Air adalah kehidupan. Masa depan yang didambakan hanya akan ada jika semua ikut menjaganya. Semua; termasuk para perusahaan tambang di negeri ini.
***
INI bermula pada suatu siang tahun 1901. Ketika bijih nikel itu ditemukan di sekitaran Pegunungan Verbeek, Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, yang di bawahnya membentang danau-danau indah dan purba.
Butuh setidaknya 67 tahun, tepatnya pada 1968, saat Vale (saat itu masih bernama PT Inco) mulai datang dan menjanjikan masa depan. Janji yang kemudian terbukti, Sebab bijih nikel yang ternyata adalah sumber kemakmuran itu ditambang dengan cara-cara penuh dedikasi, demi merangkai hari-hari mendatang yang diharapkan.
Nikel yang sudah melalui proses penyaringan di ruang sangat panas hingga 1.500 derajat celcius, dihilirisasi, lalu diangkut ke Pelabuhan Balantang dan diekspor ke Jepang. Kini ada 3.086 karyawan yang menggantungkan harapan dan asap dapur keluarganya di Vale dan 54 persen di antaranya adalah putra-putri lokal Luwu Timur serta 40 persen lainnya adalah orang-orang kelahiran Sulsel, Sulteng, dan Sultra.
Tetapi bagaimana lingkungannya? Bagaimana nasib lima danau serta 14 sungai di Luwu Timur? Di antara danau itu ada Danau Matano di Sorowako. Danau tektonik dengan kedalaman 590 meter. Matano menjadi danau terdalam di Asia Tenggara dan peringkat ke-8 di dunia.
Matano tersambung dengan Danau Towuti di bagian selatan. Danau Towuti adalah salah satu danau purba di dunia dengan usia jutaan tahun. Danau Towuti memiliki luas 561 kilometer persegi dan merupakan danau terluas kedua di Indonesia. Hanya kalah luas dari Danau Toba di Sumatera.
Sebelum menemukan jawabannya, mari mengikuti perjalanan saya, melihat dari dekat bagaimana air limpasan tambang dikelola PT Vale Indonesia Tbk, grup MIND ID.
***
Posisi matahari sudah agak meninggi hari itu, Sabtu, 3 Agustus 2024. Masih pagi tetapi sudah mendekati siang. Hasliana Alimuddin mengantar kami mengelilingi Lamella Gravity Settler (LGS) di Sorowako.

Hasliana mengenakan rompi oranye dan helm. Sepasang kakinya dibalut sepatu boot yang menutup sampai betis, persis yang saya dan teman-teman hari itu pakai. Standar keselamatan yang diberlakukan di seluruh area PT Vale Indonesia Tbk dan grup MIND ID, kepada setiap orang yang berkunjung, tak peduli siapapun Anda. Presiden RI saat itu, Joko Widodo pun memakai setelan yang sama selama di Sorowako.
LGS adalah tempat dan teknologi yang dihadirkan Vale untuk memastikan air limpasan, yang mengucur dari bukit-bukit yang sedang ditambang, bisa mengalir sampai jauh, termasuk ke Danau Matano, setelah kembali jernih.
Uniknya, teknologi LGS justru merupakan teknologi standar dalam penjernihan air untuk pengolahan bahan baku air minum. Serupa juga dengan yang dipakai PDAM. Teknologi LGS pertama untuk pertambangan di Indonesia ini merupakan hasil dua tahun riset dan kerja sama dengan BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi).
“Tak heran jika kejernihan dan kualitas air yang telah diolah di LGS seperti air mineral yang kerap kita minum,” ucap Ana, sapaan akrab Hasliana Alimuddin. Dia adalah Project Manager Mine Infrastructure Maintenance & Develompment PT Vale Indonesia Tbk. Tutur katanya pelan dan tenang. Hari itu dia meminta izin memakai masker karena sedang agak flu.
Beberapa hari sebelumnya, saat saya bertemu CEO PT Vale, Febriany Eddy, dia mengungkap bahwa kantong perusahaan mengeluarkan hingga USD3 juta atau setara Rp47,2 miliar untuk investasi LGS. Relatif mahal, namun bagi sosok yang kembali masuk dalam daftar 100 perempuan paling berpengaruh di Asia versi Fortune tahun 2024 itu, segala cara harus dilakukan untuk memastikan praktik pertambangan terbaik dan berkelanjutan.
