MATAMAROS.COM — Aktivitas nelayan di wilayah pesisir Desa Tupabiring, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros nyaris lumpuh akibat cuaca ekstrem yang terjadi dalam sebulan terakhir.
Gelombang tinggi disertai angin kencang membuat nelayan memilih tidak melaut demi menghindari risiko kecelakaan di laut.
Pantauan di lapangan menunjukkan puluhan kapal nelayan hanya terparkir di dermaga dan muara sungai. Sekitar 80 kapal tampak berjejer tanpa aktivitas melaut.
Suasana dermaga yang biasanya ramai dengan aktivitas bongkar muat ikan kini terlihat lengang. Nelayan lebih banyak menghabiskan waktu di darat.
Sebagian nelayan memanfaatkan waktu dengan memperbaiki jaring dan mengecat kapal, sementara lainnya memilih bertahan di rumah menunggu cuaca kembali normal.
Kondisi ini memaksa nelayan kehilangan penghasilan harian.
Salah seorang nelayan setempat, Abdullah, mengaku hampir sebulan tidak melaut.
Ia menyebut gelombang laut mencapai ketinggian 3 hingga 4 meter, sehingga terlalu berbahaya untuk berlayar.
“Kalau cuaca bagus, kita bisa melaut sampai seminggu. Tapi sekarang tidak berani karena angin dan ombak,” katanya, Selasa, 13 Januari 2026.
Selama tidak melaut, ia mengandalkan tabungan dari hasil tangkapan sebelumnya untuk mencukupi kebutuhan keluarga.
“Kerja yang lain juga susah karena tidak terbiasa,” ujarnya.
Kepala Desa Tupabiring, Muhammad Arif, mengatakan, sebagian besar nelayan di wilayahnya menggantungkan hidup dari penangkapan ikan torani yang sangat bergantung pada musim.
“Sekitar 80 persen nelayan di sini pakai alat tangkap torani. Kalau cuaca begini, otomatis tidak bisa melaut,” ujarnya.
Ia menambahkan, hanya sebagian kecil nelayan yang memiliki alat tangkap alternatif seperti pancing kakap.
Namun cuaca ekstrem tetap membuat mereka memilih tidak beraktivitas di laut.
“Yang punya alat tangkap lain pun tetap di rumah karena ombak besar,” katanya.
Menurut Arif, kondisi cuaca buruk ini telah berlangsung sekitar satu bulan. Akibatnya, hampir seluruh perahu nelayan hanya terparkir di pesisir.
“Paling aktivitasnya cuma perbaiki jaring atau kapal,” ujarnya.
Beberapa nelayan kecil sempat mencoba melaut pada dini hari, termasuk mencari kepiting.
Namun mereka terpaksa kembali sebelum jauh dari muara.
“Baru keluar subuh, sampai muara langsung balik lagi karena ombak,” ungkapnya.
Untuk bertahan hidup, sebagian nelayan mengandalkan tabungan, sementara lainnya mencari pekerjaan sementara di darat.
“Ada yang jadi kuli bangunan, ada juga yang ikut kapal besar sebagai ABK di Pulau Podang-Podang,” katanya.
Meski begitu, tidak semua nelayan bisa ikut melaut di kapal besar. Umumnya hanya anak buah kapal, sementara pemilik kapal memilih tidak berlayar.
“Biasanya yang ikut itu ABK saja, juragannya tetap di rumah,” tutupnya. (ast)







