Sangat mudah mendapatkan nuget, sosis, hingga daging ayam segar produksi grup Japfa di lemari pendingin supermarket. Namun pernahkah Anda membayangkan bahwa semuanya bermula dari sebutir telur? Telur-telur yang diperjuangkan dan diperlakukan istimewa.
MASNAR Sutri adalah pimpinan unit pada poultry breeding division PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk di Tanralili, Maros, Sulawesi Selatan. Tetapi dia tak bisa seenaknya masuk ke ruang produksi, apalagi sampai menyentuh telur-telur dan anak ayam yang ada di dalam.
Masnar sama saja dengan para pekerja di situ. Dia harus mengikuti prosedur sanitasi sebelum masuk ke tempat kerja. Seperti pada hari itu, Jumat, 2 September 2022. Masnar yang sudah mandi dan memakai parfum sejak dari rumah, masih harus mandi di kantor.
Dia mengganti baju, celana, dan semua yang dipakainya dari rumah, kemudian menggunakan pakaian khusus.
Sudah boleh masuk? Belum. Masnar mesti melepas lagi pakaian khususnya, lalu mandi keramas. Itu pun masih mesti ditambah dengan menyelam di kolam yang airnya bisa membuat siapa saja menjadi lebih layak untuk bertemu telur-telur dan anak ayam di dalam. Pakaian juga sudah ganti lagi.
“Bahkan bupati, gubernur, hingga menteri sekalipun kalau berkunjung, harus mandi berkali-kali di sini,” ucap Masnar, tertawa, tetapi serius.
Dia menjelaskan betapa telur-telur dan anak ayam di situ begitu dimanja. Dijaga kesehatannya. Dihindarkan sebisa mungkin dari sesuatu yang bisa membuat mereka rusak atau sakit. Dicek setiap saat oleh dokter hewan dan sarjana peternakan.
Setiap tamu yang datang, termasuk penulis berita ini, wajib memasukkan nomor induk kependudukan di aplikasi yang dipegang satpam. Itu untuk keperluan tracking atau pelacakan jejak. Jika seseorang ditengarai pernah ke wilayah yang sedang ada virus penyakit ternak, dijamin tidak bisa masuk. Paling tidak harus menginap dulu di tempat yang “netral”. Keesokan harinya mungkin sudah bisa datang lagi, namun tetap harus mandi berkali-kali.
Masnar menyebut, salah satu komitmen yang dibangun Japfa sejak 1975 adalah kemauan untuk saling menguntungkan. Perseroan tidak didirikan untuk mengejar profit semata. Perseroan selalu memastikan pelanggan, termasuk para mitra peternak, mendapatkan produk yang terjamin kualitas dan higienitasnya.
Semua produk yang dihasilkan Japfa sudah dijaga kualitas dan higienitasnya sejak awal. Sejak nuget, sosis, hingga daging ayam, dan semua produk itu masih berupa sebutir telur.
“Japfa tak hanya menghasilkan produk dengan protein hewani. Namun produk dengan protein hewani yang aman dan sehat untuk dikonsumsi,” imbuh Zakaria, staf Masnar, seorang pria berkacamata.
Unit yang dipimpin Masnar terletak di kecamatan bernama Tanralili. Berbatasan dengan kecamatan bernama Tompobulu. Nah, peternakan Japfa ada di Tompobulu itu. Ayam-ayam juga bertelur di situ.
Prosedur di sana lebih ketat. Masnar jika hendak ke sana tidak bisa dadakan. Dia mesti menginformasikan terlebih dahulu untuk di-tracking rutenya. Mandinya juga lebih banyak, sampai tiga kali!
Untuk bertemu kekasih di malam minggu saja hanya perlu satu kali mandi agar lebih menawan. Sedangkan untuk bertemu induk-induk ayam di Tompobulu itu, kita mesti membilas diri sampai berkali-kali.
Dari peternakan di Tompobulu, telur-telur dibawa ke unit di Tanralili dengan mobil boks berkualifikasi khusus. Terjaga suhu dan temperaturnya.
Di Tanralili itulah telur-telur dimanja lagi hingga menjadi anak ayam yang siap lepas. Ada yang dilepas ke peternakan internal milik Japfa, ada yang ke peternakan mitra punya warga. Namun, kata Masnar, berbeda dengan perusahaan pada umumnya, Japfa memilih mengantarkan langsung telur-telur ke peternakan. Itu untuk menjaga kualitasnya. Jika di jalan sedang macet, sopir harus mengambil tindakan khusus, misalnya mengatur temperatur atau membuka pintu sejenak agar ruangan dalam boks tidak pengap. Anak-anak ayam itu diperlakukan sedemikian spesial.