“Pertambangan haruslah bertanggung jawab memastikan kehidupan hari ini dan masa depan. Kehidupan yang saya maksud mencakup semuanya; untuk manusia serta untuk ekosistem alam,” ucap Febri.
Febri menjamin, Vale mengejar keseimbangan profit, people, dan planet. “Bagi kami, kesejahteraan tak hanya diukur dari ekonomi, keuangan. Tetapi juga kualitas hidup. Buat apa gaji besar tetapi sesak napas karena alam tak terjaga?” sambung perempuan yang pernah bertugas selama 2,5 tahun diVale Base Metal Asia Pasifik dan Afrika yang berbasis di Brisbane, Australia tersebut.
Saya berjalan kaki mengitari LGS itu. Melihat pintu utama bekerja, menarik 4.000 meter kubik per jam dan langsung dibagi ke empat kompartemen, masing-masing 1.000 meter kubik per jam.
Di tengah-tengah ada semacam kolam yang ajaibnya; menjadi tempat hidup berbagai jenis ikan. Mereka saling berkejaran di bawah sana. Padahal, sebelum masuk ke LGS, air yang datang itu mengandung Total Suspended Solid (TSS) atau kekeruhan 1.707 miligram per liter dan chromium hexavalent (Cr) total 10 miligram per liter! Sangat keruh, berwarna cokelat. Itu sangat tidak sehat untuk mahluk hidup apapun.
Sebagai catatan, Cr itu merupakan logam berat dengan zat kimia yang tinggi. Sampai bisa digunakan untuk berbagai industri, di antaranya untuk pembuatan cat, pewarna, pigmen, dan bahkan baja anti karat.
Namun, LGS mengubah semuanya. TTS atau kekeruhan air setelah diolah di sana tersisa 8 miligram per liter dan Cr-nya tersisa 0,3 mg per liter! Berubah sangat drastis. Air menjadi bersih kembali dan baru setelah itulah dialirkan lagi ke mana-mana, termasuk Danau Matano.
LGS tersebut memiliki 120 pon atau kolam pengendapan. Tim bekerja tiga sif, sehingga ada kontrol 24 jam untuk memantau kadar TSS dan Cr.
Vale bahkan sampai melakukan pengecekan rutin terhadap air yang telah dilepas kembali ke danau. Hasilnya, pengukuran kadar TSS dan Cr di Danau Matano, Danau Towuti, hingga Danau Mahalona selalu berada jauh di bawah baku mutu yang telah ditetapkan pemerintah dan APHA (American Public Health Association) yang berbasis di Washington, Amerika Serikat.
Keesokan harinya, Minggu, 4 Agustus 2024, kami ke Danau Matano. Airnya benar-benar menghadirkan nuansa bening, seperti kata lagu Vidi Aldiano. Dan meminjam slogan dan jingle sebuah iklan, air (jernih) mengalir sampai jauh.
Teman-teman sampai berenang dan naik kano di danau itu. Saya yang tidak tahu berenang, hanya bisa berendam. Menenggelamkan kepala berkali-kali, mengempaskan segala penat deadline di redaksi.
Di beberapa sudut, saya melihat beberapa kelompok warga yang menghampar tikar. Mungkin mereka adalah sekumpulan sahabat atau kerabat yang tengah menikmati akhir pekan di danau yang airnya tak keruh, meski industri tambang kelas dunia, berada di sekitarnya.
Danau Matano dan danau-danau lain di Luwu Timur itu memang penting untuk dijaga. Itu danau-danau dengan kisah panjang. Umurnya diperkirakan berkisar antara 1-4 juta tahun. Termasuk dalam jajaran danau purba di planet ini.
Vale baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-56. Ada pesta rakyat dan berbagai acara. Grup musik Gigi didatangkan untuk menghibur masyarakat di lapangan terbuka. Selama lebih dari lima dekade, perseroan mampu menjaga kejernihan Danau Matano dan kualitas udara di Sorowako.
