Berkat Inklusi Keuangan OJK, Produk Mama Muda dari Pesisir Tembus Supermarket

Rita memperlihatkan Kerupuk Rajungan Mama Muda dengan latar belakang Selat Makassar, tak jauh dari rumahnya. (FOTO: IMAM DZULKIFLI/MATAMAROS)

Ini dia mama muda yang pernah menggemparkan Indonesia. Mama muda yang renyah dan kriuk. Namun butuh perjuangan yang penuh letih dan peluh untuk tiba di titik ini, termasuk belajar literasi keuangan.

***

DAPUR itu kecil saja, mungkin hanya 3×3 meter. Panci-panci menggantung di paku beton. Ada dispenser kecil di sudut kanan. Di situlah Rita membuat adonan hingga menggoreng kerupuk rajungannya. Tetapi, kisah produksi sesungguhnya tidak dimulai dari situ, melainkan nun jauh di Selat Makassar.

Di tengah lautan, dari atas katinting (perahu tradisional Bugis-Makassar berukuran kecil), Bakri, suami dari Rita, setiap hari pergi menjaring sumber penghidupan. Pergi pagi pulang siang, lanjut pergi sore pulang malam untuk mencari rajungan.

Rajungan adalah salah satu jenis kepiting. Kakinya panjang dan memiliki bintik-bintik putih di sekujur tubuhnya. Rajungan itulah yang Bakri, pria 39 tahun itu, selalu bawa pulang ke rumah mungil mereka di Dusun Kuri Caddi, Desa Nisombalia, Kecamatan Marusu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

Rita yang 6 tahun lebih muda dari suaminya selalu menyambut dengan senyuman dan baskom. Sebab rajungan itulah yang menjadi bahan baku utama Kerupuk Rajungan Mama Muda, produk UMKM yang kini makin dikenal, apalagi setelah Presiden RI saat itu, Joko Widodo (Jokowi), membawanya ke podium BRI Microfinance Outlook di Ballroom Menara BRILiaN, Gatot Subroto, Jakarta.

Hal yang sangat mengagetkan Rita. Dari kediamannya yang terletak di dusun terjauh bagian barat Kabupaten Maros, dia nyaris tak percaya produknya menjadi satu dari dua yang dibawa Presiden ke panggung untuk diperlihatkan kepada para pejabat penting dan disiarkan secara langsung. Itu juga tak lepas dari keinginan belajar Rita yang begitu besar. Meski rumahnya jauh di pelosok dan pesisir, dia rajin mengikuti pelatihan literasi dan inklusi keuangan yang melibatkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bekerja sama lembaga jasa keuangan.

Dua pekan sebelumnya, Jokowi memang datang ke Maros untuk bertemu ribuan nasabah Mekaar dari PNM di Lapangan Pallantikang, Kompleks Kantor Bupati Maros. Rita hanya membawa tiga bungkus kerupuk, sekadar untuk mencari “nama” Masing-masing bungkusan itu untuk tiga varian rasa; original, balado, dan pedas manis.

Jokowi yang berkeliling tertarik untuk mampir dan membeli semuanya (sayang Rita cuma bawa tiga bungkus itu). Gara-gara nama “Mama Muda”, serta (seperti yang dituturkannya kepada wartawan), kemasannya yang dinilai sudah sangat bagus.

Pernyataan yang hampir sama dilontarkan Jokowi di panggung megah dan sejuk acara BRI Microfinance Outlook. Dia memakai kemeja putih dengan balutan jas hitam.

Jokowi memuji nama produk tersebut yang dinilainya cukup kreatif karena ada kata “Mama Muda”. Pujian berbalut kelakar itu disambut tawa seisi ruangan.

“Bagus sekali, cara memberi namanya. Saya seneng betul, bukan saya seneng mama muda, ndak. Saya senang cara memberi nama bagus sekali, Kerupuk Rajungan Mama Muda, ini yang saya lihat di lapangan,” lanjut Jokowi.

Dia menuturkan, kerupuk rajungan ini dulunya hanya diberi plastik biasa. Sekarang sudah pakai kemasan menarik. Ada P-IRT hingga label halal. “Dijual ke mana-mana sekarang seperti ini. Ini bisa dijual di ritel-ritel modern, Hypermart, di mana pun bisa. Meskipun belum semua, packaging seperti ini, mungkin sudah 40 persen,” imbuhnya.

Endorse dari orang nomor 1 di republik ini melejitkan nama Mama Muda. Sejak berita hingga video-video pujian Jokowi viral, Rita mendapat begitu banyak telepon dan chat dari berbagai kalangan.

Bos Hypermart di Jakarta bahkan sampai menginstruksikan jajarannya di Makassar untuk mencari Mama Muda ini di Maros. Kebetulan, Makassar dan Maros masih bertetangga. Maka datanglah perwakilan supermarket itu ke rumah Rita. Hasilnya, pesanan 1.000 bungkus untuk outlet Hypermart di Mal Panakkukang, Makassar, langsung ditandatangani.

