MATAMAROS.COM — Angka Stunting di Kabupaten Maros naik 4,1 persen dari tahun sebelumnya. Padahal anggaran stunting di Maros pada 2024 sebesar Rp5 miliar.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (DP3A Dalduk) Kabupaten Maros, Andi Zulkifli Riswan Akbar mengatakan, hingga Agustus 2024 ada 3.765 balita terkena stunting.
DP3A Dalduk memprediksi angka stunting meningkat salah satunya disebabkan oleh banyaknya ibu hamil yang jarang melakukan pemeriksaan.
“(Juga) kurangnya asupan gizi seperti protein, mineral saat mengandung, dan masih banyak ibu hamil yang suaminya merokok,” katanya, Rabu, 2 Oktober 2024.
Mantan Camat Turikale itu mengatakan, ada berbagi upaya yang dilakukan pihaknya untuk menekan angka stunting. Seperti melakukan asesmen terhadap kasus stunting sehingga dapat diketahui faktor penyebab utamanya. Kemudian melakukan pemantauan pemeriksaan kesehatan untuk balita/baduta dan ibu hamil di posyandu.
Riris, sapaan akrab Andi Zulkifli Riswan Akbar, menambahkan, pihaknya juga memasifkan program BAAS dalam penanganan kasus stunting serta bekerja sama dengan pihak-pihak swasta melalui CSR.
“Kami pastikan terpenuhi kebutuhan vitamin kepada remaja dan ibu hamil dan edukasi soal pernikahan dini,” jelas Sekretaris Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kabupaten Maros itu.
Pemerintah daerah juga sempat menjalankan program orang tua asuh anak stunting. Namun saat ini sedang dilakukan evaluasi.
“Sekarang sudah ada anak yang keluar dari usia baduta dan kami masih memeriksa hasil perkembangan program BAAS,” tuturnya.
Saat ini ada 49 orang yang menjadi orang tua asuh anak stunting di Maros. “Terdiri dari Forkopimda dan kepala-kepala OPD,” sebutnya.
Kecamatan dengan angka stunting tertinggi berada di Kecamatan Turikale sebanyak 477 kasus. Sementara kasus terendah berada di Kecamatan Mallawa dengan 54 kasus. (ast)







