MATAMAROS.COM – Warga di beberapa kecamatan di Kabupaten Maros, tengah menghadapi krisis air bersih. Kejadian yang selalu berulang setiap tahun.
Kondisi ini membuat warga terpaksa menggunakan sumber air seadanya yang tidak layak konsumsi.
Di Kecamatan Marusu, warga hanya mengandalkan air empang untuk kebutuhan sehari-hari. Air tersebut berwarna kehijauan, berbau, bahkan terasa asin.
“Di sini susah air bersih, hanya pakai air empang yang berbau dan asin,” kata Raiah, salah satu warga Marusu.
Menurut dia, air empang hanya dipakai untuk mandi dan mencuci. Sementara kebutuhan minum dan memasak dipenuhi dengan membeli air tangki seharga Rp100 ribu.
“Kalau tidak ada uang, terpaksa dicampur dengan sedikit air bersih yang ada. Kami sudah lama mengalami kondisi ini,” tambahnya.
Raiah berharap pemerintah segera mencarikan solusi, sebab warga tidak mungkin terus bergantung pada air empang yang berisiko bagi kesehatan.
Krisis serupa juga dialami warga Kecamatan Bontoa. Mereka mengandalkan air sawah yang tertampung untuk keperluan sehari-hari, meski kualitasnya buruk.
Darmi, salah seorang warga, menuturkan dirinya rutin mengambil air setiap pagi dan sore dengan delapan jeriken berkapasitas 5 liter.
Ada empat titik sumber air sawah yang digunakan bersama-sama oleh warga.
“Airnya keruh, bahkan di sawah itu ada bebek dan sapi. Setelah mandi, biasanya kulit terasa gatal. Tapi tidak ada pilihan lain,” jelasnya.
Untuk kebutuhan minum, warga membeli air galon. Namun bila harus membeli air tangki, beban ekonomi keluarga semakin berat.
“Harganya Rp55 ribu, itu hanya cukup empat hari. Terlalu berat kalau harus beli terus,” tambahnya. (ast)







