Indonesia tak sesederhana “Sabang Sampai Merauke”. Indonesia adalah sebuah bentangan panjang dengan puluhan ribu desa yang sudah saatnya terkoneksi digital.
***
Bayangkan, di sebuah desa yang permai, dengan hasil pertanian, perkebunan, atau perikanan yang melimpah, namun sulit untuk memperkenalkannya dengan pasar di luar sana.
Modem internet bisa dipasang di kantor desa, terhubung dengan kabel yang melintang dari tiang ke tiang. Satu problem mungkin bisa selesai. Namun, bagaimana jika bagian lain, misalnya di kantor BUMDes, pasar, posyandu, hingga pos ronda juga sedang memerlukan internet? Sungguh mustahil untuk memindahkan perangkat dan kabel-kabelnya dalam waktu sekejap.
Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) selangkah lebih maju dengan memberi jalan keluar, yakni modem internet tanpa kabel namun dengan kecepatan yang tidak kalah, bahkan cenderung lebih stabil terhadap goncangan atau perubahan cuaca.
HiFi Air namanya. Sebuah produk yang dihadirkan untuk menghilangkan keribetan lilitan kabel. Anda bisa menggunakannya di kantor desa sekarang dan dalam 3 menit selanjutnya dipindahkan ke balai pertemuan warga yang mungkin ada di tengah sawah.
EVP (Executive Vice President) Head of Circle Kalisumapa Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) Swandi Tjia menuturkan, HiFi dengan segala kemudahan yang ditawarkan memang menyasar semua segmen. Termasuk keluarga-keluarga Indonesia yang menginginkan jaringan internet cepat tetapi juga bisa digunakan ketika bepergian. Saat hendak wisata ke pantai atau gunung misalnya.

Tetapi karena momentum launching nyaris bertepatan dengan misi besar pemerintahan Presiden RI, Prabowo Subianto, memajukan ekonomi desa lewat digitalisasi, HiFi pun bisa jadi salah satu roda penggerak.
“Apalagi, Pak Presiden baru saja meluncurkan Koperasi Merah Putih di seluruh desa,” ucap Swandi, Senin, 28 Juli 2025.
HiFi misalnya bisa jadi alat yang memastikan koneksitivitas di kantor-kantor koperasi itu. Apalagi, satu modem sanggup menyalakan internet 32 perangkat dalam waktu bersamaan. Segala pekerjaan bisa diselesaikan dengan lebih mudah. Selesai kerjaan di situ, modem bisa dibawa kembali ke kantor desa untuk keperluan melayani warga.
IOH sanggup melayani seluruh negeri dengan HiFi. Di mana ada sinyal Indosat, di situ modem bisa digunakan.
Kekuatan jaringan IOH kini didukung 4.304 kilometer kabel bawah laut domesti, 11.325 kilometer kabel bawah laut international, 230 ribu BTS + metro, 206.275 kilometer fiber optic, dan 516 kota dengan jaringan 4G.
IOH kini dipercaya lebih dari 100 juta seluler aktif di Indonesia. Mampu menyediakan one stop solution dengan dukungan teknologi terbaru dan partner global tepercaya. Plus telah berpengalaman smart city di lebih dari 30 kota/kabupaten berbasis performa dan efektivitas penyerapan anggaran.
Regulasi Membolehkan
Pertanyaannya, mungkinkah regulasi di Indonesia telah mendukung?
VP Head of Value Accelaration IOH, Syamsul Bachtiar menuturkan, pemerintah sangat memberi jalan. Sebanyak 75.265 desa ditargetkan bertransformasi digital pada 2025. Saat ini bahkan sudah lebih 14.000 desa telah mengalokasikan Dana Desa untuk digitalisasi dan itu telah berlangsung dalam tiga tahun terakhir.
“Program Desa Digital atau Desa Cerdas juga diprioritaskan dalam penggunaan Dana Desa sesuai amanat UU APBN 2025,” jelas Syamsul.