“Saya kaget sekali. Baru kali ini ada pesanan sebanyak itu. Semua berkat endorse Pak Presiden di acara BRI itu,” kenang Rita kepada saya yang mengunjunginya Kamis pagi lalu. Kunjungan yang membutuhkan perjuangan ekstra sebab jalan belum diaspal atau dibeton. Masih berupa tanah merah, sebagian ditutupi batu kali, sebagian lagi begitu becek. Saya memarkir mobil cukup jauh dan perlu lanjut dengan jalan kaki selama 9 menit dan 47 detik untuk bertemu sang pemilik Mama Muda.

Sekali lagi, kampung Rita adalah dusun terjauh di kabupaten ini. Pekarangan depan rumah para warga adalah laut, bukan taman penuh bunga.

Pesanan dalam jumlah ratusan juga diterima Rita dari salah satu cabang Ramayana di Jakarta. Rajungan hasil tangkapan suaminya tak lagi cukup untuk jadi bahan baku. Rita harus membeli sangat banyak rajungan dari pengumpul, demi “durian runtuh” yang menimpa usaha kecilnya.

Dari Kuri Caddi yang terpencil itu, Mama Muda kini ada di rak-rak supermarket, toko-toko ritel kenamaan.

Pesan WhatsApp Rita juga makin sering menerima orderan kecil-kecilan dari berbagai daerah. Seringkali dia mengantarkan langsung pesanan, dibonceng Bakri, suami tercinta.

Dia paling ingat ketika mendapat orderan 50 bungkus dari seseorang di Pallangga, Kabupaten Gowa. Jaraknya kira-kira 40 kilometer. Namun apes, mereka melanggar lalu lintas. Karena baru pertama kali ke kota, mereka mengira jalan tol bisa dilalui sepeda motor. Saat melintas, mereka ditahan polisi. Keuntungan yang sudah di depan mata sirna karena harus membayar denda tilang.

“Kadang saya juga antar sendiri, melewati jalan becek di pematang empang. Sering saya nyaris jatuh gara-gara licin,” ucap Rita. Kami mengobrol di teras rumahnya. Di situ tergeletak beberapa rakkang atau perangkap kepiting milik suaminya. Saya disuguhi kerupuk rajungan dan teh daun mangrove yang dibuat Cora (49 tahun), ibu kandungnya. Kerupuk yang renyah dan teh serta sambutan yang hangat dari tuan rumah.

Modal dari Bank

Rita sudah punya bakat jualan sejak kecil. Usianya baru 10 tahun saat dia mulai jualan kue keliling dusun. Dia menjajakannya dari rumah ke rumah. Beranjak remaja, dia menjual nasi kuning dan songkolo (penganan khas Sulsel, terbuat dari beras ketan).

Umur 17 tahun, Bakri mempersuntingnya. Kehidupan baru dimulai. Kebutuhan semakin banyak, apalagi setelah Sahrul dan Misnawati, anak-anak mereka lahir. Sahrul kini kelas 1 SMP, Misnawati kelas 2 SD.

Kebetulan saat itu sebuah yayasan nirlaba sedang punya program di Kuri Caddi. Mulai dari pembersihan hutan mangrove hingga membina istri-istri nelayan yang kadang hanya melamun di rumah menunggu suami pulang melaut.

Rita ikut pelatihan membuat kerupuk. Awalnya cuma kerupuk mentah, terbuat dari cangkang dan daging rajungan. Namun dia merasa harus membuat sesuatu yang berbeda. Terpikirlah membuat kerupuk siap makan.

Nama “Mama Muda” langsung terlintas karena yang membuat camilan itu rata-rata ibu berusia belasan dan 20-an tahun. Mulailah Rita dengan bantuan modal Rp3 juta dari PNM, membuka usahanya. Namun belum langsung kemasan yang bagus seperti sekarang, melainkan hanya plastik bening yang ditempeli stiker.

Pada 2022, Universitas Negeri Makassar (UNM) mengirim mahasiswanya untuk membina warga Kuri Caddi. Rita berkenalan dengan seorang dosen bernama Sri Bulan. Nama yang masih diingatnya betul hingga kini karena orang itulah yang mengikutkannya program bantuan. Mulai dari cara mendesain kemasan, dilanjut bantuan blender, mesin press, hingga spanduk dan banner.

Setahun kemudian, Rita mulai mendapat kredit usaha rakyat (KUR) dari BRI. Dia sekaligus ikut BRI UMi, program BRI untuk masyarakat ultra mikro, khususnya nasabah eksisting PNM dan Pegadaian. Rita tahu itu semua adalah lembaga jasa keuangan yang diakui OJK, makanya tepercaya.

“Awalnya saya dapat pembiayaan Rp30 juta dari BRI. Itulah yang terus saya putar,” ucap perempuan yang hanya tamat sekolah dasar itu. “Kami dulu tidak sanggup sekolahkan dia tinggi-tinggi karena tidak punya biaya,” timpal Cora, sang ibu yang juga terus menemani kami mengobrol. Saya masuk ke ruang tamu dan melihat berbagai piagam dan sertifikat atas nama Rita terpajang. Pendidikannya terbatas, namun prestasinya tidak.

