MATAMAROS.COM — Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur Kabupaten Maros, Minggu, 22 Februari 2026, menyebabkan banjir di sejumlah wilayah.
Dusun Kampala, Desa Bontomatene, Kecamatan Marusu, menjadi salah satu titik terdampak cukup parah. Di Kecamatan Tompobulu, dua desa juga ikut terendam.
Di Dusun Kampala, ketinggian air mencapai 30 sentimeter hingga satu meter.
Genangan merendam akses jalan menuju Kota Maros sehingga kendaraan roda dua dan roda empat tidak dapat melintas.
Akibatnya, aktivitas warga terganggu. Sejumlah warga mengevakuasi kendaraan ke tempat yang lebih tinggi dan berjalan kaki menembus banjir. Tak sedikit pengendara yang memilih memutar balik.
Sebagian warga yang memiliki perahu menggunakannya untuk beraktivitas.
Sementara warga lainnya memilih bertahan di dalam rumah demi menjaga barang berharga.
Salah seorang warga, Sangkala, mengatakan banjir mulai terjadi sejak sore hari setelah hujan deras terus mengguyur wilayah tersebut.
“Banjir bahkan menutup akses jalan, jadi sulit dilalui kendaraan. Warga sekarang banyak pakai perahu untuk beraktivitas,” katanya.
Warga lainnya, Paharuddin, menyebut banjir sudah empat kali terjadi sepanjang Januari hingga Februari tahun ini.
Selain melumpuhkan aktivitas, banjir juga merusak tanaman padi dan tambak ikan akibat meluapnya Sungai Maros.
“Baru dipupuk padinya sudah terendam, tambak juga rusak. Ini sangat berdampak ke ekonomi warga,” ujarnya.
Selain di Marusu, banjir juga merendam dua desa di Kecamatan Tompobulu, yakni Desa Tompobulu di Dusun Tombolo serta Desa Pucak yang meliputi Dusun Pucak dan Dusun Bontosunggu.
Berdasarkan video yang beredar di media sosial, ketinggian air mencapai betis orang dewasa dan menggenangi sejumlah rumah warga.
Camat Tompobulu, Hamril, mengatakan wilayah tersebut memang kerap terdampak banjir setiap tahunnya.
“Memang daerah ini hampir tiap tahun terdampak,” katanya.
Ia menambahkan, pihak kecamatan masih melakukan pendataan jumlah kepala keluarga yang terdampak.
“Masih kami pantau dan kumpulkan dulu data-datanya,” ujarnya.
Sementara itu, Bendung Leko Pancing di Desa Pucak, Kecamatan Tompobulu, sempat berstatus awas sebelum akhirnya turun menjadi siaga.
Petugas Operasi Bendung Leko Pancing, M Syamsir, mengatakan pada pukul 03.40 Wita ketinggian air mencapai 160 sentimeter di atas mercu. Normalnya, ketinggian air berada pada kisaran 0 hingga 50 sentimeter di atas mercu.
Status waspada berlaku pada ketinggian 50 hingga 100 sentimeter di atas mercu. Status siaga pada 100 hingga 200 sentimeter. Jika lebih dari 200 sentimeter, maka status menjadi awas.
“Saat ini ketinggian air itu mencapai 160 cm di atas mercu, status siaga,” kata Syamsir.
Ia menyebut debit air yang melewati mercu mencapai 473.738 liter per detik, sementara debit air yang masuk ke pintu pengambilan atau intake mencapai 2.389 liter per detik.
“Debit air di intake inilah yang ke saluran yang dimanfaatkan air baku dan irigasi,” ujarnya.
Sebelumnya, tepat pukul 01.00 Wita dini hari, kondisi bendung sempat berstatus awas karena ketinggian air mencapai 300 sentimeter di atas mercu.
“Namun saat ini sudah mulai surut, ketinggian air sudah 160 cm dengan status siaga,” bebernya. (ast)