Saya telah membuktikannya dengan mata dan kepala sendiri. Selama lima hari di Sorowako, saya seperti berada di hutan nan sejuk. Dan memang banyak hutan di sana. Vale membuat kembali hutan setelah menambangnya.
Salah satu hutan buatan PT Vale diberi nama Hutan Himalaya. Luasnya mencapai 50 hektare dengan 40 jenis pohon. Kalau tidak datang langsung ke sana, Anda mungkin tak akan percaya kalau itu sebelumnya adalah lahan tambang. Kini, area itu sudah hijau dan lebat kembali. Terhitung sudah berusia 18 tahun, ditandai sejak pohon pertama ditanam oleh Menteri ESDM (kala itu), Purnomo Yusgiantoro pada 2006.
Sejauh ini, dari 5.226 hektare luas lahan yang dibuka Vale untuk menambang, sudah 3.580 hektare yang direklamasi dengan jumlah 4 juta pohon berbagai jenis, termasuk pohon-pohon endemik Luwu Timur.
Vale sampai membangun nursery atau lahan pembibitan sendiri. Bibit-bibit yang diambil di lahan yang akan ditambang dibawa ke nursery. Letaknya di Sorowako juga. Luasnya 2,5 hekatare, tempat yang mampu menyiapkan paling sedikit 700 ribu bibit tanaman per tahun untuk mereklamasi lahan pasca-pengolahan tambang di daerah itu. Semuanya juga butuh investasi dan biaya perawatan yang besar. Namun sekali lagi, bagi Vale, menjaga bumi lebih penting dari apapun.

Siang itu saya juga sempat mengitari nursery. Ikut menyiram pohon-pohon kecil itu, menghirup oksigennya, dan melupakan peliknya kehidupan.
Febri menuturkan, perseroan tidak mau main-main dalam menjalankan sustainable mining (praktik pertambangan berkelanjutan). Aktivitas penghijauan beriringan dengan aktivitas pertambangan yang terintegrasi. Tidak ditambang, lalu ditinggal begitu saja.
Vale bisa bertahan di Sorowako hingga lebih dari lima dasawarsa juga karena prinsip itu. Anugerah dari Tuhan berupa tanah yang mengandung bijih nikel terbaik, diambil dengan cara yang baik dan semestinya. Udara tetap segar. Air di Danau Matano, danau terdalam ke-8 di bumi itu juga masih terjaga.
Komitmen Grup
Praktik pertambangan berkelanjutan yang dilakukan Vale sejalan dengan BUMN Holding yang kini menjadi tempat mereka bernaung. Mining Industry Indonesia atau Mind ID. Perusahaan lain di bawah holding ini adalah PT Antam Tbk, PT Bukit Asam Tbk, PT Freeport Indonesia, PT Inalum, dan PT Timah Tbk.
“MIND ID hadir untuk kemakmuran Indonesia, kemajuan peradaban dunia, dan masa depan yang lebih baik,” begitu yang tertulis di situs resmi Mind Id.
BUMN holding pertambangan ini berjanji untuk selalu menjunjung tinggi prinsip-prinsip Environment, Social, and Governance (ESG).
Corporate Secretary MIND ID Heri Yusuf menyampaikan, air memiliki peranan penting dalam proses produksi maupun penunjang Grup MIND ID, sehingga memerlukan program pemanfaatan dengan tetap memastikan efisiensi air yang baik.
Grup MIND ID pun berupaya mengurangi pengambilan air baru dari alam, meningkatkan pemanfaatan kembali air dalam proses produksi maupun penunjang, serta memastikan kualitas air yang dialirkan ke badan air sesuai dengan baku mutu yang berlaku.
Pada ajang Festival Lingkungan, Iklim, Kehutanan, dan Energi Baru Terbarukan (LIKE) 2 2024 yang diadakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di Jakarta, 8 Agustus lalu, MIND ID memamerkan bagaimana grupnya memperlakukan air.
