MATAMAROS.COM — Krisis air bersih terus dirasakan masyarakat di Kecamatan Bontoa. Warga di Dusun Panaikang, Desa Pajukukang, misalnya, harus mengandalkan sumur tadah hujan.
Salah seorang warga, Rina menyebutkan krisis air bersih sudah mulai dirasakan sejak 3 bulan terakhir. Tiap pagi atau sore sumur selalu dipadati warga.
“Kadang ada yang jalan berkilo-kilometer untuk ambil air,” katanya, Minggu, 6 Agustus 2023.
Saat ini, kata dia, sumur tadah hujan juga mulai mengering. Air yang tersisa, tercampur dengan sampah plastik, sehingga tak jarang terasa gatal usai digunakan.
“Kadang gatal, tapi mau bagaimana lagi,” ujarnya.
Memang ada pilihan lain bagi warga untuk menghadapi kondisi ini, yakni membeli air. Namun, harganya cukup mahal dan dirasa sangat membebani ekonomi keluarga.
“Air setangki harganya Rp160 ribu, itu hanya digunakan mandi dan mencuci. Biasanya cuma dipakai tiga hari,” ujarnya.
Warga lainnya, Asisah terpaksa mengambil air di sebuah empang. Hal ini dia lakukan karena akses ke sumur tadah hujan mencapai dua kilometer.
“Makanya kami cari empang yang airnya tidak asin untuk mandi dan cuci piring. Sedangkan untuk air minum kami beli air galon,” jelasnya.
Warga berharap pemerintah bisa memberikan solusi terhadap permasalahan yang terjadi tiap tahun ini. (ast)







