NEWS  

Bekas Kandang Ayam Jadi “Sekolah”, Realita Pendidikan di Ujung Maros

Para siswa tetap semangat belajar di sebuah kolong rumah Dusun Bara, Tompobulu. (FOTO: ASTY UTAMI/MATAMAROS)

MATAMAROS.COM — Di bawah kolong rumah bekas kandang ayam, mimpi-mimpi kecil sedang dirangkai.

Tanpa dinding, tanpa sekat, bahkan tanpa lantai. Hanya tanah merah dan papan tulis tunggal menjadi saksi perjuangan anak-anak Dusun Bara, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros menyimak pelajaran, dan menyebut satu per satu huruf yang mereka kenal sebagai pintu masa depan.

Di Hari Pendidikan Nasional 2025 ini, sekolah itu barangkali adalah potret dari kenyataan pendidikan di pelosok negeri.

Sebuah kelas jauh dari SD Inpres 238 Bonto Parang, yang benar-benar jauh dari kata layak. Kolong rumah itu dulunya adalah tempat ayam-ayam dipelihara.

Kini, papan-papan reot dan tanah merah menjadi tempat puluhan anak dari kelas 1 hingga kelas 6 menimba ilmu bersama.

Satu papan tulis menjadi pusat perhatian. Guru harus bergantian menjelaskan pelajaran untuk siswa lintas kelas dalam satu waktu.

“Kalau ayam lewat di tengah pelajaran, itu biasa. Tapi paling susah karena kami semua gabung. Jadi harus dengar pelajaran kelas lain juga,” tutur Alfin, siswa kelas enam yang bercita-cita menjadi tentara.

Ia ingin menjadi yang pertama dari kampungnya berseragam loreng, berdiri tegap, membela negara.

Alfin adalah satu dari 73 murid yang terdaftar di sekolah ini.

Meski ruang belajar sangat terbatas, semangat mereka tak ikut mengecil.

Baru belakangan ini, bantuan dari pihak swasta menghadirkan meja dan kursi lipat yang memberi kenyamanan lebih baik dari papan panjang tempat mereka dulu menulis.

Sekolah induk di Bonto Parang berjarak 10 kilometer dari Dusun Bara dan 50 kilometer dari kota Maros. Bukan hanya jauh, medan menuju ke sana nyaris mustahil dilalui kendaraan kecil.

Tak ada transportasi umum. Tak semua orang tua mengizinkan anak-anak mereka tinggal jauh demi sekolah.

“Saya tiga bersaudara, tapi yang sekolah cuma dua. Satunya bantu orang tua di kebun,” lanjut Alfin.

Itulah sebabnya sekolah ini sangat vital. Di sinilah anak-anak bisa tetap menuntut ilmu, sekaligus pulang membantu orang tua di sawah atau ladang.

Ketika musim panen atau tanam tiba, kehadiran siswa bisa menyusut drastis, hanya 20 persen yang hadir di kelas.

Sekolah ini bukan buah program negara. Ia tumbuh dari tekad seorang anak kampung bernama Suryadi.

Tahun 2018, melihat anak-anak di sekitarnya nyaris buta huruf, ia mulai mengajar seorang diri. Tanpa upah. Tanpa papan tulis. Ia hanya ingin anak-anak tahu cara membaca dan menulis.

“Banyak orang tua mereka tidak bisa baca tulis. Saya tidak ingin itu berulang,” kata Suryadi lirih.

Selama lebih dari empat tahun, ia mengajar sendiri. Baru pada 2023, perjuangannya diakui pemerintah. Sekolah ini resmi menjadi “kelas jauh” dari SD Inpres 238 Bonto Parang.

Kini, ada tiga guru tetap di sana semuanya honorer, digaji Rp600 ribu per bulan, diterima tiga bulan sekali.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Maros, Andi Patiroi, menyampaikan pembangunan ruang kelas permanen telah masuk dalam program prioritas dan direncanakan masuk dalam anggaran perubahan tahun ini atau APBD pokok tahun depan.

“Pak Bupati sudah pernah meninjau langsung ke lokasi. Kami sudah bantu tenda darurat, alat tulis, dan seragam. Untuk ruang kelas permanen, akan kita anggarkan segera,” janji Patiroi. (asty utami)