernih.

Uniknya, teknologi LGS justru merupakan teknologi standar dalam penjernihan air untuk pengolahan bahan baku air minum. Serupa juga dengan yang dipakai PDAM. Teknologi LGS pertama untuk pertambangan di Indonesia ini merupakan hasil dua tahun riset dan kerja sama dengan BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi).

“Tak heran jika kejernihan dan kualitas air yang telah diolah di LGS seperti air mineral yang kerap kita minum,” ucap Ana, sapaan akrab Hasliana Alimuddin. Dia adalah Project Manager Mine Infrastructure Maintenance & Develompment PT Vale Indonesia Tbk. Tutur katanya pelan dan tenang. Hari itu dia meminta izin memakai masker karena sedang agak flu.

Beberapa hari sebelumnya, saat saya bertemu CEO PT Vale (kala itu, red), Febriany Eddy, dia mengungkap bahwa kantong perusahaan mengeluarkan hingga USD3 juta atau setara Rp47,2 miliar untuk investasi LGS. Relatif mahal, namun bagi sosok yang kembali masuk dalam daftar 100 perempuan paling berpengaruh di Asia versi Fortune tahun 2024 itu, segala cara harus dilakukan untuk memastikan praktik pertambangan terbaik dan berkelanjutan.

“Pertambangan haruslah bertanggung jawab memastikan kehidupan hari ini dan masa depan. Kehidupan yang saya maksud mencakup semuanya; untuk manusia serta untuk ekosistem alam,” ucap Febri.

Febri menjamin, Vale mengejar keseimbangan profit, people, dan planet. “Bagi kami, kesejahteraan tak hanya diukur dari ekonomi, keuangan. Tetapi juga kualitas hidup. Buat apa gaji besar tetapi sesak napas karena alam tak terjaga?” sambung perempuan yang pernah bertugas selama 2,5 tahun di Vale Base Metal Asia Pasifik dan Afrika yang berbasis di Brisbane, Australia tersebut.

Saya berjalan kaki mengitari LGS itu. Melihat pintu utama bekerja, menarik 4.000 meter kubik per jam dan langsung dibagi ke empat kompartemen, masing-masing 1.000 meter kubik per jam.

Di tengah-tengah ada semacam kolam yang ajaibnya; menjadi tempat hidup berbagai jenis ikan. Mereka saling berkejaran di bawah sana. Nelayan dan Masyarakat Luwu Timur bisa tetap menikmati ikan dan bahkan menjadikannya komoditas untuk membiayai kehidupan.

Padahal, sebelum masuk ke LGS, air yang datang itu mengandung Total Suspended Solid (TSS) atau kekeruhan 1.707 miligram per liter dan chromium hexavalent (Cr) total 10 miligram per liter! Sangat keruh, berwarna cokelat. Itu sangat tidak sehat untuk mahluk hidup apapun.

Sebagai catatan, Cr itu merupakan logam berat dengan zat kimia yang tinggi. Sampai bisa digunakan untuk berbagai industri, di antaranya untuk pembuatan cat, pewarna, pigmen, dan bahkan baja anti karat.

Namun, LGS mengubah semuanya. TTS atau kekeruhan air setelah diolah di sana tersisa 8 miligram per liter dan Cr-nya tersisa 0,3 mg per liter! Berubah sangat drastis. Air menjadi bersih kembali dan baru setelah itulah dialirkan lagi ke mana-mana, termasuk Danau Matano.

LGS tersebut memiliki 120 pon atau kolam pengendapan. Tim bekerja tiga sif, sehingga ada kontrol 24 jam untuk memantau kadar TSS dan Cr.

Warga lokal sedang memancing ikan di Danau Matano. Tampak juga pengunjung lain bermain kano. Danau yang terjaga kejernihannya tersebut adalah salah satu bukti praktik pertambangan berkelanjutan PT Vale Indonesia (FOTO: IMAM DZULKIFLI/MATAMAROS)

Vale bahkan sampai melakukan pengecekan rutin terhadap air yang telah dilepas kembali ke danau. Hasilnya, pengukuran kadar TSS dan Cr di Danau Matano, Danau Towuti, hingga Danau Mahalona selalu berada jauh di bawah baku mutu yang telah ditetapkan pemerintah dan APHA (American Public Health Association) yang berbasis di Washington, Amerika Serikat.

Keesokan harinya, kami ke Danau Matano. Airnya benar-benar menghadirkan nuansa bening, seperti kata lagu yang dipopulerkan Kembali oleh Vidi Aldiano. Dan meminjam slogan dan jingle sebuah iklan, air (jernih) mengalir sampai jauh.

Di beberapa sudut, saya melihat beberapa kelompok warga yang menghampar tikar. Mungkin mereka adalah sekumpulan sahabat atau kerabat yang tengah menikmati akhir pekan di danau yang airnya tak keruh, meski industri tambang kelas dunia, berada di sekitarnya.

