MATAMAROS.COM – Tim Rescue Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Maros mengevakuasi seekor ular king kobra berbisa dari area permukiman warga di Dusun Abbekae, Desa Damai, Kecamatan Tanralili.
Ular dengan panjang sekitar 3,5 meter itu ditemukan bersembunyi di sekitar fondasi rumah warga dan beberapa kali terlihat berkeliaran di lokasi, sehingga membuat warga resah.
Petugas Damkar tampak berjibaku saat proses evakuasi menggunakan alat grab stick untuk mengamankan reptil berbahaya tersebut.
Kasi Sarana dan Prasarana, Informasi dan Pengolahan Data Damkar Maros, M Ilham Halimsyah, mengatakan evakuasi dilakukan setelah pihaknya menerima laporan dari warga.
Laporan masuk sekitar pukul 09.20 Wita, dan tim langsung bergerak cepat ke lokasi.
“Kurang lebih lima menit setelah laporan masuk, tim yang berjumlah empat orang langsung bergerak menuju lokasi,” katanya, Senin, 9 Juni 2026.
Setibanya di lokasi, petugas langsung melakukan penyisiran di area yang dilaporkan sebagai titik kemunculan ular.
Warga sebelumnya menyebut ular tersebut sudah beberapa kali terlihat di sekitar rumah mereka.
“Karena sudah beberapa kali dilihat warga dan terakhir terlihat di celah batu pondasi rumah, tentu warga ketakutan sehingga meminta bantuan kepada kami,” jelasnya.
Ilham menuturkan, ular tersebut muncul dari celah batu fondasi rumah warga.
Proses evakuasi berlangsung sekitar 20 menit, namun sempat mengalami kendala karena posisi ular yang bersembunyi di sela batu.
Petugas kemudian menggunakan grab stick untuk memancing ular keluar dari persembunyiannya.
“Ketika akan ditangkap, ularnya masuk ke celah batu. Tim harus menyodok menggunakan alat grab agar keluar,” ungkapnya.
Setelah berhasil keluar, king kobra tersebut sempat kabur menuju arah jalan raya.
“Setelah keluar dari lubang, ular sempat lari dan bergerak ke arah jalan. Karena jenis ini cukup agresif, tim harus berhati-hati saat melakukan penangkapan,” tambahnya.
Beruntung, tidak ada warga yang menjadi korban dalam kejadian tersebut.
Ular kemudian berhasil diamankan dan dibawa ke Mako Damkar Maros sebelum diserahkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Selatan. (ast)







