MATAMAROS.COM — Angin kencang menerjang Desa Moncongloe, Kecamatan Moncongloe, Kabupaten Maros, Minggu, 1 Februari 2026. Akibatnya, 10 rumah warga dilaporkan mengalami kerusakan.
Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 10.30 Wita
Kepala Desa Moncongloe, Muhammad Iqbal, mengatakan, rumah warga yang terdampak tersebar di Dusun Panaikang, Dusun Pamanjengan, dan Perumahan Findaria Mas 2.
“Di Dusun Panaikang dua rumah, Dusun Pamanjengan satu rumah, dan di Perumahan Findaria Mas 2 tujuh rumah,” katanya.
Selain kerusakan rumah, kejadian tersebut juga menyebabkan satu orang warga mengalami luka.
Korban merupakan seorang anak kecil yang berasal dari Dusun Panaikang dan saat ini sedang menjalani perawatan di uskesmas setempat.
Iqbal menambahkan, saat angin kencang terjadi, para pemilik rumah berada di dalam rumah masing-masing.
Hingga kini, warga terdampak masih bertahan di rumah mereka sambil melakukan perbaikan darurat.
“Sementara menunggu terpal dan melakukan perbaikan seadanya,” imbuhnya.
Terkait besaran kerugian material, pihak desa belum dapat memastikan nilai kerugian yang dialami warga.
Pemerintah desa juga telah melaporkan kejadian tersebut kepada pemerintah kabupaten. “Tapi belum ada tim yang datang,” pungkasnya.
Ketua Tim Kerja Bidang Meteorologi BMKG Wilayah IV Makassar, Rizky Yudha, mengatakan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpeluang terjadi di wilayah Kabupaten Maros.
Selain hujan lebat, kondisi cuaca tersebut juga berpotensi disertai kilat dan angin kencang di sejumlah wilayah.
“Intensitas curah hujan kategori tinggi masih akan berlangsung sepanjang Februari,” katanya, Kamis, 29 Januari 2026.
Ia menjelaskan, secara umum curah hujan diperkirakan terjadi secara merata di hampir seluruh wilayah Kabupaten Maros.
“Masih merata kecuali di Kecamatan Mallawa, yang curah hujannya masuk kategori menengah,” katanya.
BMKG juga memprediksi akumulasi curah hujan bulanan di Maros masih tergolong tinggi, bahkan berpotensi melebihi 300 milimeter.
Tak hanya hujan lebat, potensi angin kencang juga masih menyertai kondisi cuaca di wilayah tersebut.
Hal ini dipengaruhi oleh masih aktifnya monsun Asia serta tingginya potensi pembentukan awan cumulonimbus.
“Kecepatan angin umumnya berkisar antara 10 hingga 40 kilometer per jam, namun pada kondisi tertentu bisa lebih dari itu,” jelasnya.
Dengan kondisi tersebut, BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, dan angin kencang.
Secara umum, prakiraan musim hujan di wilayah Maros dan sekitarnya diperkirakan masih akan berlangsung cukup panjang. Untuk wilayah pesisir, musim hujan diprediksi bertahan hingga April 2026. (ast)







