NEWS  

TNI Bersama Warga; Membangun Jembatan dan Harapan di Pelosok Dusun

TNI dan warga bahu-membahu menyelesaikan pembangunan jembatan gantung.

Rasa haus dan lapar tak menghentikan langkah para prajurit TNI Angkatan Darat yang memanggul besi dan sling baja di tepian sungai Kecamatan Tompobulu.

DI bawah terik matahari Ramadan, mereka bekerja dalam diam, menyatukan dua desa yang selama ini terpisah arus deras: Dusun Katoang-Desa Bontomatinggi dan Dusun Makmur-Desa Bontomanurung. Jaraknya dua jam perjalanan darat dari kota Maros, namun dengan medan yang ekstrem.

Sudah bertahun-tahun warga menggantungkan harapan pada sebuah kereta gondola sederhana.

Anak-anak menyeberang menggunakan kereta gondola sederhana.

Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar tinggi, anak-anak berdiri di tepi sungai. Celana mereka digulung hingga ke lutut, tas tergantung di punggung. Sepatu tak lagi terpasang di kaki, melainkan ditenteng menunggu giliran menyeberang.

Gondola itu ditarik manual. Perlahan. Oleh tangan-tangan kecil dan orang dewasa yang sudah terbiasa menantang arus demi sampai ke seberang.

Sungai selebar sekitar 70 meter dengan kedalaman mencapai enam meter itu kerap berubah watak saat musim hujan. Arusnya bisa mendadak deras.

Namun selama lebih dari dua tahun terakhir, warga tak punya pilihan selain menggantungkan harapan pada gondola yang membentang mengikuti jalur penyeberangan.

Salah satunya Farel, siswa kelas 3 SD. Bocah kecil itu sudah akrab dengan ketegangan setiap pagi.

“Biasanya kami berangkat jam 06.30 dan sampai sekolah sekitar jam 08.30. Kalau air sungai naik, saya sering tidak ke sekolah karena takut menyeberang,” katanya polos.

Usulan pembangunan jembatan tak pernah absen dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) desa. Setiap tahun dibicarakan. Setiap tahun pula belum terealisasi.

Kini, batas itu perlahan dihapus.

Sebanyak 27 personel TNI bersama 10 warga setempat bahu-membahu membangun jembatan gantung sepanjang 100 meter dengan lebar 1,2 meter.

Tak ada sekat antara seragam loreng dan pakaian kerja warga. Mereka memanggul material bersama, mengikat sling bersama, bahkan beristirahat di tempat yang sama.

Tahap demi tahap dikerjakan.

Pembersihan lokasi telah rampung 100 persen. Semak belukar yang dulu menutup tepi sungai kini berganti dengan hamparan tanah yang tertata rapi. Di sanalah harapan baru mulai ditegakkan, perlahan namun pasti.

Bowplank terpasang 75 persen, membentuk garis-garis awal yang kelak menjadi penentu arah bentangan jembatan.

Bagi warga, kayu-kayu itu bukan sekadar alat ukur, melainkan tanda bahwa mimpi yang lama diperjuangkan akhirnya menemukan wujudnya.

Material terus berdatangan sedikit demi sedikit. Hingga kini, progres pembangunan telah mencapai 45 persen.

Di sisi sungai, blok beton anchor mulai menguatkan pondasi.

Di Sisi A, pengerjaan baru menyentuh 15 persen.

Sementara di Sisi B telah mencapai 95 persen—nyaris rampung.

Lubang pondasi cylop di Sisi B sudah tergali sepenuhnya, meninggalkan jejak tanah yang menjadi saksi awal kokohnya jembatan ini.

Di Sisi A, progresnya masih 10 persen, namun pekerjaan terus bergerak tanpa henti.

Footplate dan pondasi pylon menunjukkan perkembangan berbeda di tiap sisi.

Di Sisi A baru 5 persen, sedangkan di Sisi B telah mencapai 48,5 persen.

Bronjong penahan tebing tersusun 64 persen, menjaga bantaran sungai agar tak lagi mudah tergerus arus saat musim hujan tiba.

Rangka jembatan perlahan mulai terlihat. Gelagar telah terpasang 47 persen.

Tiang pylon berdiri 38 persen, menjulang perlahan di atas aliran sungai.

Hanger dan clamp berada di angka 25 persen, menyatukan bagian demi bagian dengan ketelitian.

Pembentangan sling utama baru 20 persen. Namun sling atas dan bawah masing-masing telah mencapai 50 persen, begitu pula sling kait angin yang disiapkan untuk menjaga kestabilan saat angin kencang datang.

Di bagian lantai, balok dan papan telah dipotong dan diangkat hingga 50 persen.

Besi landasan lantai jembatan baru 25 persen, namun di sanalah nanti anak-anak akan melangkah tanpa rasa takut, tanpa harus lagi menunggu gondola bergerak perlahan di atas arus.

Masih ada tahapan yang menanti: pemasangan papan dan ram kawat, plang identitas, pengecatan, hingga pembersihan akhir.

Bekerja keras mengangkut bahan material.

Komandan Kodim 1422/Maros, Letkol Arm Agung Yuhono, berdiri mengamati pekerjaan itu dengan sorot mata yang tak bisa menyembunyikan empatinya.

Ia mengaku momen paling membekas adalah saat pertama kali melihat anak-anak harus menaiki gondola demi bisa sampai ke sekolah.

“Sangat kasihan melihat anak sekolah yang setiap hari harus berjuang naik kereta gondola untuk menyeberang,” tuturnya pelan.

Baginya, jembatan ini bukan sekadar proyek fisik. Ia menyebutnya sebagai penghubung harapan.

Harapan agar anak-anak bisa pergi ke sekolah tanpa rasa takut. Harapan agar hasil kebun warga dapat dibawa ke pasar tanpa harus menunggu giliran gondola.

Material utama berupa sling baja harus didatangkan dari Kalimantan karena tidak tersedia di Maros.

Semua bahan dikirim satu per satu menggunakan gondola, termasuk untuk pembangunan pondasi di sisi sungai yang jauh.

Musim hujan yang mulai datang menambah tantangan. Tanah menjadi licin. Arus sungai menguat. Distribusi material kian berat. Namun semangat tak ikut surut.

Di sela pekerjaan, anak-anak kerap berdiri di ujung sungai, menyaksikan para prajurit bekerja. Ada rasa penasaran. Ada senyum yang mengembang setiap kali rangka besi terpasang.

“Kalau suatu hari anak-anak itu sukses, kami akan mengenang ini sebagai darma bakti. Semoga lelah kami menjadi amal ibadah,” ujarnya.

Pembangunan jembatan ini ditargetkan rampung sebelum Lebaran dengan anggaran sekitar Rp500 juta.

Program tersebut menjadi bagian dari target besar TNI AD membangun 7.000 jembatan di seluruh Indonesia dalam setahun.

Namun di Tompobulu, jembatan ini punya makna yang lebih sederhana—dan lebih dalam.

Ia adalah jawaban atas kecemasan orang tua setiap pagi.

Ia adalah jalan yang memudahkan petani membawa hasil kebunnya.

Dan ia adalah pijakan aman bagi anak-anak yang selama ini bertaruh keberanian di atas gondola. (asty utami)