NEWS  

Buah Salak MBG di Maros Ditemukan Berulat

Pembagian MBG di SMPN 4 Bantimurung, Rabu, 15 Oktober 2025. (FOTO: ASTY UTAMI/MATAMAROS)

MATAMAROS.COM — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Maros menjadi sorotan setelah sebuah video pendek beredar di media sosial memperlihatkan buah salak yang membusuk dan berulat.

Video berdurasi delapan detik itu direkam oleh seorang siswa SMPN 4 Bantimurung pada Selasa, 14 Oktober 2025.

Dalam rekaman terlihat salak berwarna cokelat yang membusuk saat dibelah. Beberapa ulat keluar dari dalam buah.

Siswa yang merekam tampak menunjukkan ekspresi kaget terhadap kondisi tersebut.

Koordinator Satuan Pelaksana Pemenuhan Gizi (SPPG) Bantimurung–Kalabbirang, Endah Pangesti, mengaku telah menerima laporan dari orang tua siswa dan segera menelusuri sumber permasalahan.

“Yang viral itu benar terjadi di SMPN 4 Bantimurung. Kami sudah dapat laporan langsung dari orang tua siswa,” katanya saat ditemui Rabu, 15 Oktober 2025.

Endah menyampaikan permohonan maaf kepada orang tua siswa dan masyarakat. Ia mengatakan kejadian itu menjadi bahan evaluasi bagi tim dapur.

“Saya minta maaf atas kejadian ini. Kami akan memperketat proses sortir agar kejadian seperti ini tidak terulang,” ucapnya.

Menurut Endah, proses sortir bahan makanan dilakukan tim dapur setiap sore hingga dini hari.

“Tim mulai bekerja sejak pukul 16.00 Wita sampai selesai pukul 04.00 Wita. Buah disortir paling terakhir,” jelasnya.

Ia mengungkapkan total buah yang dipesan dari pemasok di Maros sebanyak 150 kilogram, dengan sekitar 16 kilogram di antaranya dalam kondisi rusak.

“Kemungkinan dua buah yang busuk itu lolos saat pemeriksaan karena kelelahan tim,” tambahnya.

SPPG Bantimurung–Kalabbirang melayani 11 sekolah dengan total 1.714 siswa penerima manfaat.

Di SMPN 4 Bantimurung, jumlah siswa penerima program mencapai 809 orang.

Menanggapi kejadian tersebut, Bupati Maros Chaidir Syam menyatakan pihaknya telah melakukan evaluasi bersama tim percepatan MBG dan pengawas program.

“Kami sudah menggelar evaluasi dan memberikan peringatan kepada pihak dapur agar lebih selektif, terutama dalam memilih bahan makanan yang berpotensi cepat rusak,” tegasnya.

Ia menegaskan, kasus ini menjadi pelajaran bagi semua pengelola dapur di Maros.

“Informasinya, ini murni kelalaian dalam proses sortir. Kami harap seluruh dapur lebih berhati-hati ke depan,” ujarnya.

Chaidir juga memastikan program MBG akan terus berjalan dengan pengawasan yang lebih ketat.

“Program ini membawa manfaat besar bagi anak-anak sekolah. Kualitas makanan akan terus kami pantau agar kejadian serupa tidak terulang,” jelasnya.

Selain itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Maros kini melakukan pendampingan kepada seluruh SPPG untuk memastikan seluruh dapur memiliki sertifikat higienitas.

“Pendampingan sedang berjalan. Targetnya, seluruh SPPG di Maros sudah bersertifikat higienitas bulan ini,” tutupnya. (ast)