MATAMAROS.COM – Sebanyak 92 ribu jiwa di Kabupaten Maros mulai merasakan dampak musim kemarau yang memicu krisis air bersih.
Kepala BPBD Maros, Towadeng, mengatakan, saat ini ada tiga kecamatan yang mengalami kekeringan paling serius. “Kecamatan Bontoa, Lau, dan Maros Baru menjadi wilayah yang mengalami kekeringan paling serius,” katanya, Minggu, 12 Juli 2026.
Ia menjelaskan di Kecamatan Bontoa, dari tujuh desa dan kelurahan yang ada, sekitar 90 persen wilayahnya sudah terdampak “Di kecamatan ini ada sekitar 32 ribu jiwa dan memang mereka sudah sangat membutuhkan air bersih,” ujarnya.
Selain tiga kecamatan tersebut, wilayah lain yang mulai terdampak yakni kecamatan Turikale, Moncongloe, Mandai, dan Marusu.
Beberapa wilayah di Maros memang setiap tahun mengalami kesulitan air bersih apabila hujan tidak turun selama satu bulan. “Mereka membeli air atau mendapatkan bantuan air bersih dari pemerintah,” jelasnya.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, BPBD Maros telah menyusun jadwal penyaluran bantuan air bersih ke wilayah yang paling terdampak. “Rencananya bulan ini kami mulai menyalurkan air bersih pada pekan ketiga hingga pekan keempat untuk lecamatan Bontoa, Lau, dan Maros Baru,” katanya.
Dampak musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih luas dibandingkan tahun sebelumnya. Jika pada 2025 terdapat delapan kecamatan yang terdampak, maka pada tahun ini jumlahnya diprediksi meningkat menjadi 10 kecamatan akibat musim kemarau ekstrem. Sepuluh kecamatan yang diperkirakan terdampak meliputi Turikale, Marusu, Mandai, Moncongloe, Tanralili, Bantimurung, Simbang, Bontoa, Lau, dan Maros Baru.
Di sisi lain, BPBD Maros masih menghadapi keterbatasan armada untuk mendistribusikan air bersih kepada masyarakat. Saat ini BPBD hanya memiliki empat armada tangki air, sementara kebutuhan ideal delapan armada.
“Karena itu kami telah berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Sulawesi Selatan dan Balai Pompengan untuk meminta bantuan armada air bersih,” tutup Towadeng. (ast)