Anak-anak ayam itu kemudian tiba di peternakan, dibesarkan seperti anak sendiri, hingga menjadi ayam dewasa. Jenis broiler maupun ayam petelur selanjutnya ada yang dijual langsung ke pasaran. Ada juga yang masuk pabrik Japfa untuk diolah menjadi berbagai jenis bahan makanan.
Nuget, sosis, hingga daging ayam segar itu hanya beberapa dari sekian produk Japfa. Semuanya dipastikan telah menjalani proses perlakuan yang benar dan bersih untuk kemudian dinyatakan siap disantap, memberi asupan protein hewani untuk siapa saja yang mengonsumsinya.
Japfa for Kids
Setiap unit di Japfa diwajibkan memperhatikan sekitarnya. Makanya, unit yang dipimpin Masnar itu rutin mengunjungi warga. Ada 130-an kepala keluarga yang selalu dikirimi paket protein hewani. Paling sering telur. Kerap juga dipaketkan dengan sosis, nuget, bahkan susu, karena Japfa memiliki anak-anak usaha yang menyediakan itu.
Kiriman-kiriman itu, kata Masnar, sangat diharapkan bisa ikut berkontribusi menghasilkan generasi penerus yang penuh gizi. Anak-anak bisa mengonsumsinya dengan bahagia serta menjadi asupan yang berharga bagi masa depan mereka.
“Selain itu, kami rutin melakukan sosialisasi mengenai pemenuhan gizi dan kebersihan lingkungan,” ucap Masnar.
Japfa menyiapkan tim khusus yang punya jadwal kunjungan ke sekolah-sekolah. Tim yang tak cuma membawa paket bahan makanan untuk dibagikan ke para siswa, namun juga berbagai wawasan.
Japfa for Kids, program sosial unggulan perusahaan tersebut, juga dijalankan di Tanralili dan Tompobulu, dua wilayah yang dipilih Japfa untuk melakoni usahanya di Maros, kabupaten yang berbatasan langsung dengan Makasssar, ibu kota Sulawesi Selatan.
Agil adalah salah satu pendamping Japfa for Kids di Maros. Hari itu, dia baru saja selesai melakukan sosialisasi di SDN 4 Ammarang. Besoknya dia ke sekolah dasar lainnya untuk kegiatan serupa.
Agil menjelaskan pentingnya keseimbangan gizi dan kebersihan untuk anak-anak di pedesaan. Anak-anak dilatih untuk lebih higien dalam kehidupannya. Bahan makanan yang dibagikan bisa habis dalam waktu sekejap. Namun perilaku sehat yang ditanamkan akan terus tumbuh, menemani anak-anak itu hingga dewasa.
Sebuah riset yang dirilis manajemen Japfa menunjukkan masyarakat desa, terutama yang berada di wilayah terpencil, menghadapi keterbatasan sarana dan pengetahuan akan kebutuhan gizi serta kebersihan lingkungan.

Atas dasar itu jugalah Japfa for Kids dirilis sejak 2008. Tujuannya adalah menghasilkan bahwa perubahan yang berkelanjutan melalui pemberdayaan guru di desa dan anak-anak untuk menciptakan kemandirian kesehatan dengan memanfaatkan sumber daya lokal. Peternakan telur dan ayam ada di sekitar anak-anak itu. Tinggal bagaimana memanfaatkannya untuk pemenuhan gizi. Makanya program itu juga menyasar warga sekitar unit Japfa, yang merupakan orang tua para siswa.
Program tersebut fokus pada edukasi gizi seimbang untuk meningkatkan prestasi dan menjaga kebersihan untuk mencegah timbulnya penyakit, terutama di masyarakat dengan keterbatasan akses kesehatan.
Di luar program itu, grup Japfa juga sering mengirimkan bahan makanan berprotein hewani ke panti-panti asuhan. Adriansyah, manajer HRD di PT So Good Food, jaringan Japfa di Maros, menuturkan bahwa setiap saat ada nuget atau sosis yang pihaknya antarkan ke warga, termasuk untuk anak-anak di panti.
“Kadang dikirim lewat program Japfa for Kids. Kadang juga kami bawa langsung. Semua anak berhak mendapatkan gizi yang baik untuk menghindarkan mereka dari stunting,” ucapnya.
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada balita akibat tidak terpenuhinya gizi seimbang. Japfa sebagai perusahaan yang memproduksi protein hewani tak ingin kondisi itu terjadi. Apalagi di sekitar tempat mereka beraktivitas, merawat telur, anak ayam, hingga membuat produk makanan olahan.