Danau Matano dan danau-danau lain di Luwu Timur itu memang penting untuk dijaga. Itu danau-danau dengan kisah panjang. Umurnya diperkirakan berkisar antara 1-4 juta tahun. Termasuk dalam jajaran danau purba di planet ini.

Vale juga secara khusus meluncurkan program Bernama “Matano Iniaku”. Program ini mendorong peralihan dari pertanian monokultur ke polikultur (agroforestri) dan meningkatkan pengelolaan wisata melalui kelembagaan lokal. Selain melestarikan lingkungan, program ini juga membuka peluang ekonomi baru bagi Masyarakat.

Vale juga hadir melalui rehabilitasi daerah aliran sungai (DAS). “Dulu, mata pencarian masyarakat Desa Matano hanya bertani. Banyak yang menebang pohon dan membakar lahan. Kami mulai mempertanyakan apakah tanaman lada dapat menahan erosi saat hujan deras. Kami tak ingin desa kami tercemar atau Sungai Lawaa mengalami pendangkalan akibat sistem pertanian yang kurang baik,” cetus Amsal, pemerhati lingkungan dan pengelola Eco-Creative.

Amsal pun menaruh hormat kepada Vale yang telah merehabilitasi lebih dari 200 hektare lahan di sekitar sungai. “Sebelumnya, kami mengira membuka lahan dengan menebang pohon adalah cara Bertani yang cepat dan sukses. Namun setelah mengikuti pelatihan dari PT Vale, kami memahami bahwa pertanian yang baik harus tetap menjaga alam. Kini, Sungai Lawaa tetap jernih dan Danau Matano tetap Lestari,” lanjutnya.

Vale baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-56. Selama lebih dari lima dekade, perseroan mampu menjaga kejernihan Danau Matano dan kualitas udara di Sorowako.

Saya telah membuktikannya dengan mata dan kepala sendiri. Selama lima hari di Sorowako, saya seperti berada di hutan nan sejuk. Dan memang banyak hutan di sana. Vale membuat kembali hutan setelah menambangnya. Untuk menyerap karbon-karbon. Kuncinya juga adalah air. Air yang menyuburkannya dan pohon-pohon itu kemudian yang ikut memfilter air limpasan tambang.

Sejauh ini, dari 5.226 hektare luas lahan yang dibuka Vale untuk menambang, sudah 3.580 hektare yang direklamasi dengan jumlah 4 juta pohon berbagai jenis, termasuk pohon-pohon endemik Luwu Timur.

Salah satu hutan buatan PT Vale diberi nama Hutan Himalaya. Luasnya mencapai 50 hektare dengan 40 jenis pohon. Kalau tidak datang langsung ke sana, Anda mungkin tak akan percaya kalau itu sebelumnya adalah lahan tambang. Kini, area itu sudah hijau dan lebat kembali. Terhitung sudah berusia 19 tahun.

Vale juga sampai membangun nursery atau lahan pembibitan sendiri. Bibit-bibit yang diambil di lahan yang akan ditambang dibawa ke nursery. Letaknya di Sorowako juga. Luasnya 2,5 hekatare, tempat yang mampu menyiapkan paling sedikit 700 ribu bibit tanaman per tahun untuk mereklamasi lahan pasca-pengolahan tambang di daerah itu. Semuanya juga butuh investasi dan biaya perawatan yang besar. Namun sekali lagi, bagi Vale, menjaga bumi lebih penting dari apapun.

Febri menuturkan, perseroan tidak mau main-main dalam menjalankan sustainable mining (praktik pertambangan berkelanjutan). Aktivitas penghijauan beriringan dengan aktivitas pertambangan yang terintegrasi. Tidak ditambang, lalu ditinggal begitu saja.

Vale bisa bertahan di Sorowako hingga lebih dari lima dasawarsa juga karena prinsip itu. Anugerah dari Tuhan berupa tanah yang mengandung bijih nikel terbaik, diambil dengan cara yang baik dan semestinya. Udara tetap segar. Air di Danau Matano, danau terdalam ke-8 di bumi itu juga masih terjaga.

Energi Bersih

Praktik pertambangan berkelanjutan yang dilakukan Vale sejalan dengan BUMN Holding yang kini menjadi tempat mereka bernaung. Mining Industry Indonesia atau Mind ID.

Nah, soal PT Vale Indonesia Tbk. Anda sudah mendapat penjelasan detail sejak awal tulisan ini. Ditambah lagi bahwa Vale memanfaatkan sumber daya air sebagai pembangkit Listrik sebagai bagian dari praktik tambang berkelanjutan, dengan energi bersih.

PLTA Balambano milik PT Vale Indonesia di Sorowako.

Raksasa nikel di RI ini memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), yang digunakan untuk operasional energi fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) nikel milik perusahaan. Termasuk mengalirkan listrik juga untuk masyarakat.

Tiga PLTA dengan kapasitas 365 Mega Watt (MW) itu menjadi salah satu komitmen transisi energi bersih pada pabrik nikel.

Dengan adanya tiga PLTA itu, CEO Vale Febriany menyebut, saat ini perusahaan sudah tidak lagi menggunakan batu bara sebagai pembangkit listrik lantaran.