Media ini memastikan lagi pernyataan itu. Ternyata memang dalam aturan penggunaan Dana Desa tahun anggaran 2025, pemerintah menggariskan bahwa anggaran dapat digunakan dalam program digitalisasi desa, termasuk penyediaan akses internet, peningkatan literasi digital, serta pengembangan layanan publik berbasis teknologi informasi.
Itu masih didukung UU Koperasi Nomor 13 Tahun 2025. Koperasi mendorong penguatan peran koperasi dalam ekosistem digital, termasuk dalam pengelolaan infrastruktur layanan internet dan transformasi ekonomi desa berbasis teknologi.
Salah seorang kepala desa di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Muhammad Arif yang memimpin Desa Tupabiring menyebut bahwa digitalisasi di desa memang sudah sangat diperlukan.
“Saat ini sebenarnya mulai berjalan namun belum maksimal,” ucap Arif.
Dia pun menyadari ke depan digitalisasi bakal menjadi keharusan. Bukan hanya untuk mengikuti zaman. Namun memang diperlukan untuk mempermudah pekerjaan, terutama dalam memberi pelayanan kepada masyarakat.
Desa Tupabiring yang berada di pesisir, kaya akan hasil laut dan ditambah perikanan tambak, bisa lebih dikenal dan mengeluarkan potensinya jika semua sudah terdigitalisasi.
Lebih Hemat
Istimewanya, HiFi juga menjanjikan efisiensi anggaran. Menurut Syamsul, untuk persoalan kuota internet, modem tersebut hemat Rp500 per GB dibanding operator lain.
Dengan hitung-hitungan seperti itu, anggaplah sebuah desa berlangganan 200 GB per bulan, berarti lebih hemat Rp100.000 per bulan dibanding memilih modem dari operator lain.
“Spesialnya lagi karena ini instalasi tanpa kabel. Bebas dipindah dan dibawa ke mana pun,” imbuh Syamsul.
Isi ulangnya pun sangat mudah. Bisa di outlet maupun channel-channel digital. Kelebihan lainnya adalah modem menjadi hak milik pelanggan dan tidak ada denda.
Erni Bundu, salah seorang warga yang sempat menggunakan modem dari operator lain menceritakan bagaimana dia harus terikat kontrak dalam jangka waktu tertentu untuk menggunakan modem.
“Belum lagi jika telat bayar, pasti ada denda,” ucap Erni.
Pengeluaran keluarganya pun lebih boros karena ketika berada di luar rumah, dia mesti membeli kuota lagi untuk digunakan di ponsel.
“Jadinya sih memang boros sih,” imbuh ibu tiga anak itu.
Makin jelaslah bahwa HiFi dari Indosat bisa jadi solusi internet kencang namun dengan biaya yang lebih terjangkau.
Rumah tangga bisa menggunakannya untuk keluarga, termasuk tugas sekolah anak-anak. Desa-desa pun direkomendasikan memakainya karena lebih efisien dan bisa dibawa ke mana saja.
Namun, IOH juga sadar menjembatani digitalisasi puluhan ribu desa bukan simsalabim. Butuh tahapan untuk bisa memaksimalkannya.
Makanya, Indosat membuat tahapan. Dibagi ke dalam empat langkah;
Underdeveloped Village, mengidentifikasi desa dengan infrastruktur jalan dan akses komunikasi yang minim.
Building Access & Infra, membangun infrastruktur dasar seperti jalan, listrik, dan konektivitas internet.
Attracting Investors, digitalisasi membuka peluang investasi dan menggerakkan roda ekonomi lokal.
Digital Village, terwujudnya desa yang terkoneksi dan terintegrasi melalui teknologi informasi.
Ya, semua butuh waktu. Namun setidaknya, IOH telah membuka sebuah jalur yang bisa membuat waktu tempuhnya menjadi lebih singkat. HiFi adalah solusi masa depan untuk Indonesia. (imam dzulkifli)