Penanganan Stunting
Ada satu program yang dibuat Japfa di Kabupaten Maros, yang jika berhasil akan menjadi rujukan bagi seluruh unit produksi di Indonesia. Program tersebut bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Maros.
Japfa masuk tim khusus yang dibentuk pemerintah daerah untuk penanganan stunting. Asbar, bagian HRD di Japfa yang ditunjuk menjadi penanggung jawab program tersebut menuturkan, saat ini pihaknya sedang melakukan survei dan mengumpulkan data.
Tim terlebih dahulu ingin memastikan di wilayah mana stunting paling perlu mendapat perhatian. Setelah data didapatkan, tim dari Japfa akan mengajak petugas puskesmas rutin turun melakukan kampanye pemenuhan gizi dan kebersihan.
Sebagai pilot project penanganan stunting di Indonesia, Japfa sudah merencanakan sebuah langkah penting. Yakni membangun kandang ayam petelur di sebuah tempat. Kapasitasnya 500 ekor induk ayam. Diproyeksi bisa menghasilkan 400-an butir telur per hari.
Nah, hasil dari kandang itulah yang sebagian dibagikan kepada anak-anak yang masuk pendataan penanganan stunting. Sebagian lagi dijual agar bisa menjadi sumber penghasilan bagi orang tua mereka, warga yang tinggal di sekitar kandang.
“Kita sedang menuju ke sana. Doakan semuanya lancar,” ucap Asbar.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Maros, Muhammad Yunus menyebut bahwa kolaborasi pemerintah, swasta, organisasi, dan masyarakat mutlak dibutuhkan. Kemudian melakukan komunikasi, edukasi, informasi, hingga intervensi terhadap sasaran stunting. Di situ jugalah Japfa bakal sangat terlibat.
Asbar mengingatkan bahwa Japfa punya moto “Berkembang Menuju Kesejahteraan Bersama”. Kesuksesan yang ingin dicapai mesti dibangun dengan hubungan yang saling menguntungkan, berdasarkan kepercayaan dan integritas.
Menyediakan kandang khusus untuk penanganan stunting sangat terkait dengan semboyan perseroan tersebut. Setiap anak akan mendapat paling tidak satu butir telur setiap hari. Orang tua mereka juga bisa mendapatkan rupiah dengan ikut menjadi pekerja di peternakan.
Telur-telur yang diperlakukan istimewa sejak kemunculannya dari induk itu akan membantu anak-anak mendapatkan asupan berkualitas. Entah direbus, digoreng, atau dibuat omlette, penelitian menunjukkan bahwa telur dapat mendorong tumbuh kembang anak.
Kehidupan seribu hari pertama setiap manusia bisa sangat tertolong dengan mengonsumsi telur. Sebuah penelitian yang dilakukan Lora Iannotti, seorang profesor dari Johns Hopkins University, Amerika Serikat menunjukkan, bayi berusia 6-9 bulan yang tinggal di daerah pegunungan Ekuador yang diberi makan satu butir telur per hari selama enam bulan, bisa terbebas dari stunting.
Tim peneliti melakukan kunjungan setiap pekan ke rumah keluarga para bayi untuk memastikan itu. Sekaligus melihat ada tidaknya efek samping seperti reaksi alergi pada bayi yang mengonsumsi telur. Hasil riset mendapati bayi yang makan telur berpotensi 47 persen lebih rendah untuk terkena stunting.
“Kami sangat terkejut dengan hasilnya. Intervensi ini terbukti sangat efektif mencegah stunting. Dan yang lebih penting, cara ini sangat terjangkau bahkan untuk populasi yang rentan pada defisiensi nutrisi,” ucap Lora, dilansir dari BBC.
Telur disebutnya cocok dijadikan makanan pendamping ASI bayi yang kapasitas lambungnya masih kecil. Telur juga adalah sumber nutrisi yang baik.
Itu juga yang membuat Japfa semakin memperhatikan telur-telur di tempat produksinya. Telur-telur itu diperlakukan dengan standar tinggi, menggunakan teknologi canggih, dan “dirawat seperti anak sendiri”.
Sebab anak-anak di luar sana sudah menantikan asupan gizi yang terjamin higienis untuk terselamatkan dari stunting. Anak-anak negeri yang kita harapkan bisa tumbuh sehat dan kuat. Di pundak yang sehat dan kuat itulah sejuta harapan bisa dititipkan. (imam dzulkifli)