“Ini merupakan momentum bagi kami seluruh grup MIND ID memperlihatkan semakin bijak dalam penggunaan air, serta melakukan pengelolaan air secara berkelanjutan dengan memanfaatkan teknologi yang ramah iklim,” kata Heri.
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) memanfaatkan hasil pengolahan air limbah industri dan pertambangan maupun air limbah domestik, untuk dimanfaatkan kembali dalam proses penambangan maupun pengolahan mineral.
PT Bukit Asam Tbk (PTBA) memaksimalkan bioteknologi dengan implementasi constructed wetland. Model Floating Wetland System tersebut menggunakan pipa paralon yang berisi Akar Wangi dan Melati Air yang mampu menyerap logam berat seperti Fe (0.52 ppm/gr) dan Mn (2.28 ppm/gr).
PT Freeport Indonesia (PTFI) memiliki delapan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang dikelola sesuai regulasi Pemerintah Indonesia. Mutu air limbah dari semua instalasi itu dipantau secara berkala di antaranya parameter pH, kebutuhan oksigen biologi (BOD), total padatan tersuspensi serta minyak dan lemak, sesuai dengan baku mutu.
PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) mendorong implementasi teknologi dalam operasi Bendungan Sigura-gura dan Bendungan Tangga yang merupakan sumber energi PLTA untuk operasi perusahaan. Lewat implementasi teknologi maupun berbagai upaya konservasi, INALUM mempertahankan debit air untuk menjaga ekosistem wilayah sekitar Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba.
PT Timah Tbk (TINS) juga memanfaatkan hasil pengolahan air limbah industri dan pertambangan maupun air limbah domestik, untuk dimanfaatakan kembali dalam proses penambangan maupun pengolahan mineral di daerah operasional.
Nah, selanjutnya adalah PT Vale Indonesia Tbk. Anda sudah mendapat penjelasan detail sejak awal tulisan ini. Ditambah lagi bahwa Vale memanfaatkan sumber daya air sebagai pembangkit listrik.
Raksasa nikel di RI ini memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), yang digunakan untuk operasional energi fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) nikel milik perusahaan. Termasuk mengalirkan listrik juga untuk masyarakat.
Tiga PLTA dengan kapasitas 365 Mega Watt (MW) itu menjadi salah satu komitmen transisi energi bersih pada pabrik nikel.
Dengan adanya tiga PLTA itu, CEO Vale Febriany menyebut, saat ini perusahaan sudah tidak lagi menggunakan batu bara sebagai pembangkit listrik lantaran.
“Ya, di PT Vale, proses peleburan kita sudah 100 persen PLTA. Jadi, kita termasuk yang karbon intensitasnya paling rendah,” paparnya,

Tidak hanya untuk mengaliri listrik smelter atau pabrik pengolahan nikel milik INCO, Febriany mengklaim listrik dari PLTA milik perusahaan tersebut juga berkontribusi untuk melistriki penduduk sekitar pabrik hingga 10,7 MW.
Lihatlah, betapa berharganya air bagi Vale dan grup MIND ID.
Kalau ada waktu, main-mainlah ke Danau Matano. Berenang hingga menyelam di sana. Menikmati karunia Tuhan yang tetap dijaga sampai kini dan (seperti kata Febriany) sampai nanti; pada masa depan ketika waktunya anak-cucu kita lagi yang merasakannya. Karena hidup bukan hanya tentang kita dan hari ini. Hidup juga untuk generasi dan hari-hari mendatang.
Dari dermaga Danau Matano kami menyeberang ke Laa Waa River Park, sebuah destinasi “baru” di Desa Matano, Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur. Kami menaiki perahu jenis raft dengan waktu tempuh satu jam.

Kami kembali main air di sana, mencemburkan diri dan segala resah. Laa Waa River Park juga menjadi titik pertemuan antara air sungai dan air danau dengan suhu yang berbeda. Saya mencelupkan kaki kanan di air danau yang hangat dan kaki kiri di air sungai yang dingin.
Matano benar-benar masih terjaga, bisa dinikmati setiap saat oleh siapa pun yang berkunjung. Datang, buktikan, dan berendamlah di sana. (imam dzulkifli)