“Ya, di PT Vale, proses peleburan kita sudah 100 persen PLTA. Jadi, kita termasuk yang karbon intensitasnya paling rendah,” paparnya,

Tidak hanya untuk mengaliri listrik smelter atau pabrik pengolahan nikel milik perusahaan, Febriany mengklaim listrik dari PLTA milik perusahaan tersebut juga berkontribusi untuk melistriki penduduk sekitar pabrik hingga 10,7 MW.

Lihatlah, betapa berharganya air bagi Vale.

Kalau ada waktu, main-mainlah ke Danau Matano. Berenang hingga menyelam di sana. Menikmati karunia Tuhan yang tetap dijaga sampai kini dan (seperti kata Febriany), sampai nanti; pada masa depan ketika waktunya anak-cucu kita lagi yang merasakannya. Karena hidup bukan hanya tentang kita dan hari ini. Hidup juga untuk generasi dan hari-hari mendatang.

Dari dermaga Danau Matano kami menyeberang ke Laa Waa River Park, sebuah destinasi “baru” di Desa Matano, Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur. Kami menaiki perahu jenis raft dengan waktu tempuh satu jam.

Kami kembali main air di sana, mencemburkan diri dan segala resah.

Investasi Hilirisasi

Sejak beroperasi lebih dari 56 tahun, PT Vale menjadi pelopor hilirisasi berbasis energi terbarukan dalam pengolahan nikel nasional.

Pabrik smelter PT Vale Indonesia.

Vale telah lama menegaskan komitmen untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral melalui pengoperasian pertambangan nikel terintengrasi.

Anda mungkin tidak menduga, Vale telah mengoperasikan pabrik pengolahan di Sorowako sejak 1977!

Setahun kemudian secara komersial Vale mulai menggunakan PLTA. Menjadikan Perusahaan itu salah satu yang pertama menerapkan konsep hilirisasi berkelanjutan.

Selain itu, Perusahaan menggunakan teknologi Rotary Kiln-Electric Furnace (RKEF) di Sorowako untuk mengolah bijih nikel menjadi nikel matte. Memastikan bahwa hasil tambang memiliki nilai tambah sebelum dipasarkan.

Vale juga membangun smelter HPAL (High Pressure Acid Leach) di Pomalaa, Sulawesi Tenggara.

Proyek-Proyek Hilirisasi PT Vale antara lain proyek HPAL di Pomalaa yang akan menghasilkan 120 ribu ton MHP per tahun.

Lalu, proyek HPAL di Morowali. Proyek ini juga akan menghasilkan MHP.

Proyek RKEF di Sorowako, tempat produki terbesar, fokus pada peningkatan kapasitas produksi nikel dalam matte.

Kemudian ada Indonesia Growth Project (IGP) Morowali. Proyek ini merupakan bagian dari upaya hilirisasi PT Vale di Morowali, Sulawesi Tengah, sebagai salah satu lini bisnis terbaru perseroan.

Upaya hilirisasi ini membutuhkan investasi yang tidak sedikit. Direktur Utama Mind ID Maroef Sjamsoeddin mengatakan PT Vale Indonesia Tbk akan menggarap tiga proyek hilirisasi nikel dalam waktu dekat. Ketiga proyek tersebut, kata Maroef, menyerap investasi mencapai USD8,5 miliar atau sekitar Rp146,52 triliun berdasarkan kurs saat ini.

Maroef mengatakan penunjukkan Vale Indonesia dalam proyek hilirisasi nikel bertujuan untuk meningkatkan kapasitas produksi dan diversifikasi produk nikel.

Dia mengatakan dengan nilai investasi tersebut, ketiga proyek strategis nasional ini akan menambah kapasitas produksi Vale Indonesia sebesar total 240 kt Ni/tahun dalam MHP (mixed hydroxide precipitate).

Ketiga tambahan investasi dalam pengolahan nikel tersebut berada di Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa, IGP Morowali, dan proyek HPAL Sorowako. “Targetnya penyelesaian proyek ini bisa terealisasi pada tahun 2026 hingga 2027 ini,” kata Maroef.

Dengan kapasitas produksi yang terus meningkat, kata Maroef, Mind ID bersama Vale Indonesia optimistis dapat memperkuat multiplier effect pada ekonomi nasional. Selain itu, kehadiran proyek hilirisasi ini diharapkan bisa meningkatkan penyerapan tenaga kerja sekaligus meningkatkan penerimaan negara.

Kesempatan kerja terbuka, Vale bisa mempekerjakan lebih banyak anak bangsa sekaligus memberi kontribusi lebih besar bagi Indonesia. Walau biayanya besar, namun jika itu sudah menjadi komitmen, kalkulator bisa disingkirkan.

“Kami ingin memastikan bahwa kehadiran Mind ID dalam pengelolaan Vale Indonesia mampu mendorong nilai tambah yang lebih besar bagi perusahaan dan mempercepat hilirisasi nikel,” ujarnya. (imam dzulkifli)