MATAMAROS.COM – Warga Desa Ampekale, Kecamatan Bontoa, kembali menghadapi krisis air bersih.
Salah seorang warga, Hasnah, mengatakan, kondisi yang telah berlangsung selama sekitar 20 tahun itu memaksa warga membeli air untuk memenuhi kebutuhan minum dan memasak.
Ia mengatakan krisis air bersih tahun ini telah berlangsung sekitar lima bulan. “Setiap tahun begini kondisinya,” katanya, Jumat, 24 Juli 2026.
Selama musim kemarau, warga hanya mengandalkan air dari sumur tadah hujan untuk mandi dan mencuci. Namun, air sumur mulai mengering, berwarna keruh, dan memiliki rasa agak asin sehingga tidak layak dikonsumsi. Sementara untuk kebutuhan minum dan memasak, warga tidak memiliki pilihan selain membeli air bersih dari penjual air keliling dengan harga Rp2.500 per jeriken.
“Untuk mandi sama cuci pakai air sumur. Kalau minum dan masak beli air. Satu jeriken Rp2.500. Sebulan bisa habis sekitar Rp500 ribu,” ujarnya.
Perjuangan memperoleh air bersih juga tidak mudah. Setiap hari Hasnah harus berjalan lebih dari satu kilometer sambil mendorong gerobak menuju sumur untuk mengambil air. Aktivitas tersebut dilakukan hingga tiga kali sehari demi memenuhi kebutuhan air keluarganya. “Tapi bagaimana lagi karena memang tidak ada pilihan,” tuturnya.
Bupati Maros, Chaidir Syam mengatakan dampak musim kemarau mulai dirasakan di sejumlah wilayah. Puncak fenomena El Nino diperkirakan terjadi pada Agustus 2026, sedangkan hujan diprediksi baru akan kembali turun pada Oktober mendatang.
Menurut Chaidir, sedikitnya enam kecamatan di Kabupaten Maros telah terdampak kekeringan. Wilayah yang mengalami krisis air bersih cukup serius di antaranya kecamatan Bontoa, Lau, Marusu, dan Maros Baru.
“BPBD sudah stand by dan beberapa stakeholder mulai menyalurkan air bersih ke daerah-daerah yang mengalami kekeringan,” katanya.
Pemerintah Kabupaten Maros kini menyiapkan berbagai langkah penanganan untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga terdampak.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Maros bersama sejumlah instansi terkait mulai mendistribusikan bantuan air bersih ke wilayah yang mengalami kekurangan pasokan.
Selain memenuhi kebutuhan rumah tangga, pemerintah juga mengantisipasi dampak kekeringan terhadap sektor pertanian melalui pompanisasi, yakni pengambilan dan penyaluran air menggunakan mesin pompa dari sumber air yang masih tersedia menuju lahan pertanian.
Armada penyuplai air juga akan dimanfaatkan untuk membantu memenuhi kebutuhan air di lahan pertanian yang mulai mengalami kekeringan.
Pemerintah berharap langkah tersebut dapat meminimalkan dampak musim kemarau terhadap kebutuhan air masyarakat dan sektor pertanian. (ast)