Rita pun menjadi debitur kepercayaan bank. Setiap kali pelunasan, dia selalu mendapat tambahan modal baru. Dia bahkan jadi agen lakupandai di kampungnya.

Pantang Mundur

Rita bersungguh-sungguh dengan Mama Muda-nya. Dia sudah dihadapkan dengan berbagai rintangan namun bisa terlewati. Selain fokus memproduksi kerupuk rajungan, dia juga rajin ikut pelatihan dan pameran. Dia tidak pelit memberi tester. Jika orangnya suka dan beli, syukur. Kalaupun tidak, dia tak sedih.

Dia pernah membawa produknya untuk sebuah acara di Makassar yang dihadiri Sandiaga Uno. Sayangnya, di perjalanan, sepeda motornya menyerempet kendaraan orang. Dia dan suaminya dituntut ganti rugi namun memelas dimaafkan karena tak punya uang lebih.

“Alhamdulillah bapak itu kemudian bisa terima. Saya kasih kerupuk dua bungkus sebagai permintaan maaf,” tuturnya.

Rita di depan foto dan berbagai piagam penghargaan yang telah diterimanya. (FOTO: IMAM DZULKIFL/MATAMAROS)

Kadang kalau ada acara keluarga semisal pernikahan, dia bawa juga kerupuknya biar semakin banyak orang yang mencoba.

Jalan yang becek dan jarak jauh ke kota tak menyurutkan tekadnya. Sinyal seluler yang terbatas di dusun paling ujung dan berbatasan laut tidak menghalanginya untuk aktif di media sosial.

Usahanya masih kecil, namun impian besar selalu dirawatnya baik-baik. Dia mengaku tak putus berdoa. Dukungan keluarga dan pembiayaan dari BRI serta PNM juga makin menguatkannya.

Dia telah membuktikannya. Dari doa dan usaha, produknya dilirik presiden, bahkan dibawa khusus ke acara besar di Jakarta. Mama Muda makin aduhai. Namun, jujur kata Rita, pesanan lain di luar Hypermart dan Ramayana itu belumlah besar. Kadang ada yang pesan hanya dua bungkus, tiga bungkus, pokoknya tidak banyak.

Namun dia yakin, suatu saat nanti akan kebanjiran orderan lagi. Rita juga berharap suatu saat bisa punya toko sendiri di lokasi yang lebih strategis, di tengah-tengah keramaian.

Perempuan kampung nelayan itu tak putus berikhtiar dan bertawakal. Apalagi ada lembaga keuangan yang setia mendampingi dan membina.

OJK Permudah UMKM

Kemungkinan maju para UMKM seperti Mama Muda memang kian tebruka. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyiapkan berbagai insentif bagi lembaga keuangan guna mempercepat dan mempermudah penyaluran pembiayaan kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Insentif tersebut diatur dalam Peraturan OJK (POJK) Nomor 19 Tahun 2025 tentang Kemudahan Akses Pembiayaan Kepada UMKM berupa relaksasi sejumlah persyaratan operasional.

Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan Perbankan OJK, Indah Iramadhini, mengatakan kebijakan ini menjadi langkah strategis untuk memperluas akses pembiayaan UMKM melalui kemudahan proses perizinan dan penyederhanaan persyaratan.

“Untuk bank umum, misalkan, kami menyiapkan insentif berupa relaksasi persyaratan instant approval (proses pengajuan kredit secara cepat),” ujar Indah dalam Media Briefing Peraturan OJK Nomor 19 tahun 2025, Jumat, 19 September 2025.

Indah menjelaskan, persyaratan instant approval bagi bank umum meliputi peringkat 1 atau 2 dalam penilaian Kualitas Penerapan Manajemen Risiko (KPMR) terakhir, peringkat 1 atau 2 dalam penilaian Good Corporate Governance (GCG) terakhir, serta memiliki infrastruktur dan pengelolaan teknologi informasi yang memadai.

Namun, bank umum yang menyalurkan pembiayaan UMKM hanya diwajibkan memenuhi persyaratan terakhir, yakni kesiapan infrastruktur teknologi informasi.

Relaksasi juga diberikan untuk Bank Perekonomian Rakyat (BPR) dan BPR Syariah. Jika sebelumnya proses perizinan memerlukan waktu hingga 30 hari kerja dengan berbagai dokumen, kini dipercepat menjadi 10 hari kerja.

Dokumen permohonan izin pun disederhanakan, cukup menyertakan bukti kesiapan operasional tanpa perlu melampirkan target bisnis atau proyeksi keuangan 12 bulan.

OJK juga memberikan kelonggaran bagi Lembaga Keuangan Nonbank (LKNB) yang mendukung sektor UMKM, misalnya pengecualian syarat ekuitas minimum Rp200 miliar untuk kegiatan usaha tertentu.

“Ini kami berikan agar pembiayaan kepada UMKM dapat berjalan lebih cepat dan efisien,” kata Indah.

Kebijakan dan program OJK selama 14 tahun ini dalam menjaga stabilitas Sektor Jasa Keuangan (SJK) sejalan dengan upaya memperkuat perlindungan konsumen dan masyarakat. Terutama dari jerat rentenir. (imam dzulkifli)